Laporkan Masalah

fasilitasi perdagangan Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 (Studi kasus: PT. Pelabuhan Indonesia II Jakarta)

GLORY YOLANDA YAHYA, Prof. Dr. Mohtar Masoed, MA

2016 | Tesis | S2 Ilmu Hubungan Internasional

Masuknya pelabuhan dalam komponen transportasi angkutan laut dalam kerjasama regional Masyarakat Ekonomi ASEAN, khususnya untuk penekanan biaya logistik nasional dilakukan untuk meningkatkan fasilitasi transportasi dan layanan logistik, meningkatkan keterhubungan dan keterkaitan infrastruktur transportasi, multimoda, memfasilitasi jalur perhubungan secara terpadu, serta meliberalisasi lebih jauh sektor pelabuhan laut atau bandara untuk merealisasikan potensi kawasan pedagangan bebas ASEAN secara penuh, dan meningkatkan daya tarik ASEAN sebagai kawasan produksi tunggal dan investasi serta mempersempit terjadinya kesenjangan pembangunan dengan menurunkan seluruh hambatan di bidang bisnis logistik, meliputi pajak, tarif, sekaligus hambatan yang sifatnya non tarif termasuk infrastruktur. Sebagai pelabuhan tersibuk, kinerja pelayanan Pelabuhan Tanjung Priok yang dikelola oleh PT. Pelindo II (Persero) tergolong masih rendah. Dampaknya adalah inefisiensi pelabuhan karena waktu tunggu pelayanan kapal dan barang (dwelling time) masih di atas empat hari atau rata-rata lima sampai tujuh hari, lamanya penumpukan barang di terminal bongkar muat yang menimbulkan beragam beban tarif , dan kemacetan sarana jalan menuju pelabuhan yang berdampak pada tingginya biaya logistik. Dengan demikian, kunci penurunan biaya logistik pada sektor angkutan laut ada di pelabuhan dengan mengoptimalkan pelayanan pada Pelabuhan Tanjung dengan menerapkan aspek fasilitasi perdagangan.

The entry of the port in sea freight transportation component in the regional cooperation of the ASEAN Economic Community, particularly to the emphasis of national logistics costs is done to improve the facilitation of transport and logistics services, improve connectivity and infrastructure linkages transport, multimoda, facilitating integrated transportation lines, as well as further liberalisation of the sector, such as seaport or airport for the realization of the ASEAN free trade area potential in full, and enhance the attractiveness of ASEAN as a single investment and production areas and narrow the development gap by lowering the occurrence of entire barriers in business Logistics, covering tax, tariff and non tariff barriers that including infrastructure. As the busiest port, Port of Tanjung Priok service performance managed by PT. Pelindo II (Persero) is still low. The impact is the inefficiency of the port because of the waiting time of ships and goods (dwelling time) is still above four days or an average is five to seven days, the length of the buildup goods in loading and unloading terminal which gives rise to various load rates, and congestion of roads to the ports that have an impact the high cost of logistics. Thus, a key to reduce logistics costs in the sea transport sector is in the harbor with optimize the service of Port of Tanjung by implementing aspects of trade facilitation.

Kata Kunci : dwelling time, fasilitasi perdagangan, hambatan non tarif, logistik, pelabuhan

  1. S2-2016-359749-abstract.pdf  
  2. S2-2016-359749-bibliography.pdf  
  3. S2-2016-359749-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2016-359749-title.pdf