Resepsi Orang Tionghoa Terhadap Tayangan Ketionghoaan Di Lima Stasiun Televisi Swasta
LILIEK SOELISTYO YUWONO, Prof. Dr. Faruk; Dr. Budiawan
2015 | Disertasi | S3 Kajian Budaya dan MediaKetika Presiden Abdurrahman Wahid mengeluarkan Keppres No.6/2000 yang memperbolehkan penyelenggaraan kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadat orang Tionghoa, orang Indonesia-Tionghoa merespon kebebasan ini dengan melakukan ritual-ritual ketionghoaan secara terbuka, menghias tempat-tempat publik dengan hiasan Imlek, dan menonton acara hiburan ketionghoaan yang ada di stasiun-stasiun televisi swasta selama hari raya Imlek.Hampir seluruh stasiun televisi swasta menayangkan acara-acara hiburan ketionghoaan mulai dari acara komedi, nyanyian, tarian, bahkan ramalan dengan horoskop Tionghoa. Hal ini menggerakkan keingintahuan saya tentang resepsi orang Indonesia-Tionghoa terhadap acara-acara ketionghoaan itu setelah hampir 32 tahun dibungkam. Disertasi ini mengasumsikan bahwa ketika menonton acara ketionghoaan di televisi, orang Indonesia-Tionghoa mengkonstruksi dan memberi makna, dan sekaligus dikonstruksi secara variatif berdasarkan latar belakang budaya mereka, umur, dan gender. Berangkat dari teori resepsi, khususnya dari sudut pandang konstruksionis, studi ini mempunyai argumentasi bahwa orang Indonesia-Tionghoa melibatkan diri dalam media yang mereka tonton dan memaknainya sesuai dengan resepsi mereka masing-masing. Metode Penelitian yang digunakan adalah pendekatan etnografi pada kehidupan para informan yang terlibat dalam penelitian ini selama hampir dua tahun. Metode ini memperkenankan para informan berbicara lewat wawancara, dan partisipasi observasi saya. Data dikumpulkan dan dikategorisasikan untuk mendapat wawasan tentang temuan. Studi ini menyimpulkan bahwa meskipun para informan mempunyai resepsi yang berbeda-beda berdasarkan latar belakang budaya, umur, dan sejarah, mereka menuntut pengakuan seperti orang non-Tionghoa yang hidup di Indonesia. Televisi mengangkat sekaligus mengancam orang Tionghoa. Selain hal itu, identitas mereka dikonstruksi berdasarkan ruang dan waktu sebagai akibat menonton televisi. Di samping itu, ada kenyamanan sekaligus kecemasan yang meliputi mereka tentang posisinya sebagai salah satu bagian dari bangsa ini, mengingat selama ini masih tidak ada kepastian hukum yang menjamin hidup mereka sebagai warga negara Indonesia.
There has been a kind of overwhelming expression on Chinese culture on televisions during the Chinese New Year. This is due to the fact that the culture has been permitted to be expressed through the Presidential Decree no. 6/2000 issued by the Government of Abdurrahman Wahid. I see that during the Chinese New Year most television channels present many shows that deal with Chinese cultural performances. Many Chinese-Indonesians respond the freedom of celebrating the Chinese culture by having the Chinese rituals, decorating the public places and performing and watching the television shows, ranging from comedy shows, talk-shows, and even fortune telling done by Chinese fortune tellers. This has aroused my curiosity how the Chinese-Indonesians read and experience in watching the Chinese shows on television after they have been forbidden for almost 32 years. This dissertation has the assumption that while watching the Chinese television shows, the Chinese-Indonesians construct and are constructed, as well as give meanings differently based on their cultural experience, age and gender. Based upon the theory of reception, with its constructionist view theory used as a focus, the study argues that the Chinese-Indonesians get involved in the media they watch and give meanings according to their own receptions. This research is conducted by employing an ethnographic approach into the lives of the informants who have been involved in the study for almost two years. This method favoured the informants to speak for themselves through structured and unstructured interviews, and my observation-participation. Data were compiled and categorized to enable me to gain the insight of the findings. This study concludes that there are the different kinds of reception based on my informants½ cultural background, age, and history. Television has admitted as well as threatened the Indonesian-Chinese. Despite their feeling at 'home' the feeling of anxiety has dominated the Chinese-Indonesians' minds in dealing with their fluid identity.
Kata Kunci : televisi, resepsi, kecemasan, kenyamanan, identitas/television, reception, anxiety, feeling at home, identity