Laporkan Masalah

Evaluasi penerapan result-based management :: Studi pada program Ancors-LSM Yappika

SILVA, Elisabeth Novira da, Wakhid Slamet Ciptono, MBA., MPM., Ph.D

2010 | Tesis | S2 Magister Manajemen

Konsep Result-based Management banyak diadopsi oleh LSM/Omop yang berafiliasi dengan lembaga internasional seperti CIDA, PBB, ADB. Konsep manajemen berbasis hasil ini dapat digunakan sebagai bagian dari manajemen strategik, mulai dari perencanaan sampai evaluasi program. Penelitian ini merupakan studi kasus, pada LSM Yappika khusus program ANCORS. Penelitian ini diadakan untuk mengetahui kendala dalam penerapan RBM serta kunci sukses program ANCORS. Metode pengumpulan data menggunakan FGD. Hasil FGD yang melibatkan 7 staff internal Yappika yang berperan dalam program ANCORS merumuskan bahwa penerapan RBM merniliki kendala dalam implementasi di lapangan. Mitra Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) Yappika banyak yang belum mengenal RBM dan pada awalnya kesulitan dalam menghubungkan aktivitas kerja dengan capaian hasil serta menuliskan laporan. Dengan monitoring yang cukup intens kendala ini berhasil diatasi. Kunci sukses program ANCORS selain dari kegiatan monitoring adalah esensi program yaitu peningkatan kapasitas OMS dan waktu pelaksanaan program saat masyarakat Aceh sedang mengalami masa transisi dari era konflik menuju era perdamaian dan demokrasi. Prinsip subsidiary yang terinternalisasi dalam Yappika juga memungkinkan program ini berhasil karena dengan prinsip ini Yappika dan partnernya berdiri sejajar dan bekerja sama dalam prinsip kesetaraan. Hasil FGD juga berhasil merumuskan pembelajaran yang dapat diperoleh dari penerapan RBM, yaitu dibutuhkannya kapasttas minimal individu yang terlibat dan faktor kepemimpinan yang kuat.

Result-based Management approach has been adopted by many local NGO. especially NGO that affiliated with International NGO like CIDA, UN, ADB. RBM can be used as a tool in management strategic from program planning up to program evaluation. This research is a case study on NGO Yappika for ANCORS program. Research conducted to find out potential constraint in REM implementation and key success factor of ANCORS. Using FGD to gather information from 7 internal staffs Yappika, who have roles in ANCORS program, the research can summarize REM implementation constraint at the field during program initiation. Many Yappika 's Civil Society Organization (CSO) partners didn 't know about REM and have difficulties in relating the activity to outcome achievement and writing the report. Intense monitoring have been conducted to manage these constraints. Besides intense monitoring, program content-focus on strengthening CSO capacity- is also categorized as key success factor of ANCORS along with program timing when the people of Aceh were in transition era from conflict to peace and democration era. Subsidiary values that internalized within Yappika also contribute in program success factor. This value makes Yappika and its partners cooperate in egalitarianism. FGD also formulate lesson learnt of REM implementation, that is the need of individual minimum capacity and strong leadership.

Kata Kunci : RBM,Kendala,Kunci sukses program,LSM,FGD,Monitoring,Kepemimpinan

  1. S2-FEB-2010-ElisabethNoviraDaSilva-Abstract.pdf  
  2. S2-FEB-2010-ElisabethNoviraDaSilva-Bibliography.pdf  
  3. S2-FEB-2010-ElisabethNoviraDaSilva-Tableofcontent.pdf  
  4. S2-FEB-2010-ElisabethNoviraDaSilva-Title.pdf