Gerakan Urban Farming: Studi atas Mobilisasi Sumber Daya oleh Komunitas Bandung Berkebun
INTAN ZAINAB BAUW, Dr. Suharko
2015 | Tesis | S2 SosiologiUrban farming secara harfiah merupakan aksi bertani, mengolah dan mendistribusikan bahan pangan di dalam wilayah batas kota. Selama ini mayoritas aksi urban farming di beberapa belahan dunia seperti misalnya Havana dan Detroit diawali oleh permasalahan krisis pangan atau ekonomi yang dihadapi oleh wilayah tersebut. Sementara itu, urban farming di Indonesia semakin masif digalakan dan dikenal secara lebih luas oleh masyarakat Indonesia melalui gerakan urban farming yang digagas oleh beberapa kota besar di Indonesia melalui Indonesia Berkebun. Gerakan urban farming di Indonesia khususnya Bandung diawali oleh keprihatinan para pioneernya akan banyaknya lahan terbengkalai di perkotaan. Gerakan urban farming yang digagas oleh Bandung Berkebun menjadi menarik bagi peneliti karena dalam waktu yang relatif singkat, yaitu sekitar empat tahun, Bandung Berkebun mampu meraih beberapa pencapaian melalui kolaborasi aksi serta program yang mereka lakukan dengan banyak pihak, dari mulai komunitas lokal, swasta, masyarakat, universitas, bahkan pemerintah. Penelitian ini berupaya mengungkapkan bagaimana mobilisasi sumber daya yang dilakukan oleh Bandung Berkebun dibalik segala pencapaian yang telah diraihnya dengan menggunakan teori gerakan sosial khususnya penedekatan mobilisasi sumber daya dari Mc Carthy dan Edwards. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan model studi kasus. Teknik pengumpulan data dan informasi yang digunakan adalah wawancara langsung, observasi partisipan dan studi data sekunder. Adapun hasil temuan di lapangan menunjukan bahwa mekanisme yang dilakukan oleh Bandung Berkebun dalam mengakses sumber daya untuk kepentingan gerakan yang mereka lakukan adalah agregasi serta produksi secara mandiri. Tipologi sumber daya yang berhasil diakses oleh Bandung Berkebun meliputi sumber daya manusia berupa penggiat yang kreatif, sumber daya kultural berupa ide-ide dan konsep yang inovatif serta sumber daya sosial organisasional berupa jejaring yang kuat. Penelitian ini menunjukan bahwa proses mobilisasi sumber daya yang dilakukan oleh Bandung Berkebun sebagai organisasi gerakan sosial lokal mampu meraih pencapaian-pencapaian tidak sedikit dalam konteks keberlanjutan komunitas. Namun, dalam konteks keberlanjutan serta realisasi visi gerakan, proses mobilisasi yang terjadi masih sekedar mobilisasi yang belum sepenuhnya mengarah kepada upaya memastikan tumbuhnya partisipasi dan kesadaran dari masyarakat Bandung secara luas dalam memanfaatkan lahan terbengkalai melalui urban farming.
Urban farming literally are farming, processing and distributing food within the city boundaries. So far, majority of urban farming in all over the world such as Havana and Detroit preceded by the food crisis or economic problems that faced by the region. Meanwhile, urban farming in Indonesia has long been practiced by most urban communities, particularly those whose come from lower class. Urban farming movement in Indonesia, especially Bandung was preceeded by the piooners who have concern in many abandoned lands in urban areas. Urban farming movement initiated by the Bandung Berkebun become researchers's interest because in a short time, which is about four years, Bandung Berkebun are able to reach some achievements through collaborative action and programs which they did with a lot of parties, ranging from the local community, private, public, universities, and even the government. This research seeks to reveal how Bandung Berkebun mobilize their resource behind all of achievements that have been reached. This research was conducted using qualitative method with case study model. Information and data collection techniques used were interviews, participant observation and study of secondary data. The findings in the field showed that mechanism which conducted by Bandung Berkebun in resources acces are aggregation and self-production. Typology of resources that successfully accessed by Bandung Berkebun are human resources in the form of creative activist, cultural resources in the form of innovative ideas and concepts, and organizational and social resources in the form of a good networks. This study shows that resource mobilization process of Bandung Berkebun as a local scoial movement organization have many achievement, in community sustainability. However, from point of view of sustainability and realization of movement’s goal, mobilization process that occurs is still a mobilization that has not been fully directed to ensure the growth of public participation and awareness of Bandung widely in utilizing abandoned lands through urban farming.
Kata Kunci : urban farming, gerakan sosial, organisasi gerakan sosial, mobilisasi sumber daya