Laporkan Masalah

PENGELOLAAN RISIKO KEMITRAAN (Studi Kasus Kemitraan dalam Mengelola Bus Trans Jogja

PETRUS PAULUS DUKA, Prof. Dr. Agus Pramusinto, MDA;Dr. Subando Agus Margono, M.Si

2016 | Tesis | S2 Manajemen dan Kebijakan Publik

Pengelolaan risiko dalam sebuah kerjasama kemitraan, termasuk kemitraan dalam mengelola bus Trans Jogja dicirikan dengan proses mengidentifikasi risiko, membuat prioritas pengendalian risiko dan mengambil keputusan mengendalikan risiko. Tujuannya adalah untuk meminimalisir kemungkinan-kemungkinan kerugian yang bakal dialami pada masa mendatang. Dalam konteks ini, pengelolaan risiko dipandang sebagai upaya (proses) menentukan strategi untuk mengantisipasi kemungkinan buruk yang bakal terjadi pada masa mendatang. Secara umum, tesis ini menganalisis pengelolaan risiko kerjasama kemitraan antara pemerintah provinsi Yogyakarta (Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi) dengan pihak swasta (PT Jogja Tugu Trans) dalam mengelola transportasi publik Trans Jogja. Dengan mengacu kajian manajemen risiko, tesis ini difokuskan pada upaya mengetahui bagaimana model pengelolaan risiko yang digunakan dalam kemitraan Trans Jogja. Sedangkan pendekatan utama yang digunakan adalah pendekatan fenomenologi yang mengandalkan wawancara mendalam sebagai instrumen dalam menjaring informasi mengenai proses pengelolaan risiko, yang mencakup proses identifikasi risiko, rencana prioritas pengendalian risiko dan keputusan strategis pengendalian risiko. Penelitian yang telah dilakukan memberikan kesimpulan bahwa langkah-langkah mengelola risiko: Identifikasi risiko, menentukan prioritas pengendalian risiko dan membuat keputusan mengendalikan risiko, dalam prakteknya, telah dilakukan pemerintah dah PT Jogja Tugu Trans. Namun proses tersebut masih cenderung dicirikan oleh kepentingan personalitas para pihak. Kecenderungan ini menunjukan bahwa kekuatan otoritas para pihak secara internal masih sangat kuat, yang mana pemerintah yang masih cenderung birokratis dan swasta (PT JTT) yang cenderung mengutamakan urusan bisnis. Kebiasaan yang merupakan budaya masing-masing pihak yang telah melembaga ini, pada akhirnya bermuara pada sebuah kepentingan besar dari masing-masing pihak, yang mana pemerintah lebih menggunakan berbagai cara agar memenuhi kebutuhannya, yakni tersedianya sarana transportasi publik Trans Jogja yang berkualitas dan terjangkau; dan PT JTT, yang dengan cara yang sama mengutamakan pencapaian target usaha bisnis transportasi daripada memperhatikan kualitas kerja sebagai operator Bus Trans Jogja. Dalam skala yang lebih besar, kerjasama ini kemudian dijadikan sarana memperoleh keuntungan sebesar besarnya dari para pihak secara internal, dan mengabaikan kepentingan bersama dalam wadah kemitraan. Fenomena diatas memunculkan saran utama, yakni bahwa proses pengelolaan risiko hendaknya dilakukan bersama diantara para pihak, yang mana berhubungan dengan komitmen yang tinggi, baik dari sisi normatif maupun kelembagaan. Komitmen seperti ini hendaknya mulai dikembangkan, karena kasus kegagalan kemitraan pemerintah dan swasta hingga kini masih sering terjadi.

The risk management in a partnership, including the partnership in managing the Trans Jogja Bus, is characterized by the process of identifying risks, of setting risk management priorities and of taking decisions in the risk control. The objective of risk management is to minimize the possibility of having loss that an institution might experience in the future. In this context, risk management is regarded as an effort (a process) of deciding the strategy for anticipating the worst possibility that might occur in the future. In general, the researcher through the thesis would like to analyse the risk management of partnership between the Province of Yogyakarta Special Region Government (the Office of Transportation, Communication and Information) and the private party (PT. Jogja Tugu Trans) in managing the Trans Jogja public transportation. By referring to the risk management review, the thesis was focused to the efforts of recognizing the risk management model that had been implemented in the Trans Jogja partnership. On other hand, the main approach that the researcher implemented was the phenomenological approach by means of in-depth interview as the instrument for gathering the information regarding the risk management process, which covered the process of identifying risk, of setting risk control priorities and of taking risk control strategic decisions. From the results of the study that had been conducted, the researcher concluded that the steps in managing risk, namely identifying the risk, setting the risk control priorities and taking risk control decisions, in the practice had been implemented by the provincial government and The Jogja Tugu Trans Company. However, the process had a tendency to be characterized by the personal interest of the stakeholders. The tendency showed that the authoritative power of the stakeholders had been very strong internally and in the partnership the provincial government had a tendency to be bureaucratic while the private party (The Jogja Tugu Trans Company) had a tendency to be business-oriented. The habits that had been institutionalized cultures in each party finally led to a big interest from each party. The provincial government justified all means in meeting their needs, namely the provision of well-qualified and affordable public transportation facility named Trans Jogja. On the other hand, the Jogja Tugu Trans Company justified all means in achieving their business targets instead of paying attention to their job performance as the operator of Trans Jogja Bus. In a wider scale, the partnership had been turned into a tool of attaining the biggest profit internally by the stakeholders and, as a result, these stakeholders abandoned the common interest in the partnership. The phenomenon above shows major suggest, that is the risk management proses should be done together by all sectors, which are connect with a high commitment, both in the normative and institutional side. This commit should be developed, due to the failure cases between public and private sector that are still happens frequently.

Kata Kunci : Partnership, Risk, Risk Management

  1. S2-2016-308910-abstract.pdf  
  2. S2-2016-308910-bibliography.pdf  
  3. S2-2016-308910-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2016-308910-title.pdf