Laporkan Masalah

Minoritas di Negeri Sendiri, Strategi Masyarakat Jawa Tondano Menjaga Eksistensi, Identitas Islam dalam Integrasi Sosial di Masyarakat Minahasa

STEFAN M ANGKOUW, Miftah Adhi Ikhsanton, S.IP, M.iOP

2015 | Skripsi | S1 ILMU PEMERINTAHAN (POLITIK DAN PEMERINTAHAN)

Penelitian ini bermula saat muncul pertanyaan tentang mengapa ada kampung Jawa Tondano di Minahasa. Seluruh masyarakat Kampung Jawa Tondano beragama Islam dan keturunan Jawa. Dalam kehidupan sehari-hari mereka berhasil menunjukan identitas mereka di tengah masyarakat Minahasa. Dalam menunjukan eksistensi mereka tentunya melakukan berbagai macam strategi. Strategi sebuah masyarakat seperti Jaton dalam mempertahankan identitas mereka sebagai kelompok minoritas sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut. Hal ini pun menarik karena sebagai kelompok mayoritas di Indonesia mereka harus menerima keadaan sebagai minoritas di daerah lain. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berupa studi kasus tunggal dengan wawancara mendalam serta mencari sumber literatur untuk mengetahui politik bagaimana relasi dan strategi mereka dalam menunjukan eksistensi identitas. Dalam penelitian ini ditemukan masyarakat Jaton sebagai keturunan Kyai Modjo dan 62 pengikutnya yang diasingkan Belanda sejak 1830 mulai memperkenalkan teknik pertanian modern, industri, beradaptasi serta meleburkan diri dengan masyarakat lewat perkawinan dengan orang Minahasa. Hal tersebut tidak serta merta melunturkan aqidah sebagai seorang Muslim dan menggusur budaya Jawa mereka. Hal itu dibuat beriringan dengan budaya Minahasa yang tetap mendominasi kehidupan mereka. Peleburan antara budaya Jawa dan Minahasa menjadi pilihan yang tetap bagi mereka dalam mempertahankan posisi strategis mereka. Pengetahuan dijadikan sebagai posisi tawar mereka di tengah masyarakat Minahasa. Dari fenomena masyarakat Jaton ini kita melihat bahwa pengetahuan dapat menjadi kekuatan politik guna mempengaruhi orang lain. Pengetahuan, bahasa dan jaringan menjadi strategi mereka agar orang Minahasa dapat menerima mereka sebagai bagian dari etnis Minahasa dan sekaligus mempertahankan identitas Islam sebagai jati diri mereka.

This research starts with the question: why there is a place like a Jawa Tondano village in Minahasa. All the Jawa Tondano Villagers are Moslem and Javanese blood whom living in Minahasa as a Christian basic area. In daily activities they are free to express to the others about their identity as a Moslem and Javanesse. They used some strategies to express and maintaining their identity so that is the reason about what this research is important and interesting topic. The unique things are as a majority group in Indonesia Jatonesse have to face the reality they are a minority in Minahasa, and as a minority they have some strategies to stand with their identity as Moslem. This research was using qualitative method of research like case study with in-depth interview and also gain the data from the documents. In this research explain about the Jaton as a Kyai Modjo and his 62 followers generations who was exiled by Dutch since 1830 begun to introduce about agricultural modern techniques and home industry. They were also adapted and consolidated themselves with the people through a marriage with Minahasa girls. The marriage did not fade their believe and aqidah as a Moslem and Javanese culture they had. As an immigrant in Tondano Minahasa, they were learning about Minahasa culture and applying to their life together with their own culture. Amalgamation between Minahasa and Javanese culture made a Jatonesse. That is the top one option to keep their position save in the new country. The power of knowledge, adaptation and language are their key to get a control of Minahasa people. This phenomenon shows us how knowledge could be political power that influence others. They are the strategies to prevent the Minahasan accept them as a part of Minahasa ethnic and retain their identity as a Moslem.

Kata Kunci : Minahasa, Strategi Etnis, Eksistensi, Jawa Tondano, Kyai Modjo/Minahasa, Ethnic Strategy, Jawa Tondano, Kyai Modjo

  1. S1-2015-317987-abstract.pdf  
  2. S1-2015-317987-bibliography.pdf  
  3. S1-2015-317987-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2015-317987-title.pdf