KUMPULAN CERPEN KERA DI KEPALA KARYA SOEPRIJADI TOMODIHARDJO SEBAGAI SASTRA PERJALANAN EKSIL
CANDRA RAHMA WIJAYA PUTRA, Prof. Dr. Faruk, S.U.
2015 | Tesis | S2 Ilmu SastraPenelitian ini menguraikan perjalanan seorang eksil yang termuat dalam kumpulan cerpen Kera di Kepala karya Soeprijadi Tomodiharjo. Eksil mengalami dislokasi geografis sehingga mengakibatkan diri eksil berada di masyarakat dan budaya yang asing, yaitu Barat. Dengan demikian, ada negosiasi antara diri eksil dengan Yang Lain. Untuk itu, penelitian ini mengkaji cerpen-cerpen Soeprijadi dalam kerangka sastra perjalanan seperti yang dipaparkan oleh Carl Thompson. Thompson menjelaskan ada tiga cara untuk melihat pola sastra perjalanan, yaitu dengan melihat penggambaran dunia, pengungkapan diri, dan perepresentasian Yang Lain. Selanjutnya, dari ketiga aspek tersebut akan dilihat implikasi etis dan politisnya sebagai agenda agenda sastra perjalanan. Penelitian ini menggunakan metode historis, metode perbandingan, dan metode inferensi logis seperti deduksi, induksi, dan silogisme. Hasil penelitiannya adalah bahwa latar belakang eksil sebagai orang yang dikucilkan dan melakukan perjalanan dengan terpaksa ternyata berpengaruh pada pola sastra perjalanan, yaitu pada penggambaran dunia dan perepresentasian Yang Lain. Dari pola sastra perjalanan tersebut dapat diketahui bahwa eksil memiliki dunia yang berlapis, yaitu antara Indonesia dan Barat. Adanya dunia berlapis ini sekaligus mengindikasikan permasalahan yang dialami eksil, yaitu masalah inferioritas di hadapan Barat dan kerinduan akan tanah air. Negosiasi yang dilakukan eksil adalah dengan menghadirkan Indonesia di negara Barat. Indonesia yang dihadirkan merupakan sebuah komunitas yang tersusun secara hierarkis. Untuk keluar dari permasalahannya, diri eksil justru tetap menghadirkan dirinya dan Indonesia lebih inferior di hadapan Barat. Strategi yang dilakukan eksil tersebut merupakan implikasi politis, sedangkan implikasi etisnya adalah pelanggaran etika oleh pengarang karena merendahkan Indonesia dan juga imigran non-eksil.
This research aims to explain the journey of an exile collected in an anthology of short stories Kera di Kepala by Soeprijadi Tomodiharjo. The exile experiences geographical dislocation that places him in Western society and culture of which he regards as alien. Therefore, there is negotiation between the self of the exile and the Other. This research analyzes the short stories under the travel writing framework suggested by Carl Thompson. According to Thompson, there arethree ways to determine the pattern of a travel writing. They are reporting the world, revealing self, and representing the Other. The three aspects reveal that there are ethical and political implications as the agenda of the travel writing. The methods used are historical, comparative, and logical inference methods like deduction, induction, and syllogism. The results show that the background of the exile as an expelled individual having an involuntary journey has an impact on the pattern of the writing. The impacts can be determined based on the reporting the world and representing the Other aspects. From the pattern, it can be revealed that the exile has a layered world cut between Indonesia and the West.This layered world indicates problems faced by the exile: inferiority in front of the West and a longing for his native country. The negotiation performed by the exile is by presenting Indonesia in the West. The Indonesia presented is in a form of a community organized hierarchically. To solve the problem, the self of the exile keeps presenting himself and Indonesia inferior in front of the West. The strategy is the political implication while the ethical implication is ethic violation by the author for condescending Indonesia and non-exile immigrants.
Kata Kunci : sastra perjalanan, eksil, terpaksa, penggambaran dunia, pengungkapan diri, perepresentasian Yang Lain, agenda