PERNIKAHAN KAPEL DAN INFERIORITAS MASYARAKAT JEPANG: KAJIAN POSKOLONIALISME
MERCY SAMPA, Robi Wibowo, S. S., M. A
2017 | Skripsi | S1 SASTRA JEPANGPernikahan Kapel Jepang adalah upacara pernikahan yang diadopsi dari budaya Barat dengan mengambil beberapa unsur di dalamnya yang dipadukan dengan budaya Jepang. Penelitian ini akan menjelaskan tentang proses pembentukan identitas baru dalam Pernikahan Kapel Jepang. Dalam penelitian ini dikaji jejak-jejak inferioritas masyarakat Jepang melalui mimikri-mimikri yang dilakukan oleh pelaku Pernikahan Kapel Jepang menggunakan ketiga konsep Bhabha. Berdasarkan teori Poskolonial Bhabha, pembentukan indentitas baru dalam Pernikahan Kapel di Jepang meliputi beberapa unsur yaitu hibriditas, mimikri dan ambivalensi. Dalam unsur hibriditas didapati adanya persilangan budaya antara budaya Barat dan budaya Jepang yang memunculkan budaya pernikahan baru yaitu Pernikahan Kapel Jepang. Selanjutnya dalam unsur mimikri, ditemukan fakta-fakta mengenai pelaku yang melakukan peniruan Pernikahan Kapel untuk menyamakan diri dengan Barat. Seiring dengan melakukan mimikri, muncul ambivalensi. Dalam ambivalensi ditemukan pemikiran-pemikiran yang mendua dari pelaku yang melakukan Pernikahan Kapel dengan menghilangkan beberapa unsur dalam pernikahan Barat tersebut dan menyesuaikannya dengan budaya Jepang. Setelah dianalisis menggunakan ketiga konsep tersebut, ditemukan inferioritas dari mimikri-mimikri yang dilakukan oleh pelaku Pernikahan Kapel Jepang melalui peniruan atau pengadopsian pakaian Pernikahan Kapel.
Japanese Wedding Chapel is adopted from Western wedding culture by taking some elements and combine with Japanese culture. This research explains the process of forming a new identity in Japanese Wedding Chapel. It examines the traces of inferiority of Japanese society through mimicry which is conducted by the subject of Chapel wedding using the concept of Bhabha. According to Bhabha post-colonial theory, the formation of new identity in Japanese Wedding Chapel consists of some elements such as hybridity, mimicry and ambivalence. The element of hybridity creates a cross-cultural phenomenon between Western and Japanese that resulted in a new marriage culture that is known as Japanese Wedding Chapel. The element of mimicry demonstrates facts that lead to the reason of wanting to be equal with the western culture. In the element of ambivalence, Chapel Wedding is adjusted with Japanese culture by eliminating irrelevant elements from the western culture. Inferiority is found from the element of mimicry which is conducted by the subject through the imitation or adoption of the Chapel Wedding dress.
Kata Kunci : Pernikahan Kapel, hibriditas, mimikri, ambivalensi, inferioritas, Chapel Wedding, hybridity, mimicry, ambivalence, inferiority