PERMINTAAN KEDELAI PADA INDUSTRI RUMAH TANGGA TAHU DI KABUPATEN SLEMAN
FARID SETYAWAN, Prof. Dr. Ir. Dwidjono Hadi Darwanto, M.S.; Dr. Ir. Lestari Rahayu Waluyati, M.P.; Dr. Ir. Any Suryantini, M.M.
2016 | Skripsi | SOS.EK. PERTANIAN (AGROBISNIS)Kebutuhan konsumsi masyarakat terhadap kedelai cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya, salah satunya untuk kebutuhan industri tahu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan kedelai pada industri tahu di Kabupaten Sleman, 2) besarnya nilai tambah yang dihasilkan dari industri tahu di Kabupaten Sleman, 3) faktor-faktor yang mempengaruhi keuntungan pengrajin tahu di Kabupaten Sleman. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitis. Penelitian ini dilaksanakan di dua kecamatan, yaitu di kecamatan Seyegan dan kecamatan Gamping pada awal tahun 2016, kemudian sebanyak 65 orang pengrajin tahu diambil secara proporsional sebagai responden. Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan kedelai pada industri tahu dihitung dengan menggunakan analisis regresi linear berganda, nilai tambah pada industri tahu dihitung dengan menggunakan rumus nilai tambah metode Hayami, serta faktor-faktor yang mempengaruhi keuntungan pengrajin tahu dihitung dengan menggunakan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permintaan kedelai dipengaruhi oleh harga kedelai, upah tenaga kerja, harga kayu bakar, dan status kepemilikan mesin giling. Kemudian, nilai tambah yang dihasilkan dari tahu goreng sebesar Rp 5.602,4/kg kedelai, nilai tambah yang dihasilkan dari tahu putih sebesar Rp 5.175,2/kg kedelai, dan nilai tambah yang dihasilkan dari tahu kuning sebesar Rp 3.999,6/kg kedelai. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa keuntungan industri tahu di Kabupaten Sleman dipengaruhi oleh upah tenaga kerja, harga kedelai, kapasitas produksi, pengalaman usaha, dan harga koagulan.
The needs of domestic consumption of soybean tends increasing every year, one of them for tofu industry inputs. This study aims to determine: 1) the factors that influence the demand for soybean on tofu industry in Sleman Regency, 2) the value-added generated from tofu industry in Sleman Regency, 3) the factors that affect tofu industry profits in Sleman Regency. The method used in this research is descriptive analysis method. This research was conducted in two districts, namely in Seyegan and Gamping districts in early 2016, then taken proportionally 65 people tofu industry as respondents. Factors that affect demand for soybean on tofu industry were calculated using linear regression analysis, the value-added on tofu industry calculated using the value-added method of Hayami, and the factors that affect tofu profitability calculated using linear regression analysis. The results showed that demand for soybean is influenced by soybean prices, labor costs, the price of firewood, and the ownership status of the milling machine. Then, the value-added generated of fried tofu is Rp 5.602,4/kg of soybean, the value-added generated of white tofu is Rp 5.175,2/kg of soybean, and the value-added generated of yellow tofu is Rp 3.999,6/kg of soybean. The results also showed that the profits of tofu industry in Sleman influenced by labor costs, the price of soybeans, production capacity, business experience, and the price of coagulant.
Kata Kunci : permintaan kedelai, nilai tambah, tahu, keuntungan