Gaya Bahasa Wangsalan dan Simile dalam Serat Gandrung Asmara
DYAH AYU R., Prof. Dr. Marsono, S. U.
2017 | Tesis | S2 Ilmu LinguistikPenelitian ini membahas tentang jenis, fungsi, dan makna gaya bahasa dalam Serat Gandrung Asmara (SGA). SGA merupakan salah satu hasil karya dari Sri Susuhunan Pakubuwana IX dalam tulisan aksara Jawa. Dalam SGA terdapat sebelas pupuh dalam sembilan tembang yang menggunakan gaya bahasa estetik dalam pengungkapan karyanya. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan SGA, (2) mendeskripsikan jenis gaya bahasa wangsalan dan simile dalam SGA, dan (3) mendeskripsikan fungsi dan makna gaya bahasa wangsalan dan simile dalam SGA. Data yang digunakan berupa teks yang dialihaksarakan oleh Hardjana HP (1979) dan menggunakan teks SGA yang ditulis oleh Padmasusastra (1898) pada katalog yang dipublikasikan oleh Yayasan Sastra Lestari pada laman www.sastra.org. Tahapan dalam penelitian, pengumpulan data, analisis data menggunakan metode padan translasional, kemudian dianalisis berdasarkan teori Padmosoekotjo (1955), Haley (1980), dan Richard (1972) serta makna gaya bahasa berdasarkan isi wangsalan dan simile. Hasil dari analisis ditemukan bentuk gaya bahasa wangsalan antara lain wangsalan lamba atau wangsalan tunggal dan wangsalan sinawung ing tembang atau wangsalan tembang, sedangkan bentuk simile antara lain simile keadaan, benda mati, kosmos, tumbuhan, binatang, dan manusia. Fungsi gaya bahasa wangsalan yang ditemukan adalah fungsi puitik, ekspresif, direktif, dan referensial, sedangkan fungsi gaya bahasa simile antara lain fungsi referensial, ekspresi dan estetis. Makna gaya bahasa wangsalan, yaitu ungkapan doa, kepercayaan akan kebesaran Tuhan, perasaan manusia, sikap pemimpin, dan manusia sebagai makhluk sosial. Makna gaya bahasa simile antara lain ungkapan doa, serta ungkapan bersikap dan berperilaku manusia. Hasil dari penelitian tersebut kemudian dijelaskan secara deskriptif. Kata Kunci: Gaya Bahasa, Wangsalan, Simile, Serat Gandrung Asmara
This study aims to analyze the type, function, and meaning of language style in Serat Gandrung Asmara (SGA). SGA is one of the literary works of Sri Susuhunan Pakubuwana IX in Javanese script. There are eleven pupuh in nine tembang that used aesthetic language style in the disclosure of his works. There are three objectives of this study, the first is to describe SGA, the second is to describe the type of wangsalan and simile language style in SGA, and the third is to describe the functions and meanings of wangsalan and simle language style in SGA. The data used the form of text that is addressed by Hardjana HP (1979) and using SGA text written by Padmasusastra (1898) in a catalog published by the Literary Foundation on www.sastra.org. There are some steps of this research, namely data collection, data analysis using translational methods, then analyzed based on Padmosoekotjo (1955), Haley's (1980), and Richard (1972) theories and the meanings of language based on content of wangsalan and simile. The results of the analysis are the form of wangsalan language style, among others, wangsalan lamba or wangsalan tunggal and wangsalan sinawung ing tembang or wangsalan tembang, while simile forms such as simile being, objective, cosmos, living, animate, and human. The functions of wangsalan language style are puitic, expression, directive, and referential function, while the functions of simile language style are referential, expression, and aesthetic function. The meanings of the wangsalan language style are pray utterance, trust of God, leader attitudes, and human as a social being. The meanings of simile languange style such as pray utterance to God, and the utterance of human attitude. The results of this research then described descriptively. Keywords: Language style, Wangsalan, Simile, Serat Gandrung Asmara
Kata Kunci : Gaya Bahasa, Wangsalan, Simile, Serat Gandrung Asmara