Perkawinan-Perkawinan Agung Keluarga Istana: Budaya dan Politik di Yogyakarta dan Surakarta Awal Abad XX
ILMIAWATI SAFITRI, Dr. Sri Margana, M.Phil
2020 | Tesis | MAGISTER SEJARAHINTISARI Perkawinan-perkawinan Agung Keluarga Istana Budaya dan Politik di Yogyakarta dan Surakarta pada Awal Abad XX Tesis ini membahas upaya-upaya para pemimpin swapraja Yogyakarta dan Surakarta dalam mempererat kembali persaudaraan dan pada saat yang sama mengukuhkan identitas budaya masing-masing melalui jalinan perkawinan pada sekitar awal abad ke-20. Kajian difokuskan pada tiga ritual perkawinan agung yang melibatkan empat istana di Yogyakarta dan Surakarta: Kesultanan, Kesunanan, Pakualaman dan Mangkunegaran. Kajian didasarkan pada sumber primer berupa Serat Pranatan Lampah-lampah perkawinan yang dikeluarkan oleh keempat swapraja itu dipadukan dengan sumber primer lain seperti babad, film dokumenter, koran dan arsip. Sumber sekunder berupa wawancara dengan para ahli dan kerabat kraton, bukudan artikel yang ditulis oleh para peneliti sejarah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pasca tiga perkawinan agung kerajaan Jawa itu menjadi titik tolak dan momentum yang tepat bagi kemunculan kembali potensi politik raja-raja Jawa yang pada awal abad ke-20 semakin redup dengan dominasi kekuatan kolonial. Ritual perkawinan itu sendiri seolah menjadi penguat dari skema politik kolonial yang telah mempermanenkan pembagian kekuasaan penerus Mataram itu menjadi empat kerajaan melalui tradisi budaya masingmasing. Serat Pranatan Lampah-Lampah Krama, sebagai pedoman utama organisasi perkawinan memberikan gambaran yang kuat bahwa bayang-bayang kekuasaan kolonial tidak hanya terbatas pada kekuasaan politik, namun juga budaya. Tidak dipungkiri pula bahwa perkawinan agung dari keempat kerajaan ini juga melahirkan percampuran budaya dan kemudian menjadi kiblat bagi masyarakat di luar tembok istana. Kata Kunci: Upacara perkawinan, budaya, politik, Jawa, sejarah.
ABSTRACT The Royal Weddings: Culture and Politics in Yogyakarta and Surakarta in the Early Twentieth Century This thesis discusses cultural endeavor made by the four realms in Yogyakarta and Surakarta in resurrecting their relationship and strengthening their cultural identity through royal married. This study focuses on three royal weddings involving four Royal Families in Yogyakarta and Surakarta: Yogyakarta Sultanate, Surakarta Sunanate, Duchy of Pakualaman and Duchy of Mangkunegaran. The primary data employs for this study are Serat Lampah-Lampah issued by the Javanese monarchies. Other sources such as babad, documentary films, newspaper and archives are also analysed as the primary sources. Books, articles and interviews with experts and court family members are treated as secondary data. The findings of this research reveals that the royal wedding in the early twenties symbolised the re-emergence of Javanase monarchs�¢ï¿½ï¿½ political legitimacy vis-��� -vis colonial power domination. In addition, they represented colonial political scheme dividing the kingdom of Mataram into four parts with their respective cultural traditions. Serat Pranatan Lampah-Lampah Krama, the guidance book of royal wedding, describes that colonial power domination does not only occur in politics but also in culture. It affirms that the royal weddings results in a cultural mixing and now becomes the trendsetter for commoners. Keywords: Royal wedding, culture, politic, Java, history
Kata Kunci : Upacara perkawinan, budaya, politik, Jawa, sejarah.