GIZI, SHIFT, STRES, DAN MASA KERJA SEBAGAI FAKTOR RISIKO KELELAHAN SUBYEKTIF PADA PEKERJA WANITA UNIT WEAVING LOOM PT. PRIMATEXCO INDONESIA DI KABUPATEN BATANG
YULIA DWI ANDARINI, Prof. Dr. dr. Soebijanto; dr. Agus Surono, M.Sc, Ph.D, THT-KL
2016 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang. Salah satu pekerjaan yang memiliki risiko kelelahan kerja cukup tinggi adalah pada industri tekstil. Keterlibatan wanita dalam sektor industri tekstil di Indonesia semakin besar. Seorang tenaga kerja wanita yang menjalankan pekerjaan pada sektor domestik dan publik akan lebih cenderung mengalami kelelahan kerja. Kelelahan subyektif merupakan permasalahan yang dihadapi oleh tenaga kerja wanita bagian produksi unit weaving loom PT. Primatexco Indonesia di Kabupaten Batang. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status gizi, shift kerja, stres kerja dan masa kerja sebagai faktor risiko penyebab terjadinya kelelahan subyektif pada tenaga kerja wanita bagian produksi unit weaving loom PT. Primatexco Indonesia di Kabupaten Batang. Metode Penelitian. Jenis penelitian observasional analitik, menggunakan desain Cross Sectional. Subjek penelitian sebanyak 95 orang. Variabel bebas antara lain status gizi, shift kerja, stres kerja, dan masa kerja. Variabel terikat adalah kelelahan subyektif. Pengukuran variabel shift kerja dan masa kerja menggunakan kuesioner identitas responden. Pengukuran status gizi dengan menghitung IMT responden. Pengukuran stres kerja menggunakan kuesioner stres kerja metode skoring. Pengukuran kelelahan subyektif menggunakan kuesioner Subjective Self Rating Test. Besarnya faktor risiko kelelahan subyektif digambarkan dengan nilai OR dengan uji regresi logistik multinomial; sedangkan uji chi square digunakan untuk mengetahui status gizi, shift kerja, stres kerja, dan masa kerja sebagai faktor risiko kelelahan subyektif. Keseluruhan uji menggunakan Confidence Interval 95 % dan tingkat kemaknaan (p - value 0,05). Hasil Penelitian. Hasil uji chi square menunjukkan bahwa status gizi, shift kerja, stres kerja, dan masa kerja memiliki hubungan yang signifikan terhadap kelelahan subyektif. Operator wanita mesin weaving yang bekerja pada shift malam mempunyai risiko mengalami kelelahan paling tinggi dibanding faktor risiko lain, secara signifikan memiliki OR 21,93 dan 133,39 (95 % CI; p - value 0,00). Hasil analisis multivariat menunjukkan shift kerja memberikan pengaruh paling besar terhadap kelelahan subyektif pada model akhir. Kesimpulan. Status gizi, shift kerja, stres kerja, dan masa kerja merupakan faktor risiko terjadinya kelelahan subyektif pada tenaga kerja wanita bagian produksi unit weaving loom PT. Primatexco Indonesia di Kabupaten Batang. Faktor shift kerja merupakan faktor yang paling berperan dalam menentukan terjadinya kelelahan subyektif.
Background. An occupation with a high risk of work fatigue is an occupation in textile industry. The involvement of women in the textile industry sector in Indonesia has large. Women labors who run work on domestic and public sector will be less inclined a work fatigue. Subjective fatigue is the problem faced by women workers at production division weaving loom unit PT. Primatexco Indonesia in Batang regency. Objective. This study aims to determine factors that can cause subjective fatigue in weaving loom unit, PT Primatexco Indonesia, Batang Regency. Research Method. Type of observational analytic study using a cross sectional design. The number of research subject were 95 people. Independent variables are nutrition status, work in shift system, occupational stress, and length of work. The dependent variable is a subjective fatigue. Variable measurement of work in shift system and length of work were using respondents identity questionnaire. Variable measurement of nutrition status was using the Body Mass Indext (BMI). Occupational stress measurement was using job stress indicator questionnaire. Subjective fatigue measurement was using Subjective Self Rating Test questionnaires. The effect strength is calculated by using Odds Ratio (OR) from bivariate and multivariate analysis. Chi square test used as significance test. All test used 95 % confidence interval and significance level of p 0,05. Result. Chi square test result showed that nutrition status, shift work, occupational stress, and length of work have significant association with subjective fatigue. Women workers with night shift has the most risk of subjective fatigue, significantly had greater odds ratio (respectively 21,93 and 133,39; 95 % CI; p - value 0,00). Multivariate analysis showed that shift work has the most influence of subjective fatigue in final model. Conclusion. Nutrition status, shift work, occupational stress, and length of work are risk factors of subjective fatigue women workers in weaving loom unit, PT Primatexco Indonesia, Batang Regency. Work in shift system is the most factor to influence the subjective fatigue
Kata Kunci : Faktor risiko, kelelahan subyektif, tenaga kerja wanita, unit weaving loom; Risk factor, subjective fatigue, women workers, weaving loom unit