Kontestasi Wacana Rias Dalam Tubuh Penari Kraton Yogyakarta
RENGGANIS RETNO DEWATI, Dr. Wening Udasmoro, M. Hum, DEA.
2015 | Tesis | S2 Kajian Budaya dan MediaPenelitian ini mengkaji tentang kontestasi wacana rias yang terjadi dalam tubuh penari kraton Yogyakarta. Fokus penelitian ini adalah pada tiga hal yaitu; bagaimana pengetahuan dan praktik disipilin rias dalam tari kraton Yogyakarta sebelum kedatangan rias modern; bagaimana diskontinuitas pengetahuan rias tari kraton Yogyakarta dalam wacana rias modern; bagaimana tubuh penari kraton Yogyakarta sebagai subjek disiplin kraton dan sebagai arena kontestasi dari wacana rias tari kraton lama dan wacana rias modern. Menggunakan arkeologi Foucauldian, penelitian ini ingin menunjukkan bahwa rias dalam tari kraton yang selama ini dianggap wajar, normal, dan alamiah sesungguhnya tidaklah netral dan merupakan sebuah produk dari sistem pengetahuan dan kuasa tertentu. Pengetahuan rias tari kraton pada masa lalu mewujud lewat mekanisme disiplin yang erat kaitannya dengan fungsi ritual. Ketika tari kraton dibawa keluar kraton, pengetahuan rias tari kraton terdiskontinu dan bertemu dengan diskursus rias modern melalui wacana rias panggung dan rias populer. Wacana rias modern lebih memaknai pentingnya tampilan visual dibandingkan ritual, seperti kecantikan yang dihadirkan lewat bahan rias yang aman dan sehat untuk kulit, atau riasan yang tidak pucat ketika diatas panggung. Wacana rias modern ini berkontestasi dengan wacana lama dalam praktik pendisiplinan rias penari kraton sekarang. Misalnya dalam disiplin kemandirian rias dan pengawasan tubuh yang melibatkan penonton. Kontestasi wacana ini pada akhirnya adalah sebuah strategi ekonomi politik kraton pada tubuh penari. Kata Kunci : Rias, Tari kraton, Arkeologi, Kontestasi, Diskontinuitas, Pengetahuan, Tubuh.
This research explores the contestation of the make up discourses that occur in the body of kraton Yogyakarta's dancers. This research focuses on: the make up knowledge and discipline practice in kraton Yogyakarta's dances before the arrival of the modern make up; the knowledge discontinuity of kraton Yogyakarta's dances make up in the modern make up discourse; and the body of kraton Yogyakarta's dancers as a kraton disciplinary subject and as a contestation arena of the past and the modern make up discourse. Using the Foucauldian archaeology, this research shows that the kraton's dances make up, which had been considered as normal, likely, and natural, are, in fact, not neutral. They are a product of certain knowledge and power systems. In the past, the kraton's dances make up knowledge were embodied through a discipline mechanism which were closely related to the ritual function. When the kraton dances were taken out of the palace, the kraton's dances make up knowledge were discontinued and converged with the modern make up knowledge through the stage and popular make up discourse. The modern make up discourse interprets more on the importance of visual appearance rather than the ritual, such as the beauty which is presented through the safe and healthy make up materials for the skin, or the make up that does not look pale on stage. Nowadays, the modern make up discourse is contested to the old discourse in the disciplinary practice of kraton dancers�¢ï¿½ï¿½ make up, such as the discipline of a self reliance and a body supervision which are involving the audiences. In the end, this discourses contestation become kraton's political economy strategy in the dancers�¢ï¿½ï¿½ body. Keywords: Make up, Kraton Dance, Archaeology, Contestation, Discontinuities, Knowledge, Body.
Kata Kunci : Make up, Kraton Dance, Archaeology, Contestation, Discontinuities, Knowledge, Body.