Peran Musik Gospel Melawan Kekerasan Struktural di Afrika Selatan Pasca Penetapan Konstitusi Tahun 1996
SHANGRILA ROSIANA DJEHADUT, Drs. Samsu Rizal Panggabean, M.Sc.
2015 | Skripsi | S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONALPasca runtuhnya politik apartheid dan ditetapkannya konstitusi tahun 1996, penduduk Afrika Selatan masih mengalami kekerasan struktural berupa kemiskinan, kelaparan, ataupun diskriminasi. Pemerintah dianggap kurang mampu untuk menyelesaikan warisan apartheid ini mengingat fokus utamanya adalah pembangunan negara melalui investasi asing. Pada tahun 2002 muncul sebuah kelompok paduan suara Gospel yang keberadaannya mampu melawan kekerasan struktural di Afrika Selatan. Gerakan musik Gospel melawan kekerasan struktural melalui tiga mekanisme. Pertama, Gerakan ini mampu mengorganisasi masyarakat kulit hitam Afrika Selatan yang mereka kebanyakan adalah masyarakat terpinggirkan dan terdiskriminasikan dalam aspek-aspek kehidupan. Identitas bersama yang mendorong lahirnya perasaan saling memiliki dalam kelompok, dan akhirnya membuat mereka mau dikerahkan untuk bertindak dengan satu cara yang sama dan saling menguntungkan. Kedua, mobilisasi menjadi semakin mudah dilakukan oleh gerakan Musik Gospel karena mereka sudah terorganisasi sebelumnya. Ketiga, Seruan-seruan akan ketidakadilan yang disuarakan dalam bentuk lagu-lagu oleh kelompok paduan suara musik Gospel terbukti dapat menarik minat penonton yang netral dalam masyarakat luas. Gerakan Musik Gospel ini juga mampu untuk menyediakan bantuan-bantuan sosial bagi banyak masyarakat kulit hitam lainnya di Afrika Selatan yang masih mengalami kekerasan sruktural.
After the collapse of apartheid and the enactment of the constitution of 1996, the black population of South Africa is still experiencing structural violence of poverty, hunger, or discrimination. The Government considered less able to resolve the legacy of apartheid because its main focus of the national development through foreign investment. In 2002 rose a Gospel choir group whose existence was capable of against structural violence in South Africa. Gospel music movement against structural violence through three mechanisms. First, the movement was able to organize the black community of South Africa, they are mostly marginalized communities and discriminated in other aspects of life. Common identity which encourages the birth of a feeling of belonging to a group, and finally makes them want to act in a similar way and mutually beneficial. Secondly, mobilization is becoming increasingly easy to do by the Gospel Music movement because they had previously organized. Thirdly, appeals will be "injustice" are voiced in the form of songs by the choir Gospel music is proven to attract "an audience" in neutral wider community. Gospel Music movement is also able to provide social assistance for many other black people in South Africa are still experiencing violence structurally.
Kata Kunci : musik gospel, kekerasan struktural, perlawanan, gerakan nir kekerasan, masyarakat kulit hitam