Peran Wanita Pembuat Fuya Dalam Menjaga Tradisi Kerajinan Fuya (Studi Kasus di Desa Pandere Kecamatan Gumbasa Kabupaten Sigi Propinsi Sulawesi Tengah)
GREGORIUS SEPTIAN FAJAR KURNIA, Drs. Henrie Adji Kusworo, M.Sc, Ph.D
2016 | Skripsi | S1 ILMU PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN (SOSIATRI)Pakaian memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan manusia, sehingga pakaian menjadi salah satu kebutuhan utama manusia yang wajib dipenuhi. Selanjutnya ada satu bentuk tradisi kerajinan di wilayah Desa Pandere Kecamatan Gumbasa Kabupaten Sigi Propinsi Sulawesi Tengah yang masih ada sampai sekarang. Tradisi itu mengolah kulit kayu ivo yang nantinya dijadikan pakaian, selanjutnya tradisi ini dikenal dengan pakaian dari kulit kayu atau Fuya. Fuya adalah sebuah tradisi turun menurun pembuatan pakaian dari kulit kayu dengan cara tardisional yang dilakukan hanya oleh wanita. Jika dihitung, kini jumlah wanita yang masih aktif membuat kerajinan fuya di Desa Pandere semakin sedikit, dan didominasi oleh wanita yang sudah lanjut. Jarang anak muda yang bisa membuat kerajinan fuya. Kini hanya tersisa 6 wanita yang masih aktif membuat fuya. Tulisan ini adalah sebuah usaha untuk menjawab bagaimana peran wanita pembuat fuya dalam menjaga tradisi Fuya serta menjawab mengapa wanita di Desa Pandere masih mempertahankan tradisi pembuatan fuya. Peran wanita disini sangat penting karena tradisi pembuatan fuya haruslah dilakukan oleh wanita. Selanjutnya tulisan ini berjudul �¢ï¿½ï¿½Peran Wanita Pembuat Fuya Dalam Menjaga Tradisi Kerajinan Fuya�¢ï¿½ï¿½ yang dilaksanakan di Desa Pandere Kecamatan Gumbasa Kabupaten Sigi Propinsi Sulawesi Tengah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif. Untuk memperoleh data yang diperlukan peneliti mewawancarai 6 wanita yang masih aktif membuat kerajinan fuya, dengan metode snowball sampel. Hal tersebut karena hanya 6 orang yang kini masih bisa membuat fuya. Adapun hasil penelitian ini menunjukan bahwa peran wanita di Desa Pandere dalam menjaga tardisi besar. Peran sebagai pembuat fuya dan sebagai pengajar bagi generasi berikutnya. Motivasi wanita pembuat fuya di Desa Pandere masih mempertahankan tradisi pembuatan kerajinan fuya. karena ingin mendapatkan pemasukan ekonomi serta menjaga keberlanjutan tradisi.
The clothes have a very important for human life, so the clothes became one of the primary human needs that must be met. There is one of the tradition in the Pandere village Sigi regency Central Sulawesi province that still exists unil now. That tradition of processing the bark will be used as clothing, so this tradition is known fuya. Fuya is hereditary tradition of making clothes of the bark in the traditional way, the makers is only women. If the calculated amount of women that still make fuya in Pandere village less and is dominated by old women. Rare find that a young women make fuya. Now the only 6 womens who still make fuya. This research to answer how the role of womens in maintaining the tradition of fuya and why womens in Pandere�¢ï¿½ï¿½s village still maintain the tradition of make fuya. The role of women is very important because this tradition only created by women. Next this research entitled �¢ï¿½ï¿½The role of women fuya maker in keeping the tradition of fuya in Pandere village Sigi regency Central Sulawesi province. This research used the qualitative method with descriptive analysis approach. To get data the researcher interviewed 6 womens still make fuya until now by snowball sample method. It is because only 6 womens who now can still make fuya. The results of this research show that the role of women in maintaining tradition is very large. The role as a maker of fuya and as a teacher for the next generation. Motivation fuya maker womens still maintain the tradition of make fuya because will get economic income and keeping the tradition of sustainability.
Kata Kunci : pakaian, tradisi fuya, peran wanita