Laporkan Masalah

Representasi Islam Dalam Media Cetak di Surakarta

MUHAMMAD FAHMI, Prof. Irwan Abullah; Dr. Ratna Noviani; Dr. Wening Udasmoro, DEA, M.Hum.

2016 | Disertasi | S3 Kajian Budaya dan Media

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana media cetak di Surakarta merepresentasikan Islam. Penelitian ini menggunakan analisis wacana Theo van Leeuwen, yang berfokus pada bagaimana subjek, aktor atau sesuatu diberitakan dalam pemberitaan kasus penyerangan Charlie Hebdo. Ada dua pusat perhatian yaitu: Exclusion, yang menyangkut bagaimana suatu aktor, seseorang atau sekelompok dikeluarkan dalam sebuah artikel berita, dan Inclusion, yang berkaitan dengan bagaimana aktor atau pihak-pihak ditampilkan dalam berita. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa meski media-media cetak di Surakarta berusaha menjaga asas keberimbangan dan prinsip-prinsip cover both sides, dalam derajat tertentu terlihat ada keberpihakan dan pengaruh dari ideologi Islam. Apalagi yang menyangkut dua duniaIslam dan Barat yang diimajikan berada dalam situasi the clash of civilizations, tendensi dan keberpihakan media pada dunia Islam terasa begitu kuat dibanding dunia Barat Hal ini dapat dilihat pada pemberitaan kasus Charlie Hebdo di media-media cetak di Surakarta yang merepresentasikan Islam ke dalam tiga discourse yaitu: 1). Islam Agama Moderat, (anti kekerasan), 2). Islam Sebagai Korban (provokasi media Barat) dan ; 3) Islam Teroris. Pada wacana yang pertama, Islam Agama Moderat, terlihat media cetak di Surakarta telah melakukan counter hegemonic dari wacana global, yang mengonstruksikan islam sebagai agama teroris, menjadi agama moderat yang anti kekerasaan. Pada yang kedua, Islam Sebagai Korban, terlihat bahwa surat kabar di Surakarta, berbanding terbalik dengan konstruksi media Barat yang pada umumnya, menempatkan Islam sebagai pesakitan, terpidana atau pihak yang harus dipersalahkan atas serentetan kekerasan yang dilakukan oleh umat Islam. Pada Surat kabar di Surakarta, umat Islam justru di posisikan sebagai korban. Sedangkan pada wacana yang Ketiga, Islam Agama Teroris, terlihat bahwa media cetak di Surakarta juga membuat representasi Islam secara berbeda, yaitu direpresentasikan dengan negatif. Hal itu terutama terjadi, ketika media-media ini mengutip sumber-sumber dari Barat, seperti Reuters, AFP, The Guardian. Dalam konteks demikian Islam digambarkan sebagai: Ekstrimis, Fundamentalis, dan Teroris.

This study aims to examine how newspapers in Surakarta represent Islam. This study used discourse analysis Theo van Leeuwen, which focuses on how the subject, actor or something reported in reporting the case of Charlie Hebdo. There are two centers of attention are: Exclusion, which concerns how an actor, a person or group issued a news article, and Inclusion, which relates to how actors or parties featured in the news. The study concluded that although newspapers in Surakarta trying to maintain a balance in their principles and principles cover both sides, in particular the degree seen no partisanship and the influence of Islamic ideology. Moreover, concerning the "two worlds" Islam and the West that in the image are in a situation of the clash of civilizations, tendencies and media bias on the "world" Islam was so strong compared to the "Western world". This can be seen in the case of Charlie Hebdo news in the print media in Surakarta representing Islam discourse into three, namely: 1). Moderate Islamic religion, (non-violence), 2). Islam As Victims (provocation by Western media) and; 3) Islamic terrorists. In the first discourse, Islam Religion Moderate, visible print media in Surakarta has done from the counter hegemonic global discourse, which construct Islam as a terrorist religion, became a moderate religion that is anti-violence. In the second, Islam As a victim, it appears that the newspaper in Surakarta, is inversely related to the construction of the Western media in general, Islam as a prisoner: "convict" or the parties are to blame for the spate of violence perpetrated by Muslims. In the newspaper in Surakarta, precisely in the position of Muslims as victims. While the discourse Thirdly, Islam Religion of terrorists, it appears that the print media in Surakarta also make representations Islam differently, which is represented in the negative. This was especially true when these media quoted sources from the West, such as Reuters, AFP, The Guardian. In such a context Islam is described as: extremists, fundamentalists and terrorists.

Kata Kunci : representation, discourse, ideology, media.

  1. S3-2016-291552-tableofcontent.pdf