Laporkan Masalah

STRATEGI ADAPTASI PAGUYUBAN OJEK POSTAKA TERHADAP HADIRNYA OJEK ONLINE DI STASIUN LEMPUYANGAN YOGYAKARTA

SEPTIAWAN JIWANDONO, Dr. Bambang Hudayana, M.A.

2018 | Skripsi | S1 ANTROPOLOGI BUDAYA

Ojek sebagai usaha jasa informal yang terjebak dalam sistem tradisional, di masa sekarang harus berhadapan dengan ojek online yang datang membawa serangkaian teknologi maupun sistem baru. Kemunculan ini pada hakikatnya akan menimbulkan suatu keadaan abnormal karena berpotensi terhadap perubahan sosial-budaya yang selama ini terbentuk dan berjalan sekian lama. Konflik yang terjadi antara dua subjek pemilik budaya dapat di lihat sebagai refleksi pada tingkat yang lebih ekstrim atas implikasi dari pergesekan dua budaya itu sendiri. Oleh sebab itu, perlu adanya upaya mengkondisikan kembali sekaligus mempertahankan eksistensi di ranah pasar transportasi, terutama mereka yang bergerak di sektor informal. Fenomena ini dirasa cukup penting dan menarik untuk di bahas dalam kajian Antropologi Ekonomi. Penelitian ini dilakukan terhadap perkumpulan ojek Paguyuban Postaka yang telah lama menggantungkan penghasilannya di kawasan Stasiun Lempuyangan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik observasi partisipasi. Peneliti juga mengedepankan wawancara mendalam guna memperoleh data yang relevan terhadap kehidupan Paguyuban Postaka. Informan dipilih melalui satu informan kunci lalu didapatkan informan selanjutnya. Selain itu peneliti juga melakukan kajian pustaka untuk mempertegas sekaligus membedakan dengan penelitian sebelumnya. Analisa dilakukan dengan menggunakan kerangka berpikir strategi adaptasi. Observasi Partisipasi dan Wawancara mendalam mulai dilakukan pada bulan Oktober 2017 hingga Maret 2018. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana ojek yang secara garis besar terorganisasi dalam satu wadah berbentuk Paguyuban Postaka mengupayakan strategi beserta langkah yang diambil untuk beradaptasi semenjak munculnya eksistensi ojek online. Hasil dari penelitian ini adalah adanya suatu upaya bertahan dari Paguyuban Postaka dengan mengedepankan nilai kultural yang tercermin dari cara mereka menentukan suatu putusan melalui musyawarah untuk memecahkan problema yang kini dihadapi. Langkah yang diambil adalah mengakses jaringan kerjasama dengan komunitas lain di sekitar kawasan Stasiun Lempuyangan dan menghasilkan sistem zonasi sebagai refleksi atas menjaga iklim persaingan natural yang sudah terbentuk semenjak lama. Sistem zonasi ini juga mengedepankan konsep win-win solutions karena memahami bahwa ojek online pun memiliki hak untuk mengakses penumpang di Stasiun Lempuyangan. Selanjutnya secara kolektif internal juga terdapat serangkaian siasat untuk menarik kembali minat penumpang terhadap kelompok konvensional. Rangkaian stretegi ini pun tetap mengedepankan nilai kultural yang didasarkan terhadap pengalaman mereka sebagai tukang ojek di stasiun. Selain itu Paguyuban juga menciptakan sistem penyisihan keanggotaan guna menyaring dan menjaga loyalitas maupun identitas setiap anggotanya.

Motor-taxi as an informal business services which trapped into a traditional system, has to deal with online-motor-taxi that comes with a series of new technologies and systems. This appearance is essentially causing something abnormal because of the potential for socio-cultural change which has been formed and running for so long. Conflict between the two subjects of the cultural owner can be seen as a reflection at a more extreme level over the implications of the friction of the two cultures themselves. There for, it is necessary to re-condition and maintaining existence in the realm of transportation market, especially those in the informal sector. This phenomenon is considered quite important and interesting to be discussed in the framework of economic anthropology studies. This study was conducted on motor-taxi associations Paguyuban Postaka who has long hung the income around Lempuyangan Train-Station. The method used is qualitative approach with observation participant technic. Researcher put forwarded in-depth interviews to obtain relevant data on the life of Paguyuban Postaka. Informant selected through one key-informant then got the next informant. Moreover, researcher also do the literature study to reinforce and distinguish it from previous study. The analysis is done by using adaptation-strategy-framework. The observation participation and in-depth interview started to do from October 2017 until March 2018. This study aimed to understand how motor-taxi which are broadly organized in one shaped container called Paguyuban Postaka work out the strategy along with the steps taken to adapt since the appearance of the existance of online-motor-taxi. The result of this study is presence of an effort of endurance from Paguyuban Postaka by promoting cultural values which is reflected in the way they make decisions through deliberations to solve the problems that are now facing. The steps they are taken is accessing the cooperation network with the other community around Lempuyangan Train-Station and produce a zoning system as a reflection of keeping the natural competition climate that has been formed for a long time. This zoning system also put forward win-win-solutions concept because they understand that the online-motor-taxi also has the right to access the passenger in Lempuyangan Train-Station. Then collectively internal, there are also series of tactics to recouping passenger interest of the conventional group. This strategy of tactics put forward cultural values based on their experience as motor-taxi driver in train-station. Furthermore, the community also creating a membership allowance system to filter and maintain the loyalty and identity of each member.

Kata Kunci : strategi adaptasi, Paguyuban Postaka, ojek online, Stasiun Lempuyangan.

  1. S1-2018-319956-abstract.pdf  
  2. S1-2018-319956-bibliography.pdf  
  3. S1-2018-319956-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2018-319956-title.pdf