SIMULASI ALIRAN PASIEN RAWAT INAP UNTUK MENGURANGI BOTTLENECK DI RS BETHESDA
THOMAS SONNY S, Anna Maria Sri Asih, S.T., M.M., M.Sc., Ph.D
2014 | Skripsi | TEKNIK INDUSTRIAlur pasien yang buruk dapat merugikan pasien, mengurangi kepuasan pasien, mengurangi nama baik rumah sakit, dan menambah biaya karena inefisiensi dalam menggunakan sumber daya karyawan. RS Bethesda merupakan RS dengan kualitas baik di Yogyakarta yang masih mengalami inefisiensi. Rawat inap di RS Bethesda dibandingkan dengan rawat jalan memiliki alur yang lebih panjang dan lebih rumit sehingga menimbulkan berbagai masalah, diantaranya bottleneck di dalam sistem. Bottleneck yang sering terjadi di alur rawat inap adalah proses pendaftaran pasien (admisi) dan proses kepulangan pasien (discharge). Di dalam kedua proses tersebut lokasi yang berpengaruh adalah radiologi, laboratorium, admisi, kamar, dan farmasi. Alternatif solusi bottleneck dalam alur pasien rawat inap antara lain penjadwalan shift, alokasi jumlah pekerja, penjadwalan visit dokter, penggunaan teknologi baru, dan optimasi tata letak. Namun solusi yang dipilih dalam penelitian ini adalah penjadwalan shift karyawan dan alokasi jumlah karyawan. Solusi ini dipilih karena solusi tersebut merupakan solusi yang paling feasible dengan keterbatasan yang ada. Penelitian ini dilakukan dengan memodelkan sistem rawat inap RS Bethesda menggunakan software ProModel. Model sistem nyata diverifikasi dan divalidasi menggunakan uji Mann-Whitney untuk membuktikan bahwa model dan sistem nyata tidak ada perbedaan signifikan. Pembuatan model skenario alur pasien rawat inap RS Bethesda dibuat 2 model skenario, yaitu skenario 1 menyeimbangkan utilitas karyawan dan meminimalkan waktu tunggu dengan mengubah distribusi persebaran karyawan tiap shift tanpa mengubah jumlah awal karyawan. Skenario 2 yang mencari jumlah karyawan terbaik dengan hiring dan firing hingga mencapai waktu tunggu minimal dan utilitas yang seimbang. Berdasarkan dari penelitian didapatkan 2 skenario rekomendasi kepada pihak RS Bethesda. Skenario 1 merupakan solusi yang feasible karena tidak memerlukan hiring pekerja namun sudah dapat memperbaiki sistem yang ada dengan mengurangi waktu tunggu pasien sebesar 110,6 menit (15%) dan waktu terhambat pasien sebesar 184 menit (15,9%). Namun perbaikan yang dihasilkan skenario 1 inferior dibandingkan dengan skenario 2. Skenario 2 mampu mengurangi waktu tunggu pasien 423,6 menit (57%) dan waktu terhambat pasien sebesar 281 menit (24%) dengan menambah 4 petugas pada farmasi. Penambahan pekerja merupakan solusi yang memberatkan. Kedua skenario tersebut dapat menjadi pertimbangan pihak RS Bethesda dengan membandingkan keuntungan dan kerugian masing – masing skenario.
Bad patient flow can decrease customer’s satisfaction, delay patient time, and deliver bad reputation to the hospital, and increase cost because of resource inefficiency. RS Bethesda is one of bonafide hospital at Yogyakarta which have inefficiency problems. Inpatient system have longer and more complex flow than outpatient system, so they have more problems such as bottleneck in the system. The bottleneck in inpatient system mostly happens at admission process and discharge process. At those processes, the influencing workstations are radiology, laboratorium, admission, beds, and pharmacy. There are solutions in inpatient system such as worker scheduling, worker alocation, physician visit time scheduling, new technology application, and layout optimization. However, only worker scheduling and worker alocation are the chosen solutions because they are feasible with the limitation of the constraints. This research is done by building a model of inpatient system using ProModel software. Later, the model is verified and validated with Mann-Whitney test to prove the different between model and real system is insignificant. Afterward, make the optimization scenario of RS Bethesda inpatient system. There are 2 model scenarios, the first scenario is balancing the worker utility and minimizing waiting time by changing the distribution of worker at their shift without changing the total number of workers. The second scenario is searching the best number of workers until reaching the minimal waiting time. Based on this research, there are 2 recommendations to RS Bethesda. Scenario 1 which is without changing the number of worker, can reduce inpatient waiting time by 110,6 minutes (15%) and reduce blocked time by 184 minutes (15,9%). However, the improvement of scenario 1 is inferior than scenario 2. Scenario 2 requires 5 new worker for pharmacy to reduce patient waiting time by 423,6 minutes (57%) and reduce blocked time by 281 minutes (24%). These 2 scenarios’s gains and losses should be considered for better improvement to RS Bethesda.
Kata Kunci : bottleneck, waktu tunggu, alokasi pekerja, utilitas, rumah sakit, rawat inap, permodelan, simulasi