Yogyakarta Marching Band Centre sebagai Pusat Pelatihan dan Pertunjukan Marching Band di Yogyakarta, Konsep Music in Motion sebagai Pendekatan Semiotika
REZA KURNIA PUTRA, Diananta Pramitasari, S.T., M.Eng., Ph.D.
2016 | Skripsi | S1 ARSITEKTURPerkembangan musik marching band di Indonesia mengalami kemajuan yang sangat pesat sejak era 1980-an. Hal tersebut dibuktikan dengan semakin banyaknya jumlah unit marching band yang ada saat ini, serta maraknya penyelenggaraan kejuaraan marching band tingkat nasional maupun internasional. Selaras dengan hal tersebut, musik marching band di Yogyakarta juga mengalami kemajuan yang sangat baik. Setidaknya terdapat 7 unit marching band besar di Yogyakarta, yang rutin mengikuti kejuaraan nasional dengan torehan prestasi yang membanggakan. Namun, prestasi ini tidak didukung oleh ketersediaan fasilitas penunjang yang ada, sehingga selalu terdapat kendala fisik dalam setiap latihan. Padahal, dengan segala potensi dan capaian prestasinya, sudah sepantasnya bahwa fasilitas sarana dan prasarana penunjang latihan dan pertunjukan marching band perlu ditingkatkan. Marching band adalah kegiatan seni musik. Sebagian besar masyarakat memiliki persepsi bahwa marching band adalah musik yang kaku, keras, dan pemainnya terkesan penuh dengan tekanan. Padahal, musik marching band itu dinamis, ekspresif, serta merupakan kegiatan positif untuk bersosialisasi dan berinteraksi dalam kerjasama tim. Maka dari itu, selain dibutuhkan sebuah fasilitas dengan fungsi latihan dan pertunjukan, dibutuhkan pula fungsi yang mampu mengedukasi dan merubah persepsi masyarakat mengenai marching band. Bangunan inilah yang kemudian disebut sebagai Marching Band Centre. Karakteristik dari musik marching band adalah adanya dua aspek penting yang berimbang, yang tidak dapat dipisahkan dan saling mempengaruhi, yakni musikal dan visual. Aspek musik terkait dengan indera pendengaran sedangkan aspek visual terkait dengan indera penglihatan. Keduanya secara bersama-sama menyampaikan pesan dan makna dari pergelaran yang dilakukan. Kedua aspek tersebut kemudian dianalisis dengan cara semiotika untuk mendapatkan konsep yang sesuai, yakni music in motion. Music in motion diterapkan menjadi konsep bangunan dengan menggunakan unsur masing-masing elemen musik dan visual dalam marching band. Kunci dari konsep ini adalah dinamisme dari setiap ruangan itu sendiri. Alur musik dan gerakan menjadi acuan pendekatan transformasi bangunan, hingga menjadi desain arsitektural sebuah marching band centre yang konseptual. Sebuah marching band centre yang tidak hanya sebagai fasilitas pelatihan dan pertunjukan, namun juga sebagai fasilitas edukasi masyarakat tentang marching band.
The development of marching band in Indonesia has progressed since the 1980s. It has proven by the increasing number of marching band units that exist today, as well as the widespread implementation of marching band national and international championship. In harmony with this, marching band in Yogyakarta also progressed very well. There are at least seven major marching band units in Yogyakarta, who regularly joins the national championships with the best achievement. However, those achievements is not supported by the availability of existing support facilities, so that there is always a physical constraint in each exercise. In fact, with all the potentials and achievements, it is appropriate that the supporting facilities and infrastructures need to be improved. Marching band is a musical art activities. The majority of people have the perception that marching band is stiff and hard music, and the players are fully impressed with pressure. In fact, marching band music is dynamic, expressive, and it is a positive activity to socialize and interact in teamwork. In addition to a facility with the functions required rehearsals and performances, also required function that is able to educate and change public perception about the marching band. The building is then known as the Marching Band Centre. Characteristics of marching band is their impartial two important aspects, which can not be separated and influence each other, the musical and visual. Musical aspects related to the sense of hearing music while the visual aspects associated with the sense of sight. Both of them together to deliver the message and meaning of the performances were done. Both aspects are then analyzed by semiotics to obtain a corresponding concept, the music in motion. Music in motion is applied into the concept of building using each element of music and visual in marching band. The key to this concept is the dynamism of every space itself. Music flows and visual movements become the reference approach to the transformation of the building, down to the architectural design of a marching band conceptual center. A marching band center that is not only as a training and performances facility, but also as a public education of the marching band.
Kata Kunci : marching band, marching band centre, musikal, musical, visual, semiotika, semiotics, music in motion