Laporkan Masalah

SEKOLAH KHONG KAUW HWEE SEMARANG: MENGGALI MULTIKULTURALISME DARI BAWAH

AGUS YULIONO, Dr. Setiadi, M.Si.

2016 | Tesis | S2 ILMU ANTROPOLOGI

Sejak tahun 1950, Khong Kauw Hwee (KKH) Semarang konsisten memberikan pelayanan pendidikan secara gratis kepada anak-anak dari keluarga miskin tanpa membedakan suku dan agama. Begitu juga, para guru yang mengabdi dari beragam etnis dan agama. KKH Semarang sekarang mengelola pendidikan tingkat TK-SD-SMP dan menjadi tempat pertemuan, persentuhan serta simpul-simpul yang subur antara aneka budaya sehingga meluapkan wawasan multikulturalisme hingga lintas kawasan. Sekolah KKH Semarang menjadi upaya yang terus berproses menjadi jembatan untuk saling belajar berbagai budaya melalui pendidikan sebagai bagian dari Keindonesiaan Nilai-nilai Khonghucu menjadi supporting value yang merasuk dan menjadi budaya sekolah. Nilai-nilai Khonghucu menjadi bagian dari pendidikan budi pekerti di sekolah dalam tataran ajaran kesusilaan (level of philosophie) yang lebih inklusif, tidak tersekat oleh batas budaya maupun agama. Sekolah KKH Semarang mengungkapkan bahwa pendidikan tidak hanya sekedar urusan didaktik dan metodik tetapi juga berkaitan dengan keadilan, kesetaraan dan hak untuk berbudaya. Pendidikan multikulturalisme hanya akan menjadi sebatas slogan dan tidak ada artinya jika hanya menjadi pelajaran kognitif belaka tanpa dihidupi dalam pengalaman sehari-hari untuk bersama dan berdialog dalam perbedaan. Membangun(kan) jembatan rasa kemanusiaan, kepedulian dan kebersamaan bagi KKH Semarang adalah melalui pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode dan pendekatan etnografi. Penting untuk menggali kearifan-kearifan budaya Tionghoa yang dapat dijadikan sumber energi sosial dalam mewujudkan masyarakat multikultural. Tepatnya penelitian ini bertujuan untuk menggali multikulturalisme dari bawah, berarti bahwa setiap budaya memiliki nilai-nilai kebersamaan di dalam dirinya sendiri dan dengan di luar dirinya atau budaya lainnya karena segala kehidupan penuh dengan interaksi dan keterhubungan dengan liyan. Kebudayaan lebih bermakna jika diiringi kebersamaan dengan liyan.

ABSTRACT Since 1950, Khong Kauw Hwee (KKH) Semarang has been consistent in providing free education for children from poor family without discrimination on ethnic and religious backgrounds. Similarly, the teachers in the school also come from various ethnicities and religions. KKH Semarang currently provides education for kindergarten, elementary, and junior high levels. It has become a place where various cultures meet, interact, and mingle into fertile ground for multicultural understanding across the region and beyond. KKH School Semarang becomes an ongoing effort to be a means of learning various culture through education, as part of the Indonesian ideals. Confucian values are the supporting values which have been integrated in the school. They also become the culture of the school. Confucian values become a part of ethics education at school in a more inclusive level of philosophy, unobstructed by cultural or religious differences. KKH Semarang states that education is not only didactic and methodic but also related with justice, equality, and the rights for culture. Multiculturalism education will only be a slogan without meaning if it is only applied as cognitive education but not applied in daily life and communication in a culturally-diverse environment. For KKH Semarang, humanity, compassion, and togetherness are built through education. This research uses ethnographic method and approach. It is essential to pursue the wisdom of Chinese cultures which can be used as a source of social energy in attaining a multicultural society. Specifically, this research aims to investigate multiculturalism from bottom-up, which means every culture values harmony among members as well as between them and other culture groups, because every life is full of interaction and connection with other people. Culture will be more meaningful if complemented by togetherness with other people.

Kata Kunci : KKH Semarang, nilai-nilai Khonghucu, multikulturalisme

  1. S2-2016-339994-abstract.pdf  
  2. S2-2016-339994-bibliography.pdf  
  3. S2-2016-339994-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2016-339994-title.pdf