Kuasa dan Kemiskinan dalam Karya Sastra Ekonomi-Politik Novel Gadis Pantai Karya Pramoedya Ananta Toer
TARI PURWANTI, Prof. Dr. Irwan Abdullah
2020 | Tesis | MAGISTER ANTROPOLOGIKarya sastra, seperti novel, tak ubahnya seperti catatan perjalanan pengarang yang penuh dengan informasi dan data-data faktual yang berasal dari penelitian mendalam dan pengalaman yang mengakar kuat di dalam pemikiran pengarangnya sehingga menarik untuk dikaji secara antropologis. Dalam ilmu antropologi sendiri, dikenal dua cabang ilmu yang dapat dijadikan sebagai dasar dan piranti untuk membedah sebuah karya sastra, yaitu antropologi sastra dan antropologi linguistik. Kedua cabang ilmu tersebut mampu mengungkapkan simbol-simbol yang secara implisit terkandung dalam sebuah karya sastra, yang dalam penelitian ini adalah novel, yang tentu tidak terlepas dari bahasa sebagai alat komunikasinya. Dalam penelitian ini, keduanya digunakan untuk menemukan simbol-simbol yang merepresentasikan persoalan kekuasaan yang berimbas pada permasalahan sosial budaya yaitu kemiskinan. Sehingga nilai-nilai simbolik tersebut dibedah dalam analisis antropologis untuk melihat bagaimana kemiskinan secara struktural dan kultural terus terpelihara, disamping juga kekuasaan yang selalu dipertahankan status quo-nya melalui berbagai institusi, termasuk agama. Penelitian ini bertujuan untuk membedah novel melalui analisis simbolik dan mendeskripsikan kuasa dan kemiskinan yang direpresentasikan di dalam novel karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Gadis Pantai, juga menjelaskan bagaimana sebuah fiksi fantasi karangan manusia dalam wujud karya sastra mengangkat beragam fenomena realitas sosial yang terjadi dalam masyarakat, dan menjelaskan konflik serta pesan yang ingin disampaikan oleh penulisnya. Metode yang digunakan dalam penelian ini adalah wacana kritis melalui content analysis, dengan membedah dan menganalisis data-data yang didapatkan dari novel. Sedangkan teori yang digunakan yakni menggunakan teori ekonomi politik dengan fokus kepada hubungan kekuasaan dan kemiskinan kultural. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan subordinatif antara priyayi dengan wong cilik dalam kebudayaan Jawa pada masa lalu di satu sisi dapat menaikkan derajat wong cilik melalui institusi perkawinan, namun di sisi lain juga dapat melemahkan dan memenjarakan wong cilik, terutama perempuan, yang dapat dikatakan sebagai korban dan konsekuensi dari sistem feodalis. Selain itu, pelanggengan kekuasaan berimbas pada kelanggengan kemiskinan, karena wong cilik tidak diberi kesempatan untuk naik status sosial, dan golongan priyayi selalu mempertahankan statusnya.
Literature work, such as novels, especially scientific novels, is like the author's fieldnote which filled with information and factual data derived from in-depth research and deep-rooted experience in the author's thoughts so that it is interesting to study anthropologically. In anthropology itself, there are two branches of science that can be used as a tool and principle for dissecting a literary work, namely literary anthropology, and linguistic anthropology. Both branches of science are able to express the symbols contained in a literary work, which of course is inseparable from language as a communication tool. In this research, both of them are used to find symbols that represent the problem of power which has an impact on socio-cultural problems, namely poverty. So that these symbolic values are dissected in anthropological analysis to see how poverty is structurally and culturally maintained, and legitimizing power that is constantly maintained by the status quo through various institutions, including religion. The aim of this research is to dissect the novel through symbolic analysis and describe the poverty and wealth that appears from the novel of Gadis Pantai by Pramoedya Ananta Toer, also explains how literary works as fiction can raise social reality that occurs in society, determine the message to be conveyed by Pramoedya Ananta Toer in a Gadis Pantai. This research uses content analysis method by dissecting and analyzing data obtained from the novel. Whereas the theory used is using political economy theory with a focus on power relations and cultural poverty. This research shows that there is subordinative relationship between priyayi and wong cilik in Javanese culture in the past, where can, on the one hand, raise the degree of the wong cilik through marriage institutions, and can also weaken and imprison wong cilik, especially women, which can be said to be victims and consequences of feudalism. Besides, the perpetuation of power has leverage on the permanence of poverty, because the grassroots are not allowed to advance their social status, and the priyayi always maintain their status.
Kata Kunci : Power, Poverty, Wealth, Political Economy, Classic Novel