Penilaian Lingkungan Fisik Permukiman Kumuh di Kawasan Pesisir Kota Semarang
WINDA HANIFAH, Dr. rer.pol. Dyah Widyastuti, S.T., M.CP dyah.wied@yahoo.com
2015 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN WILAYAHPenilaian kawasan permukiman kumuh di kawasan pesisir menarik untuk dikaji karena hampir sebagian besar kondisi permukiman di seluruh pesisir Indonesia tergolong kumuh atau kurang mendapatkan perhatian. Salah satunya berada di kawasan pesisir Kota Semarang yang sudah berlangsung lama, kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor yang terkait antara satu dengan lainnya. Kawasan kumuh pesisir Semarang paling tinggi terjadi di Kelurahan Tanjung Mas dengan luasan mencapai 37,63 Ha dari total luas wilayahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kekumuhan kawasan permukiman Tambak Mulyo yang merupakan salah satu bagian wilayah Tanjung Mas, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkannya. Penelitian ini melibatkan masyarakat Tambak Mulyo yang berjumlah 163 orang. Pengumpulan data yang digunakan adalah pengkajian data sekunder, observasi, dan wawancara singkat. Metode penilaian tingkat kumuh kawasan permukiman dilakukan dengan sistem penilaian dengan skala tertentu terhadap indikator kondisi bangunan dan ketersediaan prasarana. Dari hasil penilaian selanjutnya dilakukan kategorisasi menjadi tiga tingkat kekumuhan yaitu kumuh ringan, sedang, dan berat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh wilayah RW di Tambak Mulyo memiliki tingkat kekumuhan yang tergolong sedang (skala 37 - 53) , dimana bangunan rumah di wilayah ini dapat dikatakan kurang layak huni. Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan kawasan permukiman kumuh di Tambak Mulyo yaitu jarak kedekatan dengan pusat kota, kemampuan ekonomi masyarakat rendah, pola perilaku masyarakat tidak sadar terhadap lingkungan, dan adanya ancaman banjir rob dan penurunan tanah.
Assessment of slum in coastal areas is interesting to be studied because most of the coastal settlements in Indonesia are in bad condition and get less attention. One of the slum is in Semarang coastal areas which has existed for a long time caused by various factors associated with each other. The biggest slum in Semarang coastal area occurred in Tanjung Mas, where the area is about 37,63 Ha of the total area. This study aims are to determine the level of untidiness of settlement area in Tambak Mulyo which is one part of Tanjungmas and also to identify the factors that cause slums in this region. The study involved the community of Tambak Mulyo totaling of 163 peoples. The methods of data collection in this study were secondary data assessment, observation, and brief interview. The method of slum area assessment was done with a scoring system applied to the building conditions and availability of infrastructure indicator. The calculation results were categorized into three levels of untidiness that was low, medium, and high level. The results showed that the entire regions in Tambak Mulyo have the same level of untidiness that are at the assessment level of 37 - 53, thus the buildings can be said are less habitable. Some of the influencing factors that contribute to development of slum area in Tambak Mulyo are the distance, which is within proximity to the city center, the ability of the local economy which is low, people's behavior that are not aware of their environment, and the threat from tidal flood and land subsidence.
Kata Kunci : Tambak Mulyo, penilaian, permukiman kumuh, tingkat kumuh, pesisir Semarang/ Tambak Mulyo, assessment, slum level, Semarang coastal area