Laporkan Masalah

Cerpen "Segitiga Emas" Karya Seno Gumira Ajidarma:Analisis Posmodernisme Linda Hutcheon

VIKTORIKUS A.D.K, Dr. Supriyadi, M. Hum

2017 | Skripsi | S1 SASTRA INDONESIA

Cerpen "Segitiga Emas" karya Seno Gumira Ajidarma terbit pada tahun 1990. Cerpen tersebut berunsur cerita wayang dan fakta sejarah berupa kawasan Segitiga Emas di Jakarta. Hal ini memunculkan asumsi bahwa cerpen "Segitiga Emas" mempunyai hubungan kontekstual dengan situasi yang secara aktual sedang terjadi di kawasan Segitiga Emas pada tahun tersebut. Selain itu, kecenderungan kritis karya-karya reinterpretasi sastra secara parodis terhadap cerita wayang yang muncul pada masa itu dan tulisan-tulisan Seno Gumira Ajidarma terhadap kondisi sosial politik di Indonesia turut menguatkan asumsi bahwa ada maksud tertentu yang ingin disampaikan pengarang melalui cerpen "Segitiga Emas" terkait kondisi sosial dan politik yang aktual waktu sekitar penerbitan cerpen tersebut. Penelitian ini berusaha membuktikan asumsi-asumsi tersebut dengan menggunakan teori posmodernisme Linda Hutcheon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerpen "Segitiga Emas" dibangun atas fakta sejarah, cerita wayang dan fiksi. Ketiganya dicampuradukkan pengarang dengan maksud untuk menyampaikan kritik terhadap kondisi sosial, budaya, dan politik pada masa penerbitan cerpen tersebut. Parodi ditunjukkan oleh digunakan sekaligus disalahgunakannya cerita wayang Sumantri Ngenger untuk membangun konflik. Adapun konflik tersebut adalah konflik penguasaan lahan yang melibatkan tiga pihak. Analisis pusat dan pinggiran menunjukkan bahwa pinggiran mengangkat nilai kejujuran untuk mengomentari pusat yang menjalankan praktik kuasa secara tidak jujur demi memenuhi kepentingan pihak-pihak tertentu di pusat. Secara kontekstual, Seno Gumira Ajidarma melalui cerpen "Segitiga Emas" menyajikan suatu tanggapan kritis terhadap situasi sosial politik yang sedang terjadi secara aktual di kawasan Segitiga Emas. Tanggapan kritis tersebut mengenai praktik kuasa yang menggunakan kedok pembangunan, kemajuan peradaban, dan modernisasi demi memenuhi kepentingan kelompok tertentu yang secara umum terjadi pada masa pemerintahan Orde Baru dan secara khusus terjadi di kawasan Segitiga Emas di Jakarta.

"Segitiga Emas" as a short story by Seno Gumira Ajidarma published in 1990. It has elements of wayang stories and historical facts, namely Jakarta's Golden Triangle district. This led to the assumption that the short story has a contextual relationship with the actual situation which was happening in the Jakarta's Golden Triangle in that year. Moreover, the tendency of parodic literary reinterpretation of the wayang that appeared in those days and the writings of Seno Gumira Ajidarma against social and political conditions in Indonesia strengtened the assumption that there were certain aim which would be delivered through "Segitiga Emas" based on the situation when the short story published. This research tries to prove the assumptions by using Linda Hutcheon's post-modernism theory. The results showed that the short story "Segitiga Emas" built on historical facts, wayang story and fiction. All three factors were combined by the authors with the intent to deliver a critique of social conditions, culture, and politics at the time of the publication of the short story. Parody is showed by the using and misusing of wayang story Sumantri Ngenger to build conflict. The conflict is land tenure conflicts involving three parties. Central and peripheral analysis show that peripheral raises honestly value for commenting the central which runs dishonest authoritative practice for fulfilling certain importance of certain parties in the central. Contextually, Seno Gumira Ajidarma, via "Segitiga Emas" short story, serves a critical respond towards actual social and political condition in the Golden Triangle area. This critical respond is related to the authoritarian practice which uses development, civilization progress and modernization for fulfilling certain parties's needs which was commonly happening in the "Orde Baru" (New Order) regime, particularly in the Jakarta Golden Triangle area.

Kata Kunci : Segitiga Emas, fakta sejarah, pusat dan pinggiran, kontekstualisasi

  1. S1-2017-335144-abstract.pdf  
  2. S1-2017-335144-bibliography.pdf  
  3. S1-2017-335144-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2017-335144-title.pdf