Laporkan Masalah

Representasi Pemikiran Pramoedya pada Tokoh-tokoh Nativephilia, Analisis Pascakolonial Homi K. Bhabha, Pada Roman Tetralogi Pulau Buru Karya Pramoedya Ananta Toer

GUNTUR SEKTI WIJAYA, Prof. Dr. Faruk, S.U.

2015 | Tesis | S2 Ilmu Sastra

Di dalam masyarakat Indonesia masih ada informasi yang menjebak bahwa segala hal yang berbau Belanda adalah buruk. Dampak ideologis dari kolonialisme yang telah terjadi membuat Eropa (Barat) tampak sebagai ras yang unggul dalam segala hal terhadap Pribumi (Timur). Konstruksi seperti ini berjalan searah karena kurangnya wacana untuk mendekonstruksi wacana mengenai keberadaan mereka. Itulah sebabnya sebuah wacana baru amat dibutuhkan untuk menolak hal tersebut. Salah satu media wacana yang menentang wacana tersebut, yang juga merepresentasikan Timur, ialah roman kolonial karya orang Timur. Pada masyarakat di dalam roman itu terdapat orang-orang Eropa yang patut dicurigai gerak-geriknya karena mereka berpotensi terlihat memunyai kasih sayang atau ketertarikan kepada Pribumi sehingga Timur (Pribumi) dapat dikonstruksi tidak berada di bawah Barat (Eropa). Orang-orang yang berhaluan kepada Pribumi ini diistilahkan sebagai nativephilia. Objek material penelitian ini ialah Roman Tetralogi Pulau Buru yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer, terdiri dari empat novel yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Sedangkan objek formal pada penelitian ini ialah pemikiran Pram yang dituangkan di dalam roman melalui karakter tokoh-tokoh nativephilia. Penelitian ini melihat keterbelahan atau keretakan jati diri pada tokoh-tokoh tersebut yang memilih antara berpihak kepada Barat dan juga kepada Timur. Kecenderungan kepada Barat atau Timur itulah yang menjadi representasi pemikiran Pram sehingga dapat dilihat di mana Pram menempatkan dirinya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pram memberikan konstruksi bahwa Eropa tidak selalu menempati atau direfleksikan sebagai Eropa itu sendiri, namun mereka dapat menempati atau direfleksikan sebagai Eropa yang lain. Mereka membagi dirinya menjadi dua bagian yang bersemayam pada tempat yang sama. Bagian yang satu tetap menggunakan Eropa kolonialnya sebagai kenyataan, bagian yang lain malah menggunakan non-Eropa kolonialnya sebagai kenyataan yang lain pula. Pram pun dapat dibaca bahwa sebagai duta Timur ia tidak dapat menjelek-negatifkan Eropa secara total. Eropa masih memunyai sisi-sisi baik mereka yang diaplikasikan pada tokoh-tokoh nativephilia ini kepada Pribumi. Eropa dapat membebaskan dan juga sekaligus membelenggu Pribumi. Di sinilah konsep split itu terjadi. Pram pun diketahui relatif mempertahankan posisi dirinya sebagai Timur yang adil atau bijak. Melalui tokoh-tokoh nativephilia-nya, ia memandang Barat tidak terlalu sebagai musuh dan juga tidak terlalu sebagai kawan. Ia merespons Barat secara adil dengan porsi yang tepat. Pengalamannya sebagai bagian dari Hindia Belanda (kelompok terjajah) tidak membuatnya membenci Eropa secara keseluruhan atau berlebihan, namun ia menakar Eropa dengan kalkulasi yang proporsional.

In the Indonesian society there is trapped information that averything about Dutchman is bad. Ideological impact of colonialism which was happen maka Europe (West) looks like a race whom is superior in everything than Indigene (East). Construction like that is running on the one way because the discourse to deconstruct about that is less. That is why the new discourse require to be showed to reject it. A discourse which can do that, is also represented the East, is colonial roman which the author come from the East. In the society of that roman there are European whom are detected have love or interest to the Indigene so the East (Indigene) can be constructed not be under the West (Europe). The european figures like that are called as nativephilia. The material object od this research is Roman Tetralogi Pulau Buru which the author is Pramoedya Ananta Toer, consist of four novels: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. The formal material in this research is thought of Pram which is placed in the character of nativephilia figures on the roman. This research look the split of identity on that figures whom choose to like the West and also like the East. That the West-East tendency become the representation of thought of Pram so we can see where Pram put himself. The result of this reseacrh show that Pram give his construction that Europe is not always take or be reflectioned as Europe itself, but they can take or be reflectioned as another Europe. They divide themselves as two parts which are put on the same place. One part still use the colonial Europe as reality and on the contrary another part use the non-colonial Europe as another reality. Pram also can be read that as the representation of the East he can not call Europe as evil totally. Europe still have good sides which be applicationed by nativephilia figures to the Indigene. Europe can release and also handcuff the Indigene. The split concept is happen here. Pram also is known that relatively he keep his position as the fair or wise East. Through his nativephilia figures, he look the West not also as the enemy but also is as the friend. He respons the West fairly in the right portion. His experience as the part of Hindia Belanda (colonized) does not make him hate Europe totally or excessively, but he weigh the Europe in the proportional calculation.

Kata Kunci : Pram, nativephilia, terbelah, Barat-Timur, Eropa-Pribumi

  1. S2-2015-305864-abstract.pdf  
  2. S2-2015-305864-bibliography.pdf  
  3. S2-2015-305864-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2015-305864-title.pdf