Laporkan Masalah

SOLO FESTIVAL CENTRE DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR EVENT

NABILA AFIF, Dr. Ir. Budi Prayitno, M.Eng., Ph.D.

2015 | Skripsi | S1 ARSITEKTUR

Industri parwisata MICE adalah salah satu jenis industri pariwisata dengan perkembangan yang sangat menjanjikan di masa depan bisnis pariwisata baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Sifatnya yang relatif tidak bergantung pada keindahan alam daerah, cuaca maupun tren pariwisata massal membuatnya memungkinkan untuk dikembangkan diberbagai daerah. Kota Surakarta merupakan salah satu kota destinasi utama pariwisata MICE di Indonesia terhitung sejak tahun 2009. Selain itu, Kota Surakarta juga telah ditetapkan sebagai Kota Kreatif Berbasis Desain pada tahun 2013. Kota Surakarta menunjukkan keseriusan yang menonjol dalam usaha pengembangan industri pariwisata MICE dalam bentuk berbagai kebijakan pemerintah yang mendukung penyelenggaraan berbagai event bulanan maupun tahunan dengan promosi kolektif yang terorganisir. Selain itu, upaya city branding Solo: The Spirit of Java juga dinilai berhasil menjadi bagian dari keseluruhan upaya promosi kota ini. Jika ditinjau dari berbagai event yang diselenggarakan di Kota Surakarta sepanjang tahun 2014 dan dari rencana rangkaian event tahun 2015, dapat diketahui bahwa festival merupakan jenis event yang paling sering diadakan di Kota Surakarta, tersebar di beberapa venue seperti Taman Sriwedari, Taman Balekambang, Jalan Slamet Riyadi, hingga Pura Mangkunegaran. Tema budaya dan kesenian adalah kedua tema yang mendominasi berbagai festival tersebut. Dilatarbelakangi kondisi tersebut, maka sebuah Festival Centre baru yang memiliki tingkat fleksibilitas tinggi, connectability tinggi, memenuhi standar internasional dan atraktif merupakan fasilitas yang tepat untuk dibangun di Kota Surakarta. Mengingat letak geografis Surakarta hubungannya dengan kota-kota disekitarnya, RTRW Kota Surakarta berikut target pengembangan daerahnya, letak persebaran venue festival eksisting yang cukup banyak yang terkait oleh sebuah jalan protokoler utama Jalan Slamet Riyadi dan sifat serta karakter user pada festival-festival di Surakarta, maka pemilihan lokasi Festival Centre menjadi sangat krusial. Site yang dipilih berada di Kecamatan Purwosari, tepatnya berada di seberang Stasiun Kereta Api Purwosari dan berada diruas ujung Jalan Slamet Riyadi sebagai jalan protokler utama Surakarta dan diabatasi oleh Jalan Agus Salim sebagai jalan kolekter. Lokasi yang strategis memungkinkan Festival Centre ini dikembangkan sebagai venue utama yang mendukung fungsi-fungsi venue eksisting lain melalui konektivitas moda transportasi dan eksplorasi unsur elemen budaya yang diwujudkan melalui ekspresi visual dan non-visual untuk mengkaitkan fasilitas dengan masyarakat Kota Surakarta sendiri. Pendekatan arsitektur event digunakan untuk membantu proses perancangan agar menjadi lebih responsif terhadap kebutuhan rill dan karakter kota, masyarakat dan penyelenggara maupun peserta festival. Melalui strategi dan prinsip perancangan dalam arsitektur event, aktraktifitas bangunan Festival Centre dapat menjadikannya sebuah festival tersendiri sekaligus memposisikannya sebagai festival generator bagi user yang beraktifitas didalamnya.

Meeting, Incentives, Conventions, and Exhibition (MICE) Tourism is one of the field in the Tourism Industry with the most promising future in Indonesia and even worldwide. It has several distinct characteristics; relatively less dependent to geographical aspects such as nature beauty and weather, and also to yearly mass tourism trend; that give MICE tourism a big possibility to be developed further in every regions in Indonesia. Surakarta City is one of the main destination cities for MICE Tourism in Indonesia since 2009. Furthermore, it is also entitled as Design-based Creative City in 2013. The city has shown a great effort in developing its MICE tourism industry in the form of various government policies that supports all sorts of monthly and yearly tourism events organized and promoted collectively and effectively by the government and the city society. Parallel with this issue, Surakarta well-known city branding, Solo: The Spirit of Java is also often be seen as a successful factor that advantage the city promotion agenda. Concluded from the list of events held in Surakarta along 2014 and 2015, Festival appears as the most happening kind of MICE events in the city. Taking place in various vital and historically venues such as Taman Sriwedari, Taman Balekambang, Jalan Slamet Riyadi, and Pura Mangkunegaran, those activities are dominated by cultural and art themes. Based on this condition, a brand new festival centre with a great level of flexibility and connect-ability coping with international safety standard will be a very attractive solution to answer the city future needs. By taking consideration on Surakarta geographical position towards several key cities in its surroundings and its city development policies, diverse locations of city existing festival venues that happens to be indirectly lining up along Jalan Slamet Riyadi and user characteristic analysed on various festival held in Surakarta, selecting the best location for the brand new Solo Festival Centre becomes a major priority. The selected site located in Purwosari; in the opposite of Purwosari Railway Station and being bordered by Jalan Slamet Riyadi as Surakarta main street and by Jalan Agus Salim as the city secondary major street to be precise; held a key point to the successful of the facility. This prime and strategic location allows Solo Festival Centre to be programmed and developed further to function as the city main festival venue or the festival hub that supports existing festival venues in Surakarta through integrated transportation connectivity to all existing festival venues. Finally, through a creative exploration of various cultural elements that lived in the cultural-rich society that later being expressed in visual and non-visual methods, the festival centre is expected be able to express and represent the true spirit of Surakarta festivals. The Event Architecture Approach is used to enrich the programming and designing process and to help it become more responsive toward the city development needs and its original characteristics. Through a strategic design process guided by the event architecture approach methods, the new Solo Festival Centre will be something beyond just an attractive festival facility as its appearance will also be a festival that will be function as a festival generator that generate even more festivals for its user.

Kata Kunci : Solo, Festival Centre, Pusat Festival, Pagelaran, Arsitektur, Purwosari, Pertunjukkan

  1. S1-2015-312874-abstract.pdf  
  2. S1-2015-312874-bibliography.pdf  
  3. S1-2015-312874-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2015-312874-title.pdf