REPRESENTASI POLIGAMI DALAM MEDIA CETAK ISLAM (ANALISIS WACANA KRITIS TERHADAP MAJALAH SABILI, SYIR'AH DAN NOOR)
DESSY MARDHIAH, S.SOS., M.SI., Prof. Dr. Heru Nugroho ; Wening Udasmoro, M.Hum., DEA
2016 | Disertasi | S3 Ilmu SosiologiIsu poligami seringkali mendapat perhatian penuh dari berbagai media massa termasuk khususnya majalah Islam yang melihat poligami dari sudut pandang berbeda. Penelitian ini mengekplorasi bagaimana majalah Islam yang populer pada satu dasawarsa reformasi yakni majah Syir'ah, majalah Sabili dan majalah NooR merepresentasikan isu poligami. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk 1) memahami pengkonstruksian dan penafsiran wacana poligami oleh majalah Islam; 2) memahami perempuan dalam wacana poligami pada majalah Islam; 3) penelitian ini juga bertujuan untuk memahami identitas perempuan yang direpresentasikan majalah Islam pada isu poligami. Penelitian ini menggunakan majalah Sabili, Syir'ah, dan Majalah NooR dari bulan Januari 2006 hingga Januari 2007 sebagai bahan kajian penelitian. Dikarenakan saat itu masyarakat sudah sampai sangat jenuh terhadap praktik poligami yang dilakukan pejabat, ulama dan selebriti sebagaimana diberitakan media massa. Selain itu, pertarungan wacana antara kelompok pro dan kontra poligami di berbagai media massa meletupkan kemarahan serentak perempuan terhadap poligami Aa Gym sebagai penceramah terkenal saat itu. Majalah Syir'ah, Sabili dan Noor mewakili kategori ideologi media dan segmentasi pembaca yang berbeda-beda. Penelitian ini menerapkan Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough sebagai metode analisis. Temuan dari penelitian adalah konstruksi wacana poligami dibangun atas dasar kebenaran masing-masing majalah Islam melalui pemilihan tokoh tertentu sebagai narasumber, penggunaan bahasa dan rujukan-rujukan terpilih. Majalah Islam tidak menunjukkan pembelaan terhadap perempuan melainkan menjadikan perempuan sebagai subyek yang dikontrol media. Sebagaiman majalah Syir'ah yang cendrung tidak memberikan ruang negosiasi antara perempuan dan laki-laki terhadap poligami tetapi lebih mengeksploitasi derita perempuan yang dipoligami. Majalah Sabili membuka ruang untuk dialog antara laki-laki dan perempuan dalam poligami namun Sabili menggiring dialog tersebut sebagai daya tarik untuk memenangkan kelompok pro-poligami. Majalah NooR hanya menampilkan wacana poligai sebagai sub wacana saja dan tidak memiliki keberpihakan untuk membela perempuan yang dipoligami. Identitas perempuan yang ditampilkan majalah Islam bukanlah identitas tunggal tetapi masing-masing majalah mentranformasikan identitas perempuan dari realitas yang ditampilkan menjadi realitas yang diingin media. Dengan demikian, masing-masing majalah Islam menghadirkan perempuan dalam wacana poligami sebagai subyek yang tertindas, yang dikonstruksi oleh kehadiran tokoh sebagai narasumber media, intervensi media dan akibat dominasi maskulinitas dan budaya patriarki yang tidak disadari melekat dalam ideologi para jurnalis di majalah Islam.
Polygamy issue often got full attention from various mass media, including, especially Islamic megazine who viewed polygamy from different perspective. This study explored how the popular Islamic magazine in a decade of reformation namely Syir'ah, Sabili, and NooR magazine that presented the polygamy issue. In particular, this study aims to 1) understanding and interpretation the construction of polygamy discourse by Islamic magazine; 2) understanding women in polygamy discourse in Islamic magazine; 3) It was also to understanding the identity of woman whom presented by Islamic magazine on the issue of polygamy. This study used Sabili, Syir'ah, and NooR magazine from January 2006 to January 2007 as a research study. Because the society has tired on the practice of polygamy done by functioners, Muslim scholars and celebrities, as reported in mass media at this time. Moreover, discourse debate between the pro and contra of polygamy in various mass-media simultaneously sparked anger women against polygamy as a preacher Aa Gym famous. Syir'ah magazine, Sabili and NooR represent categories of media ideology and segmentation of different readers. This research applies Norman Fairclough Critical Discourse Analysis as a method of analysis. The findings of the research was the construction of polygamy discourse built on the truth of each Islamic magazines through the selection of a particular characteristic as a resource, the use of language and references selected. Islamic magazine showed no defense against women but to make women as subjects who controlled by media. For example Syir'ah magazine tends to be ambiguous because it did not give space for negotiations between women and men against polygamy but rather exploited the suffering of women who polygamy deserving in her household. Sabili magazine open space for dialogue between men and women in polygamy but it lead the dialogue as an enticement to win the pro-polygamy group. NooR magazine show only polygamy discourse as sub discourse and do not have to defend women alignments polygamy. The identity of the women who displayed by Islamic magazine was not a single identity, but each of magazines transform the identity from real reality into reality desired by media. Thus, each of Islamic magazines brought women as oppressed subjects the polygamy discourse, constructed by the figures as a media's resources, media interventions and due to the dominance of masculinity and system of patriarchy c that are not recognized inherent in the ideology of the journalists in the Islamic magazines.
Kata Kunci : poligami, representasi, ideologi, identitas, majalah Islam / polygamy, representation, ideology, identity, Islamic magazine