Laporkan Masalah

Perjalanan Mitologis dalam Novel Haji Backpacker 9 Negara Satu Tujuan Karya Aguk Irawan

NOVI SRI PURWANINGSIH, Prof. Dr. Faruk, S.U.

2015 | Tesis | S2 Ilmu Sastra

Seiring dengan terjadinya globalisasi yang semakin meluas, peningkatan pencitraan cerita perjalanan menjadi fenomena sastra yang penting akhir-akhir ini. Namun, cerita perjalanan mutakhir ini dibayang-bayangi oleh cerita perjalanan colonial yang ditulis oleh orang-orang Barat mengenai Timur, yang berperan penting dalam penjajahan Barat terhadap wilayah-wilayah yang ada di luarnya. Oleh karena itu, penelitian ini mencoba memahami sejauh mana cerita perjalanan novel ini terpengaruh oleh wacana colonial dalam penggambarannya mengenai tempat-tempat dan orang-orang asing yang ditemui tokoh utama cerita dalam perjalanannya. Permasalahan itu dipahami dengan menggunankan teori cerita perjalanan Carl Thompson yang antara lain mengatakan bahwa cerita perjalanan pada dasarnya adalah cerita tentang negosiasi diri dengan liyan sebagai akibat terjadinya pergerakan dalam ruang. Karena data-data primer maupun sekundernya bersifat verbal, pengumpulan data dilakukan dengan metode simak. Hubungan antara cerita perjalanan dengan agenda-agenda kolonial ataupun poskolonial bersifat implikatif, metode analisis data yang digunakan adalah inferensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa segi penggambaran dunia, tepatnya negara-negara yang dikunjungi tokoh lebih menonjolkan subjektivitas dengan memperlihatkan gerakan dari pandangan jarak jauh ke jarak yang dekat. Dari segi pola cerita perjalanan yang digunakan, novel ini memperlihatkan tiga kecenderungan, yaitu kecenderungan kepada pola cerita perjalanan romantik, pola perjalanan eksploratif, dan pola cerita perjalanan mitologis. Dibandingkan dengan sifat romantik dan eksploratifnya, pola cerita perjalanan mitologis tampak lebih kuat dan lebih berpengaruh terhadap perjalanan tokoh cerita. Di sepanjang perjalanan dan di banyak masalah yang dihadapi, tokoh cerita seakan dipandu oleh kekuatan gaib, terutama mimpi atau bisikkan yang satu saat seakan menjadi kenyataan. Menyatunya hal-hal nyata dan gaib dalam cerita perjalanan dalam novel Haji Backpacker konsisten dalam strategi peliyanannya yang dominan, yaitu gabungan antara strategi peliyanan kolonial dengan poskolonial, yang disebut sebagai strategi peliyanan neo-kolonialisme karena sumber nilai yang dominan adalah nilai lokal/primordial. Selanjutnya, dari ketiga hal di atas terimplikasi agenda etis dan politis. Secara etis, novel Haji Backpacker menunjukkan sikap pluralistik dan toleransi dengan mengacu pada nilai-nilai lokal/primordial. Nilai-nilai itu membuat novel ini mencoba untuk memahami dan tidak segera melakukan penghakiman terhadap masyarakat dan tempat-tempat Asia yang dikunjungi tokoh.Secara politis, cerita perjalanan dalam novel ini berhasil melaksanakan agenda pembebasan diri dari hegemoni kolonialisme, tidak terperangkap ke dalam neo-kolonialisme yang menganut nilai-nilai kosmopolit Barat sebagai bekas penjajah wilayah geografis, sosial, dan kultural dari Asia. Hal itu menunjukkan sikap postmodern novel ini sebagaimana telah disebutkan dalam strategi peliyanan.

Nowadays, travel writing occurs as a phenomenon of literature due to globalization. However, this current travel writing is still influenced by colonial travel writing, written by Westerner about Easterner that relates to their colonization. Therefore, this study reveals how far colonial discourse influences travel writing, especially when there is description about places and Westerners met by protagonist in that travel writing. This study applies the theory of Travel Writing by Carl Thompson, focuses on how travel writing becomes a media to negotiate between self and other as the effect of movement in spaces. This study uses verbal as main and supporting data so that the collecting of data is done through listening method. Besides, the analysis data is done inferentially because it sees the relation between travel writing and postcolonial events. The result of this study shows that in reporting the world, the protagonist shows his subjectivity (from far to short perspective) about countries he visited. In addition, in the pattern of the travel writing, this novel shows three tendencies. They are romantic, explorative, and mythology. The mythology side is the major one because in most of the story, the protagonist is guided by a magic power, such as dream and whispering that become reality. The combination of the real and the magic in novel Haji Backpacker is a domination strategy of colonial and postcolonial in �othering�. It is also called neo colonialism othering because the source of value comes from local/primordial value. Moreover, there is ethic and politic agenda in novel Haji Backapcker. In ethic side, Haji Backpacker has pluralistic and tolerant that relates to local/primordial value so that there is no judgment toward Asia in this novel. In politic side, the travel writing in this novel reveals self-release from the hegemony of colonialism. There is no cosmopolite neo-colonialism about West as colonizer of Asian geography, social and cultural in this novel. It shows this novel postmodern attitude as already mentioned in the othering strategy.

Kata Kunci : agenda, diri, dunia, kolonial, liyan, mitologis, neo-kolonial, plural, poskolonial, postmodern, primordial

  1. S2-2015-351761-abstract.pdf  
  2. S2-2015-351761-bibliography.pdf  
  3. S2-2015-351761-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2015-351761-title.pdf