MAKNA PUISI "YA ZAMANAL-HUZNI FI BAIRUTA" DALAM ANTOLOGI PUISI SYAI'UN SAYABQA BAINANA KARYA FARUQ JUWAIDAH: ANALISIS SEMIOTIK
NAKHMA AHSIN L, Dra. Hindun, M.Hum.
2015 | Skripsi | S1 SASTRA ARABFaruq Juwaidah adalah salah seorang penyair Arab kontemporer yang telah banyak menulis puisi. Salah satu puisinya adalah puisi yang berjudul "Ya Zamanal-Huzni Fi Bairuta" dalam antologi puisi Syai`un Sayabqa Bainana. Dalam puisi tersebut terdapat tanda-tanda yang harus diungkap agar puisi dapat dipahami maknanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengupas makna-makna yang dikandung dalam puisi tersebut dengan menggunakan teori semiotik. Analisis puisi dengan teori semiotik bermakna bahwa puisi dianalisis sebagai sebuah sistem tanda dan ditentukan konvensi-konvensinya sehingga puisi tersebut memiliki makna. Adapun metode yang digunakan adalah metode semiotik yang ditawarkan oleh Michael Riffaterre. Akan tetapi, dalam penelitian ini hanya dua langkah semiotik Riffaterre yang digunakan, yaitu ketidaklangsungan ekspresi dan pembacaan semiotik yang terdiri dari pembacaan heuristik dan hermeneutik. Setelah dianalisis, diketahui bahwa puisi ini merupakan sebuah gambaran keadaan kota Beirut ketika diterpa berbagai tragedi akibat perang saudara dan konflik antara Israel dengan Libanon serta konflik antara Israel dengan Palestina yang terjadi di Beirut pada tahun 1975 hingga 1983. Karena dilanda konflik besar tersebut, Beirut mengalami kerugian yang cukup besar dan warganya juga mengalami penderitaan berkepanjangan.
Faruq Juwaidah is one of the contemporary Arab poet who has written poetry extensively. One of his poetry is a poetry titled "Ya Zamanal-Huzni Fi Bairuta" in a poetry anthology Syai`un Sayabqa Bainana. In the poetry, there are signs that must be revealed in order that poetry can be understood its significance. This research aimed to explore the significance beyond of the poem by using semiotic theory. Poetry analysis with semiotic theory is a process to analyze a poetry as a system of signs and determined the conventions so that the poetry has significance. This research used semiotic methods offered by Michael Riffaterre. But, in this research there are only two Riffaterre semiotic stages were used: indirectly expression and semiotic reading which consists of heuristic and hermeneutic reading. After analysis, it found that the significance of this poetry was the situation in Beirut when Lebanese Civil War, Israeli-Lebanese and Israeli-Palestinian conflict happened in there in 1975 to 1983. These major conflicts led to Beirut experienced substantial losses and its people also experienced prolonged and terrible suffering.
Kata Kunci : Beirut, Perang Saudara Libanon, puisi, semiotik