Subkultur Indie Label: Sebuah Counter Hegemony (Studi Kasus Grup Musik Hiphop D.P.M.B dan NDX di Yogyakarta)
REZA PUTRADARMA, Dr. Muhammad Najib, S.Sos., M.A.
2017 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIDewasa ini melihat perkembangan musik tanah air dengan jalur profesional (major label) terasa semakin membosankan dengan genre yang itu-itu saja, oleh karena itu musisi dari jalur non-profesional (indie label) mencoba hadir untuk memberikan alternatif kepada para pendengar. Bersamaan dengan ini, di Yogyakarta terdapat dua kelompok musik yang mengakulturasi suatu genre yang terbilang unik, yaitu hiphop-jawa, dimana jenis musik ini mampu mereka bungkus sedemikian rupa sehingga menyadarkan kita akan nilai-nilai kearifan lokal yang ternyata mampu mengadaptasi budaya global, mereka adalah: D.P.M.B dan NDX. Keduanya membawakan hiphop dari sudut pandangan kelokalan, oleh karena itu akan sangat menarik menganalisis kedua kelompok ini dari perspektif subkultur. Riset ini pada dasarnya menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus dalam menganalisis apakah hadirnya indie label lewat subkultur hiphop adalah sebuah alternatif dalam bermusik, ataukah sebagai siasat dalam menciptakan pasar yang baru dalam kerangka hegemoni industri tentunya. Karena menurut Stuart Hall (dalam Hebdige, 1979) hegemoni hanya bisa dipertahankan sepanjang kelas dominan berhasil membingkai semua persaingan dalam jangkauan mereka. Oleh sebab itu dua kelompok hiphop-jawa ini mencoba melakukan counter hegemony dalam upaya bertahan hidup mereka dengan skema glokalisasi/hibridasi, didukung oleh argumentasi McRobbie (1991) yang berpendapat bahwa kaum yang tertindas akan melakukan perlawanan pada cerminan-cerminannya terhadap gaya berpakaian, lintas-gender, maupun kemampuan-kemampuan unik lainnya. Akhirnya hal inilah yang mampu di aplikasikan dengan baik oleh D.P.M.B dan NDX dengan menciptakan suatu aktivisme kolektif berbasis pemberdayaan-lokal. Adapun temuan yang didapat dari penelitian ini ternyata baik NDX ataupun D.P.M.B merasa apa yang mereka hasilkan saat ini hanyalah sebagai bonus, karena dalam bermusik mereka cenderung apa adanya, tanpa mengharapkan apapun yang lebih, justru dengan hadirnya apresiasi yang begitu luas mereka menganggap itu sebagai sebuah pertanggungjawaban karya yang harus mereka rawat.
Nowadays, seeing the development of music in this country from the proffesional (major label) is making us bored by their similarity-genre. Therefore the musicians from the non-proffesional (indie label) trying to provide an alternative to the listeners. In Yogyakarta, there are two musical groups which acculturate a unique genre, hiphop-jawa. They could envelop it in such a way to bring us the values of local wisdom that was able to adapt the global culture. They are D.P.M.B and NDX. Both of them bring the hiphop from the point of view of the local wisdom. Therefore it would be very interesting to analyze them from a subcultural perspective. This research basically used qualitative method with the case study approach in analyzing whether the presence of indie label through subcultural hiphop as an alternative of music, or as a strategy in creating a new market within the framework of industrial hegemony. According to Stuart Hall (Hebdige, 1979) hegemony can only be maintained as long as the dominant class succeeds in 'framing' all competition within their reach. Because of this, two hiphop-java groups try to accommodate counter hegemony in their struggle with the glocalization/ hybridation scheme, supported by the arguments of McRobbie (1991) who consider that the hegemonic people will fight, whose reflected in the style of dress, cross-gender, and other unique abilities. The findings that could be obtained from this research is both NDX and D.P.M.B think that what they currently produce is just a bonus. Because in music, they tend to be unpretentious without expecting anything more.
Kata Kunci : Subkultur, Hiphop Jawa, Indie label.