Laporkan Masalah

IMPLEMENTASI PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA AGRIBISNIS PERDESAAN (PUAP) DI KOTA PAGAR ALAM

ARIS EKO HARIYANTO, Prof. Dr. R. Rijanta, M.Sc.;Ratna Eka Suminar, S.T., M. Sc

2016 | Tesis | S2 Perencanaan Kota dan Daerah

Kota Pagar Alam merupakan salah satu Kota di Provinsi Sumatera Selatan dengan sektor pertanian sebagai sektor unggulan. Dari data BPS Kota pagar Alam tahun 2015 bahwa produksi hasil perkebunan yaitu kopi di Kota Pagar Alam berada pada urutan ke-6 dari 17 Kabupaten/Kota se-Propinsi Sumatera Selatan, dengan produksi per tahun mencapai 9.183 ton. Potensi pertanian di Kota Pagar Alam juga didukung oleh jumlah tenaga kerja yang mencapai 37,89% dari jumlah penduduknya. Namun kenyataannya petani di Kota Pagar Alam masih menghadapai hambatan-hambatan yaitu: keterbatasan petani dalam mengakses sumber-sumber permodalan dan lemahnya organisasi petani. Untuk mengatasi permasalahan tersebut upaya Pemerintah Kota Pagar Alam adalah melaksanakan Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan dari Kementerian Pertanian pada tahun 2010. Namun dalam pelaksanaannya tidak semua gapoktan menunjukkan perkembangan yang sama. Berdasarkan latar belakang di atas tujuan penelitian ini untuk membandingkan tingkat keberhasilan Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaaan di Desa Semidang Alas dan Desa Dempo Makmur Kota Pagar Alam dan menemukan faktor-faktor yang membedakan tingkat keberhasilan Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaaan di Desa Semidang Alas dan Desa Dempo Makmur Kota Pagar Alam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deduktif kuantitatif dan kualitatif. Variabel tingkat keberhasilan di amati dari capaian keluaran, hasil, manfaat, tingkat kepuasan dan keberlanjutan program. Sedangkan faktor-faktor yang membedakan tingkat keberhasilan kedua gapoktan yaitu faktor sasaran dan tujuan program, sumberdaya, komunikasi, karakteristik pelaksana, sikap pelaksana, lingkungan sosial budaya dan kelembagaan diamati secara persepsual dari anggota gapoktan sedangkan faktor lokasi diamati dari tingkat kesuburan tanah dan pengaruh aktivitas ekonomi di lokasi penerima program. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gapoktan Semidang Alas lebih berhasil dalam melaksanakan Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan dibandingkan dengan gapoktan Dempo Makmur. Tingkat keberhasilan ditentukan dari perbandingan capaian hasil, manfaat, tingkat kepuasan dan keberlanjutan program. Sedangkan faktor yang dominan menurut persepsual anggota gapoktan yang membedakan tingkat keberhasilan program yaitu faktor sikap pelaksana, lingkungan sosial budaya dan kelembagaan sedangkan pengaruh faktor lokasi dilihat dari aktivitas ekonomi anggota gapoktan yang tidak berkaitan dengan Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan.

Pagar Alam is one of the cities located in South Sumatra Province that has agriculture as their main sector. Data from Institute of Central Statistics (BPS) showing that the production of plantation crops during 2015, which is coffee in particular, in Pagar Alam has 6th rank out of 17 Districts/Cities in South Sumatra Province, with annual production up to 9,183 tons per year. Agricultural potential in Pagar Alam is also supported by the labor force which reached up to 37.89% out of the city population. Nevertheless, in reality, Pagar Alam's farmers still face some constraints includes: limited access to capital resources and weak organization. To overcome these problems, the Pagar Alam Government's efforts includes implementation of Rural Agribusiness Development Program from Ministry of Agriculture that started from 2010. However, in practice not all farmer's groups showed similar development. Based on those explanations, this study aimed to compare the success rate of Rural Agribusiness Development Program between Semidang Alas Village and Dempo Makmur Village in Pagar Alam City and to found factors that made such a different success level of the Rural Agribusiness Development Program between Semidang Alas Village and Dempo Makmur Village in Pagar Alam City. The methods used in this research are deductive quantitative and qualitative. Success rate variables are observed based on achievements of outputs, outcomes, benefits, satisfaction levels and sustainabilities. Meanwhile, the factors that differentiate success level between both farmer's groups are program's aims and objectives, resources, communications, executor's characteristics, implementer's attitude, social cultural and institutional environment that are observed based on members farmer's groups perception, meanwhile, the location factor observed based on level of soil fertility and economic activity of the location who recieved the program. The results showed that farmer's groups in Semidang Alas Village are more successful on the implementation of the Rural Agribusiness Development Program than farmer's groups in Dempo Makmur. The success rate is determined by comparing performance of outcomes, benefits, satisfaction levels and sustainability. On the other hand, the dominant factors, based on farmer's groups perception, that set success level of a program are executor's attitude, social cultural and institutional environment, and location factors that is based on economic activities of the farmer's group which are not related to the Rural Agribusiness Development Program.

Kata Kunci : implementasi, keberhasilan, agribisnis perdesaan

  1. S2-2016-370993-abstract.pdf  
  2. S2-2016-370993-bibliography.pdf  
  3. S2-2016-370993-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2016-370993-title.pdf