BRIKOLASE SEBAGAI STRATEGI PENCIPTAAN SANGGIT LAKON ANTASENA GUGUR, BOGADHENTA GUGUR, DAN ABIMANYU GUGUR
SRI KUNCORO, Dr. GR. Lono Lastoro Simatupang, M.A.; Prof. Dr. Timbul Haryono, M.Sc.
2019 | Disertasi | DOKTOR PENGKAJIAN SENI PERTUNJUKAN DAN SENI RUPAIntisari Brikolase sebagai Strategi Penciptaan Sanggit Lakon Antasena Gugur, Bogadhenta Gugur, dan Abimanyu Gugur Fakta cerita yang ditunjukkan sanggit lakon Antasena Gugur, Bogadhenta Gugur, dan Abimanyu Gugur menampilkan gejala kesejajaran. Kesejajaran ditandai adanya kemiripan, keberlainan, dan keberulangan. Kemiripan, keberlainan, dan keberulangan fakta cerita ini merupakan praktik tafsir. Dalam praktik tafsir, gejala dipahami sebagai memiliki makna atau nilai. Bekerjanya pemahaman dalam menafsirkan teks ini dikenal sebagai hermeneutika. Dalam estetika pedalangan, lakon dan sanggit merupakan dasar berpijak pengekpresian teknik dan garap unsur pakeliran. Lakon dan sanggit sesungguhnya merupakan dua hal yang menyatu. Lakon merupakan manifestasi dari sanggit yang diterapkan dalam bangunan lakon wayang. Lakon wayang dapat diibaratkan sebuah pola, motif atau variasinya sangat bergantung pada sanggit masing-masing dalang. Lakon yang sederhana dapat menjadi rumit dan menarik apabila dalang atau penggubah lakon mampu mengolah permasalahan di dalam lakon. Sanggit juga dapat berarti interpretasi dalang terhadap sebuah karya pedalangan sebelumnya. Dalam pengertian interpretasi tersebut perubahan sedikitpun dari karya pedalangan yang sudah ada dapat dikategorikan sebagai sanggit. Dengan demikian, sanggit lakon merupakan hasil interpretasi dalang terhadap alur cerita wayang, dengan harapan dapat menjadi suatu pertunjukan yang menarik dan berkualitas atau indah seturut estetika pedalangan. Dalang dalam menggubah lakon dapat mengembangkan dari sanggit yang sudah ada ataupun baru sama sekali. Oleh karena sanggit adalah hasil interpretasi atas lakon yang lain, maka kesejajaran sebagai kemiripan, keberlainan, dan keberulangan tidak dapat dihindarkan. Sanggit lakon kemudian muncul sebagai rangkaian praktik yang disatu-padukan dan disusun secara rapi sehingga menghasilkan solusi bagi persoalan nyata, yakni pergelaran estetis yang merupakan brikolase. Pergelaran estetis atau brikolase yang kemudian terjadi adalah konstruksi baru yang berubah seiring ditambahkannya alat, metode, dan teknik baru ke dalam persoalan. Sebagai bricoleur, dalang mempraktikan kajian budaya sebagai suatu brikolase yang pilihan praktiknya berciri pragmatis, strategis, dan refleksif diri dalam menciptakan sanggit.. Dalang memanfaatkan sarana kepakarannya sendiri, dengan menggunakan strategi, metode, data-data empiris apapun yang ada. Jika ada keharusan untuk menemukan alat baru, atau menggabungkannya menjadi satu, dalang pasti akan melakukannya. Sanggit yang merupakan brikolase ini mengungkap adanya keberagaman penciptaan yang memperlihatkan adanya irisan-irisan tertentu dari praktik pergelaran yang ditafsir memiliki kesejajaran.
Abstract: Bricolage as a Strategy for Creating Sanggit Lakon Antasena Gugur, Bogadhenta Gugur, and Abimanyu Gugur The facts of the story shown by Antasena Gugur, Bogadhenta Gugur, and Abimanyu Gugur plays, appear of alignment. Alignment is marked by similarity, disparity, and repetition. The similarity, diversity, and repetition of the facts of this story are interpretive practices. In the practice of interpretation, symptoms are understood as having meaning or value. The workings of understanding in interpreting this text are known as hermeneutics.In the aesthetics of puppetry, the play and the sanggit are the basis of the technique of expressing and working on elements of pakeliran. Act and sanggit are actually two things that come together. The play is a manifestation of the bun applied in the puppet play building. Wayang play can be likened to a pattern, motive or variation is very dependent on the awkwardness of each puppeteer. A simple play can be complicated and interesting if the puppeteer or composer is able to process problems in the play. Sanggit can also mean the mastermind's interpretation of a previous puppet work. In the sense of "interpretation", the slightest change from the existing puppetry works can be categorized as a sanggit. Thus, the sanggit play is the result of the mastermind's interpretation of the wayang storyline, hoping to become an interesting and quality or beautiful performance according to the puppet aesthetics. The mastermind in composing the play can develop from an existing or completely new bail.Because sanggit is the result of interpretation of other plays, the alignment as similarity, difference and repetition cannot be avoided. The skunks of the play then emerge as a series of unified and neatly arranged practices so as to produce a solution to the real problem, namely the aesthetic performances which are bricolage. The aesthetic performance or bricolage that then occurs is a new construction that changes as new tools, methods and techniques are added to the problem. As a bricoleur, the puppeteer practices cultural studies as a bricolage whose pragmatic, strategic and self-reflexive choices in practice create sanggit. Dalang uses his own means of expertise, using strategies, methods, whatever empirical data exists. If there is a need to find new tools, or combine them into one, the mastermind will definitely do it. Sanggit, which is a bricolage, reveals the existence of a variety of creations that show certain slices of performance practices that are interpreted as having parallels.
Kata Kunci : Hermeneutika, Sanggit, Kesejajaran, Brikolase.