Mutu layanan klinis pneumonia pada pasien Jamkesmas dan umum di RSAB Harapan Kita
RETNO WIDYANINGSIH, Prof. dr. Adi Utarini, MSc., MPH., PhD; DR. Dr. Felix Kasim, M.Kes
2015 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar belakang: Pneumonia merupakan penyakit pernapasan utama pada balita dengan angka kesakitan dan kematian yang tinggi di Indonesia bahkan di dunia. Di RSAB Harapan Kita pneumonia merupakan salah satu penyakit diantara 10 penyakit yang terbanyak di rawat inap. Dalam hal pelayanan kesehatan terhadap pasien, harus diperhatikan mutu pelayanan, berorientasi pada aspek keamanan pasien, efektifitas tindakan, kesesuaian dengan kebutuhan pasien, serta efisiensi biaya. Walaupun dalam memberikan pelayanan kesehatan terhadap pasien pneumonia terdapat perbedaaan dari segi jenis pembayaran diantara pasien umum dan Jamkesmas, namun dalam hal mutu layanan seharusnya tidak terdapat perbedaan, baik terhadap mutu klinis maupun manajemen. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur mutu layanan klinis kasus pneumonia dan hubungan antara mutu layanan dengan jenis pembayaran pada pasien pneumonia anak yang di rawat inap di RSAB Harapan Kita. Metode: Retrospective study menggunakan rancangan potong lintang dengan pendekatan kuantitatif, menggunakan data sekunder yang berasal dari catatan rekam medik pasien kelas III umum dan Jamkesmas, dengan diagnosis pneumonia berkode ICD-X J18.0 s.d J18.9 selama periode 3 tahun mulai Januari 2011-Desember 2013. Hasil: Penelitian dilakukan pada 492 pasien pneumonia terdiri dari 285 (57,9%) pasien dari kelompok jaminan kesehatan dan 207 (42,1%) pasien dari kelompok umum. Hasil penelitian pada seluruh/total pasien menunjukkan bahwa proporsi pasien dengan mutu pelayanan baik lebih besar pada pasien umum (8,7%) dibandingkan pada pasien jamkesmas (2,5%). Pasien umum mempunyai odds 3,8 kali lebih besar untuk mendapatkan mutu pelayanan yang baik dibandingkan pasien dengan jaminan kesehatan. Hasil analisis didapatkan nilai p = 0,004, artinya ada hubungan antara jenis pembayaran dengan mutu pelayanan klinis pneumonia pada derajat kemaknaan 5%. Sedangkan hasil analisis pada pasien dengan keparahan tingkat I, II, dan III tidak menunjukkan adanya hubungan signifikan antara jenis pembayaran dengan mutu pelayanan klinis pneumonia (p > 0,05). Kesimpulan: Hubungan mutu layanan klinis kasus pneumonia dengan jenis pembayaran Jamkesmas dan umum, menunjukkan bahwa pasien umum mempunyai peluang lebih besar untuk mendapatkan mutu layanan yang lebih baik mencakup proses diagnosis, terapi dan luarannya. Namun apabila dilihat secara total pasien, mutu layanan klinis baik yang terpenuhi sangat kecil yaitu 2,5% pada kelompok Jamkesmas dan 8,7% pada kelompok umum. Fenomena ini menunjukkan bahwa kepatuhan para dokter dalam tatalaksana pneumonia sesuai pedoman sangat kecil.
Background: Pneumonia is a major respiratory disease in infants with high morbidity and mortality in Indonesia and even in the world. At Harapan Kita Women and Children Hospital, pneumonia is included in 10 most common disease. In terms of health care to the patient, be aware of the quality of service, security-oriented, the effectiveness, compliance with the needs of patients, and cost efficiency. In providing health care to pneumonia patients there is a difference in terms of financing among patients, but in terms of quality of care should there is no difference. Objective: The purpose of this study was to measure the quality of pneumonia care and the relationship between the quality of services by type of payment in children hospitalized in RSAB Harapan Kita. Method: A quantitative study using secondary data derived from patient medical records, third class with health insurance and private, with pneumonia diagnosis coded ICD-X J18.0 J18.9 over a period of 3 years starting in January 2011-December 2013. Results: The study was conducted in 492 patients with pneumonia, consisted of 285 (57.9%) patients of group health insurance and 207 (42.1%) patients from the private group. The result of the whole / total patients showed that the proportion of patients with good care was greater in private patients (8.7%) than in health insurance patients (2.5%). A private patients had a 3.8 times greater odds to get good quality of care than patients with health insurance. The analysis results obtained value of p = 0.004, meaning that there was a relationship between the types of payments with the quality of clinical care of pneumonia at 5% significance level. While the results of the analysis in patients with severity level I, II, and III did not show any significant relationship between the types of payment with the quality of pneumonia clinical care (p> 0.05). Conclusion: The relationship between the quality pneumonia clinical care with the type of payment, indicated that private patients had a better chance to get a better quality of care including the process of diagnosis, therapy and outcome. However, in total patient, we found a good quality clinical care was very small at 2.5% in the group of health insurance and 8.7% in the private group. This phenomenon indicated that adherence of physicians in the management of pneumonia according to the clinical practice guidelines were very low.
Kata Kunci : Pneumonia, Quality of Care, Clinical Indicators