Representasi, Relasi Kuasa, dan Resistensi dalam Cerpen "Semua untuk Hindia" dan "Selamat Tinggal Hindia" Karya Iksaka Banu: Analisis Poskolonial
PURI MEI S., Dr. Pujiharto, M.Hum
2015 | Skripsi | S1 SASTRA INDONESIAPenelitian ini membahas masalah representasi, relasi kuasa, dan resistensi dalam cerpen "Semua untuk Hindia" dan "Selamat Tinggal Hindia". Teori poskolonial digunakan untuk melihat ketiga permasalahan itu dalam cerpen. Bentuk-bentuk representasi dalam cerpen menunjukkan berbagai gambaran pribumi dan nonpribumi pada masa rezim kolonial Belanda. Bentuk-bentuk representasi tersebut berhubungan dengan sikap, penampilan, cara berpikir, serta kecenderungan tokoh pribumi dan nonpribumi terhadap pemerintahan Belanda. Representasi yang ada dalam cerpen mengungkap relasi kuasa antara tokoh pribumi dengan nonpribumi, pribumi dengan pribumi, nonpribumi dengan nonpribumi. Dari hal itu tampak ketimpangan hubungan pribumi dengan nonpribumi akibat sistem kolonial yang berlaku, nonpribumi memiliki kedudukan di atas pribumi. Kedua cerpen Iksaka Banu juga memperlihatkan adanya usaha resistensi terhadap kolonialisme Belanda. Hal itu tampak dari usaha pengarang memasukkan wacana tandingan terhadap wacana kolonial yang membenarkan praktik kolonialisme. Wacana tandingan itu diselipkan pada tokoh-tokoh berbangsa Belanda, maupun pribumi. Dari para tokohnya, sang pengarang seperti ingin menumbuhkan kembali simpati dan perhatian terhadap bangsa Indonesia. Kedua cerpen itu menjadi sarana pengarang dalam memaknai berbagai realitas sejarah kolonialisme di Indonesia, yaitu empati terhadap perjuangan rakyat Indonesia.
This research discussed about representation, power-relation, and resistance in the short stories "Semua untuk Hindia" and "Selamat Tinggal Hindia". Post-colonial theory used to analyses those two short stories.The forms of representation in short story show various pictures of native and non-native in the Dutch colonialism era. Those forms of representation are related to the behavior, appearance, way of thinking, and tendency of the native and non-native toward Dutch governance.The representation in the two short stories reveals the power relation between native character and non-native character, between native characters, and between non-native characters. Disproportion exists in the relation between native and non-native due to colonial system, the non-native has higher authority than the native. Iksaka Banu's short stories show resistance trying toward Dutch colonialism. That seen from the author's work who enter match-discourse toward colonialism-discourse justified colonialism work. That match-discourse slipped in the Dutch characters and native.Through the characters, the author wants to give sympathy and attention for Indonesian civilians. Both short stories become the author's medium to give meaning to various history of colonialism in Indonesia, particularly emphaty for the struggle of Indonesian people.
Kata Kunci : representasi, relasi kuasa, resistensi, poskolonial