POLITIK PENGEMBANGAN PARTISIPASI: PELAJARAN DARI KIPRAH PAK TOBA
DESIANA RIZKA F, Prof. Purwo Santoso, M.A, Ph.D
2015 | Skripsi | S1 ILMU PEMERINTAHAN (POLITIK DAN PEMERINTAHAN)Demokrasi merupakan ruh yang hendak diwujudkan di berbagai lini, yang salah satunya dapat diwujudkan melalui partisipasi. Partisipasi dipercaya sebagai sarana untuk memfasilitasi masyarakat dalam menyuarakan kepentingannya, sehingga kelak masyarakat dapat memetik manfaatnya. Akan tetapi, tatanan ideal ini pastilah akan berpulang pada elit pemimpin karena keabsahan jabatan dan wewenang yang melekat padanya. Kewenangannya memberikan peluang baginya untuk menjadikan partisipasi sebagai arena berpolitik sang elit. Ia berpeluang menyandera partisipasi atau bisa pula berjalan beriringan mengembangkan partisipasi, dan juga ikut memetik manfaat dari proses yang ia motori. Berdasarkan gambaran tersebut, penelitian ini berusaha untuk mengungkap kompleksitas realita bekerjanya wacana partisipasi, yang asumsinya oleh massa dan peran elit dalam (menggerakkan) partisipasi, dan secara simultan memetik manfaat dari proses yang ia motori. Dengan menggunakan nalar kegiatan ekonomi, penelitian ini berusaha mengelaborasi penggunaan nalar Pak Toba dalam memproduksi pengaruh (membangun asset), distribusi (channeling dan marketing), dan mengkonsumsi bantuan yang masuk atas hasil kerjanya. Untuk menunjang penelitian, berbagai sumber data telah digunakan oleh peneliti berasal dari observasi, analisa dokumen, serta hasil wawancara dengan elit dan masyarakat lokal maupun mitra. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa elit pemimpin menggunakan nalar ekonomi pada berbagai tindakannya. Elit tidak menjadikan partisipasi sebagai muatan yang merepotkan, namun justru menjadikannya sebagai arena berpolitik untuk mewujudkan visi elit. Atas dorongan ini, elit menggunakan kuasanya untuk memproduksi asset berupa kelompok masyarakat dan peta rencana tata kawasan. Untuk menjamin efiensi, politisasi partisipasi terlihat manakala elit 'mengkondisikan partisipasi' assetnya dengan cara menempatkan orang-orang yang bisa diajak playon. Langkah ini tidak dapat dilacak dengan mudah. Hal yang terjadi justru berbeda, kedua asset tersebut dianggap sebagai bukti betapa tinggi partisipasi warga sehingga Housing Resource Centre (HRC) menobatkan Dusun Serut sebagai dusun percontohan bidang partisipasi dan pertanian organik. Berdasarkan pengamatan peneliti, Pak Toba selaku elit pemimpin memainkan peran dalam membangun jaringan dan memasarkan asset dengan baik. Ia menjadi garda terdepan dalam berhubungan dengan mitra. Kepiawaiannya saat memasarkan asset berhasil menutupi cara kerjanya, yaitu dengan 'memperlihatkan' besarnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Akhirnya beliau pun memanen berkah berupa banyaknya bantuan mitra dan juga popularitas pribadi selaku pemimpin yang bervisi dan partisipatif. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memperkaya studi tentang elit dan partisipasi. Kekuasaan elit menstruktur peluang untuk mempolitisasi partisipasi. Elit tidak hanya bisa mesetting partisipasi dalam mewujudkan visi, akan tetapi elit bisa menunggangi partisipasi dalam rangka sirkulasi diri. Disinilah dimensi yang terabaikan dari partisipasi dapat dikuak melalui penelitian ini.
Democracy as a spirit of governing can be developed in implementing participation. People believe that participation can facilitate people to give their aspiration, and they will get the benefit of participation. However, the ideal of an order will lead back to governing elites due to their power and authority. Their authority gives a chance to make participation as their political arena. He is able to tie up participation or hand in hand develop participation, and he will get a lot of benefits. This research will give explain the complexity during participation developing by people's power, and unfortunately elite will get the benefit. By using economic thought, this research wants to elaborate Toba's thought about producing influence (developing asset), distribution (by channeling and marketing), and also consuming donation. To support this research, researcher gathered data from observation, document analysis, and in depth interview with elite and society, and also partner. The result of the research will explain how governing elite use his power and economic reasoning in all of his ways. Elite did not think that participation as a troublesome charges, otherwise he makes it for his political arena for realization his vision. Because of that reason, elite use his power to create assets i.e group of society and roadmap. To ensure the efficiency, we can see there's politicization participation when elite 'ensure the participation' by put the right man on the strategic place. We cannot see the step easily. The different reality occurred when Housing Resource Centre (HRC) declared Serut Village as organic farming a participatory village because of those asset. Depends on researcher's observation, Toba as governing elite made linkage and also 'sells' those asset well. Until now he is always being a good frontline who maintains good relationship with partner. He has a good attitude when he 'sells' those asset, and he shows technical participation of his society. Because of his strategy, he can cover up the politicization participation between those asset. And the end of his action, he (and his society) get a lot of donation and programs, and also self-popularity as innovative and participatory leader. We hope this research will enrich the study about elite and participation. The power of elite structured opportunity for politicization participation. Elite not only can set the participation for realizing his vision, but elite also get a free ride out of participation for himself. The slighted of participation have pronounced in this research.
Kata Kunci : Kiprah Elit, Partisipasi, Sirkulasi Elit