TRANSFORMASI WACANA MILITERISME DALAM MEDIA Analisis Wacana Kritis Kasus Penyerangan Lapas Cebongan dalam Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat edisi 24 Maret - 8 September 2013
WAHYU PRASETYO DM, Prof. Dr. Drs, Purwo Santoso, MA, Ph.D
2015 | Skripsi | S1 ILMU PEMERINTAHAN (POLITIK DAN PEMERINTAHAN)Skripsi ini menggunakan kasus penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan dalam dalam pemberitaan Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat untuk memperlihatkan praktek politik dibalik tranformasi wacana. Melalui analisis wacana menggunakan model analisis Van Leuween yang menekankan pelacakan praktek ekslusi dan inklusi dalam pewacanaan, terlihatlah bahwa Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat terlibat dalam menstranformasikan pewacanaan, dimulai dengan pengutukan, kemudian secara perlahan-lahan bertransformasi menjadi mempahlawankan pelaku. Dengan kajian ini tengungkap bagaimana bahasa berguna secara politik, mengapa hal itu bisa terjadi, dan ada apa dibalik itu semua. Transformasi wacana dalam pemberitaan Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat dapat dilihat dalam level aktor, ide dan kosakata. Pada tataran aktor didominasi oleh pihak militer yang ditampilkan secara baik. Tranformasi wacana memungkinkan perubahan dari yang mulanya zero menjadi hero, dimungkinkan oleh berperannya konteks, yakni kuatnya hegemoni militerisme dalam masyarakat dan dalam level kognisi sosial media. Hegemoni ini menjadikan hubungan dengan militer dengan Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat itu sendiri kembali ke pro status quo.
This minithesis on Kedaulatan Rakyat newspaper to give readers insights into political pattern behind discourse contestation. Utilizing Van Leuween method of discourse analysis which puts emphasis on analyzing the use of practices of exclusion and inclusion in discourse process. We could see that Kedaulatan Rakyat actually play its part in transforming field of discourse, started by comdenation, then it gradually begins to the petpetrator and the military itself as a institution. By examining that thoroughly then it is brought into light the significance of language in politic , why it may happens, and political process behind it all Discourse transformation in Kedaulatan Rakyat can be seen on level of actor, idea and vocabulary. On actor level is marked by good representation of military institution. Discourse transformation makes it possible for military to be perceived as a hero. It is made possible by process of hegemony of militarism in society and social cognizion of media. Hegemony of militarism makes it inevitable that the contents of Kedaulatan Rakyat would be in favor of pro militarism and status quo.
Kata Kunci : hegemoni, militerisme, wacana/hegemony, militerism, discourse