Pelatihan ASPIRASI dapat meningkatkan kemampuan empati pada staf LAPAS
ANNISA AZIZA, Dr. Neila Ramdhani, M.Si.,M.Ed
2015 | Tesis | S2 Psikologi ProfesiLembaga Pemasyarakatan (LAPAS) merupakan komunitas yang unik dan berbeda dari masyarakat umum dalam berbagai cara. Lingkungan LAPAS yang terisolasi tidak hanya berdampak negatif pada kesehatan mental dari WBP tetapi juga berdampak terhadap kesehatan mental para staf. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh dari pelatihan ASPIRASI terhadap kemampuan empati. Pelatihan ini dinamakan ASPIRASI yang dirancang menjadi sebuah intervensi yang menggabungkan psikoedukasi tentang stres, pelatihan kompetensi sosial dan personal, dan mengatasi kelelahan fisik dan emosi para staf LAPAS. Partisipan penelitian ini adalah staf LAPAS dan penelitian ini menggunakan desain eksperimen kuasi untreated control group design with dependen pretest postest sample. Analisis kuantitatif menggunakan Independent Samples t-test. Hasil menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada skor empati antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (t=2,341;p<0,05). Pelatihan ASPIRASI terbukti dapat meningkatkan kemampuan empati staf LAPAS dengan kontribusi sebesar 67%. Kata kunci: Program ASPIRASI, Pengelolaan stres; Staf LAPAS; Empati
Penitentiary (Prison) was a unique community that is different from a general community in a variety of ways. The isolated environment of a prison did not only create a negative impact on the mental health of inmates but also on the mental health of the staff. The purpose of this study was to examine the effect of ������¢���¯���¿���½���¯���¿���½ASPIRASI������¢���¯���¿���½���¯���¿���½ training on the skill of empathy. The training called ������¢���¯���¿���½���¯���¿���½ASPIRASI������¢���¯���¿���½���¯���¿���½ (Atasi Stres Pilihan Kerja Staf Efektif) was designed to be an intervention that combines psychoeducation about stress, training of social and personal competence, and overcoming physical and emotional exhaustion of the prison staff. The subjects of this study was prison staff. The study used quasi-experimental design of untreated control group with dependen pretest postest with follow-up sample. A Quantitative analysis was conducted using Independent Samples t-test. A qualitative analysis was carried out based on the results of interviews, training evaluation and the implementation of the training observations. The results show that there was significant difference in empathy scores between experimental group and control group (t=2.431; p<0.05). ASPIRASI training proven to increase the empathy of Staff with contribution of 67 %.
Kata Kunci : Program ASPIRASI, Pengelolaan stres,Staf LAPAS, Empati