PERGUMULAN IDENTITAS TARI ACEH : KOMODITAS DAN ORISINALITAS BUDAYA DI KOMUNITAS RAMPOE UGM
NUN AFRA FARHANGGI, DR. HAKIMUL IKHWAN, M.A.
2016 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIABSTRAK Tari Aceh semakin terkenal dan melegenda di kancah nasional maupun internasional. Eksistensinya membuat komunitas Rampoe UGM yang berada di Fakultas Ilmu Budaya ikut mendapatkan angin segar. Komunitas yang lahir dari jurusan Sastra Arab ini sering mendapat undangan untuk tampil di acara – acara kampus dan pernikahan. Keterbukaan komunitas dalam merekrut anggotanya secara lintas agama, suku, ras dan universitas membuat komunitas ini semakin kebanjiran tawaran penampilan. Komunitas Rampoe UGM sering merekam sekaligus mempromosikan setiap penampilannya di situs sosial medianya. Agenda kegiatan yang banyak seperti diplomasi ke luar negeri, lomba tari, apresiasi penari, Rampoe Mengajar membuat komunitas ini memerlukan banyak dana. Berbagai cara dilakukan untuk dapat memenuhi kebutuhan dengan tawar – menawar harga dan mengonsep tarian sesuai dengan permintaan dan kesepakatan harga. Dengan menggunakan metode kualitatif yaitu studi kasus, penelitian skripsi ini membahas terjadinya pergumulan identitas Tari Aceh dalam komoditas dan keaslian budaya yang terjadi di komunitas Rampoe UGM. Hasil dari wawancara mendalam dan observasi secara rutin selama bulan Desember 2015 hingga April 2016 dengan para anggota, pelatih, pendiri dan pengurus Rampoe UGM, menjawab bahwa terjadi komodifikasi pada komunitas ini yang berpotensi menyebabkan distorsi kebudayaan. Dakwah Islam yang seharusnya ikut tersampaikan dalam syair dan gerakan tarian seringkali terlupakan dan hanya menunjukkan simbol (jilbab dan sarung songket) Islam. Berbagai modifikasi gerakan diciptakan dalam memenuhi permintaan. Selain itu, untuk mendapatkan tambahan uang, beberapa anggota di Rampoe UGM menjadikan keahliannya menari untuk mencari tambahan penghasilan. Meskipun terjadi komodifikasi pada komunitas Rampoe UGM, didalamnya terdapat tarik ulur atau pergumulan dalam melanggengkan identitasnya. Di dalam pergumulan tersebut tercipta negosiasi yang terlihat, diantaranya adalah : (1) upaya melanggengkan komunitas, (2) eksistensi menghasilkan materi, (3) politik identitas untuk menyatukan keberagaman. Ini dikarenakan Rampoe UGM berupaya untuk terus bertahan melanggengkan identitasnya di kota budaya, Yogyakarta.Terjadinya komodifikasi tidak terlepas dari peran serta para aktor yang mengorganisir didalamnya. Seperti yang dikatakan oleh Marx sebagai nilai tukar dan nilai guna komoditas bahwa aktivitas produksi dilakukan oleh aktor yang merubah objek –objek disekitarnya menjadi materi (uang). Sama halnya dengan Marx, Castells memproyeksikan identitas yang tercipta merupakan peran sekaligus konstruksi yang dijalankan aktor/individu. Kata kunci : Tari Aceh, Komodifikasi, Identitas, Pergumulan
ABSTRACT Tari Aceh increasingly widespread and legendary in the national and international arena. Its existence makes Rampoe UGM community located in the Faculty of Humanities follow to get fresh air. Communities born out of the Department of Arabic Literature is often received an invitation to perform at the event - the campus and weddings. Openness in recruiting community members cross religious, ethnic, racial, and university make this community is getting flooded with bids appearance. Community Rampoe UGM often record while promoting every appearance on social media sites. Agenda of the many activities such as diplomacy abroad, dance competition, appreciation of the dancers, Rampoe Teaching makes this community requires a lot of funds. Various methods are used to meet the needs of the bargain - bargain prices and drafted dance according to demand and price agreements. By using qualitative methods of case studies, this paper discusses the study of identity struggles Tari Aceh in commodities and cultural authenticity in the community of Rampoe UGM. The results of in-depth interviews and observations on a regular basis during the month of December 2015 until April 2016 with the members, coaches, founder and board Rampoe UGM, replied that occurred commodification in this community that could potentially lead to the distortion of culture. Islamic Propagation that should go conveyed in poetry and dance moves are often forgotten and only shows the symbol (headscarf and songket sarong) Islam. Various modifications to meet the demand created movement. In addition, to earn extra money, some members made their dancing skills to find additional revenue in others communities. Despite the commodification at Rampoe UGM community, in which there is a tug or struggle in preserving its identity. The struggle in the negotiations to create visible, among others: (1) efforts to perpetuate the community, (2) the existence of produced material, (3) the identity politics to unify diversity. This is because Rampoe UGM sought to move forward preserve its identity in the cultural city of Yogyakarta. The commodification of the role as well as the actors who organized therein. As said by Marx as the exchange rate and the value to the commodities that the production activities carried out by the actor who changed the objects around to matter (money). As with Marx, Castells projecting the identity created a role as well-run construction actors / individuals. Keywords: Tari Aceh, Commodification, Identity, Struggle
Kata Kunci : Tari Aceh, Commodification, Identity, Struggle