SENI KERAJINAN BATIK LAWEYAN SURAKARTA DALAM DINAMIKA SOSIAL DAN EKONOMI PERIODE 2004 - 2014
EDI KURNIADI, Prof. Dr. Timbul Haryono, M.Sc.; Prof. Dr. Djoko Suryo, MA.; Prof. Drs. SP. Gustami, S.U.
2015 | Disertasi | S3 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni RupaWilayah Kelurahan Laweyan, Kecamatan Laweyan, Pemerintah Kota Surakarta dikenal sebagai sentra industri batik, yang pernah mengalami masa kejayaan seperti yang terjadi pada awal abad ke-20 dan pernah mengalami keterpurukan sejak tahun 1980-an hingga tahun 1990-an. Pada saat industri batik di Laweyan mengalami keterpurukan, justru muncul perajin-perajin muda yang sedang merintis usaha pembuatan batik dan ternyata mampu bertahan hidup hingga saat ini (2015), sehingga industri batik di Laweyan terhindar dari kepunahan. Agar usaha pembuatan batik terhidar dari keterpurukan yang berkepanjangan dan sekaligus untuk meraih kembali kejayaan batik Laweyan, pada tahun 2004 wilayah Kelurahan Laweyan resmi dijadikan sebagai klaster industri batik dan sebagai destinasi pariwisata bernama Kampoeng Batik Laweyan. Pokok permasalahan dalam disertasi berupa kemampuan bertahan hidup usaha pembuatan batik dilihat dari aspek struktur dan fungsi pekerja/perajin, aspek proses pembuatan batik, dan aspek ornamen batik. Dikupas melalui pendekatan multidisipliner menekankan pada aspek kesejarahan. Penelitian kualitatif menggunakan teknik observasi langsung dan wawancara mendalam untuk mendapatkan informasi dari para narasumber. Penelitian yang sudah dilakukan memberi gambaran bahwa : (1) Sentra industri batik di Laweyan mampu bertahan hidup, dikarenakan beberapa aspek yaitu: memilki potensi alam dan lingkungan yang mendukung; memiliki latar belakang sejarah yang kuat sebagai daerah penghasil kerajinan batik; para perajin mampu menyesuaikan diri dalam internal perusahaan dan faktor eksternal yang berpengaruh; dilaksanakannya nilai budaya perusahaan dan diwariskan pada penerus; memiliki keunggulan dan kecepatan dalam proses perwujudan; mampu mengasilkan kerajinan batik dengan ornamen yang bersifat dinamis dan kompetitif; dan regenerasi perajin berlangsung dengan baik. (2) Setelah Kampoeng Batik Laweyan didirikan para perajin lebih dinamis dalam membuat kerajinan batik untuk masyarakat luas dan membuat suvenir batik untuk wisatawan. Para perajin secara dinamis mengembangkan kegiatan wisata belajar membuat batik, dengan hasil kegiatan berupa "batik dalam wisata edukasi kreatif" yang memiliki ciri-ciri, sebagai berikut: proses perwujudan dilakukan oleh wisatawan bekerjasama dengan perajin sebagai pemandu; dibuat dalam waktu relatif singkat; murah biayanya; dan hasilnya berupa suvenir batik sebagai karya kolaborasi menjadi milik wisatawan.
Laweyan village which is included in the District of Laweyan in Surakarta has been recognized as the center of batik industry that had its glory in the early 20th century and its fall in 1980s to 1990s. During the fall of batik industry in Laweyan, many young craftsmen that just started building their batik industry began to emerge and the industry survive until now (2015). To keep the industry alive and to be able to recapture its glory in 2004, the village of Laweyan officially was appointed as the batik industry cluster and one of the most desirable tourist destinations named Kampoeng Batik Laweyan. This dissertation discusses the ability of the batik industry to survive which is viewed from the structure and function of the batik craftsmen, as well as the process of producing batik and the batik ornaments. Multidisciplinary approach is used to emphasize its historical aspect. This research is a qualitative research using direct observation technique on the batik product and in-depth interview technique with the resource persons. According to the previous researches: (1) the batik industry center in Laweyan can survive due to several aspects which are: having natural potential and the supportive environment, the solid historical background as batik producer, the craftsmen who are good at adapting to the influential internal and external factors in the company of the batik industry, having the implementation of the company cultural values which is passed along to the next generation; the superior and the speedy process in producing batik, the ability to produce dynamic and competitive batik ornaments, and the good regeneration of batik craftsmanship, (2) After Kampoeng Batik Laweyan was established, the craftsmen are more enthusiastic in producing batik for the customers and in producing souvenirs for tourists. They develop the education tour for the tourists where the tourists can learn and practice how to make batik resulted in the activity called "batik in creative education tour" which has the following characteristics: the production process done by the tourists together with the craftsmen as their guides; the souvenir is made in a very short time, with low cost of production, and the tourists can keep the product of the collaborative work as souvenirs.
Kata Kunci : Batik Laweyan, dinamis, kompetitif, dan bertahan hidup