MEDIA, SEPAK BOLA, DAN KONTRADIKSI KEPENTINGAN (TINJAUAN WACANA KRITIS PEMBERITAAN KONFLIK KEPENGURUSAN SEPAK BOLA INDONESIA TAHUN 2010-2012 DI TIGA MEDIA CETAK IBU KOTA)
AFDAL MAKKURAGA PUTR, Prof. Dr. Heru Nugroho; Dr. Budiawan
2016 | Disertasi | S3 Kajian Budaya dan MediaPenelitian ini merupakan analisis wacana kritis tentang konflik dalam tubuh persepakbolaan Indonesia di tiga media cetak ibu kota, yakni harian Kompas, tabloid Bola dan harian Seputar Indonesia (Sindo). Penelitian ini bermaksud mengungkap secara komprehensif ketiga media cetak ibu kota dalam mengkostruksi pemberitaan konflik dalam tubuh persepakbolaan di Indonesia, sekalgus membongkar kepentingan ekonomi-politik masing-masing media cetak tersebut dalam memberitakan konflik dalam tubuh kepengurusan persepakbolaan di Indonesia. Penelitian ini bersifat kualitatif menggunakan paradigma kritis dengan metode penelitiaan Critical Discourse Analysis (CDA). Teknik pengumpulan data menggunakan analisis teks media dan menggabungkan dengan wawancara mendalam. Penelitian ini berangkat dari kerangka teori ekonomi politik media yang diartikan sebagai studi tentang relasi sosial, khususnya relasi kekuasaan yang saling berkaitan dalam sistem produksi, distribusi, dan konsumsi sumber daya komunikasi. Teori ekonomi politik media juga diartikan sebagai pendekatan kritik sosial yang berfokus pada hubungan antara struktur ekonomi dan dinamika industri media dan konten ideologi media. Hasil penelitian menujukkan bahwa pada ketiga media cetak ibu kota menempatkan aktor-aktor yang berkonflik dalam posisi yang diametral. Media menggambarkan mereka dalam dua kategori, yakni kelompok reformis (Arifin Panigoro-George Toisuta Cs) dan kelompok status Quo (Nurdin Halid-Nirwan Bakrie Cs). Kompas dan Sindo mengidetifikasikan dirinya ke kelompok reformis, sedangkan Bola mengentifikasikan diri ke kelompok status quo. Cara media memberitakan konflik itu menujukkan rentannya independensi media. Untuk menjaga netralitas, media dituntut untuk tidak memihak kepada salah satu kelompok yang bertikai. Namun dalam kasus konflik kepengurusan sepak bola Indonesia, media menabrak rambu-rabu tersebut. Media membela mati-matian suatu isu bila hal itu menyangkut dengan kepentingannya, dan sebaliknya membiarkan bila tidak berkenaan dengan kepentingan. Meskipun cara pemberitaan media berbeda-beda, namun tujuan mereka adalah pemberebutan hak siar pertandingan sepak bola di Indonesia. Hak siar adalah kepentingan tersembunyi yang dipendam oleh masing induk usaha yang menaungi media cetak tersebut
The study represented an analysis of critical discourse of the conflict of Indonesian soccer affairs in three printed media in Jakarta, which were Kompas, Bola tabloid and Seputar Indonesia (Sindo). It intended to comprehensively uncover how the three printed media in Jakarta constructed the reporting of the conflict in Indonesian soccer affairs, while at the same time to disclose economic and political interest of each of the printed media in reporting the conflict in Indonesian soccer affairs. It was qualitative study with critical paradigm and critical discourse analysis (CDA) method. Data was collected using media text analysis combined with in-depth interview. It started from economic and political theory framework of media, meaning that it examined social relations, especially power relations that related to production system, distribution and consumption of communication resources. Economic and political theory of media was defined as critical social approach focusing on the relationship between economic structure and the dynamics of media industry and the ideological content of media. The results of the study showed that the three printed media in Jakarta put the conflicting actors in a diametral position. The media described them in two categories, which were reformist group (Arifin Panigoro-George Toisuta cs) and status quo group (Nurdin Halid-Nirwan Bakrie cs). Kompas and Sindo identified themselves as reformists, while Bola identified itself as being in status quo. The reporting method of the conflict by the media was indicative of the susceptibility of media independence. Media were required not to take side among those in conflict to maintain their neutrality. However, in the case of the conflict in Indonesian soccer affairs, the media broke the rule. They looked after an issue as long as the issue related to their interests, while on the contrary they did not care of any issue that did not relate to their interests. Despite various media reporting methods, they fought over reporting right of soccer matches in Indonesia. The reporting right represented hidden interest of each of primary businesses that overshadowed the printed media.
Kata Kunci : Ekonomi Politik Media, Discourse, dan Sepak Bola