Korelasi perubahan kadar laktat, glukosa dan nilai SID (Strong Ion Difference) dengan outcome pasien pasca Kraniotomi
SUYASA, Agus Baratha, Dr. Sri Rahardjo, SpAn
2006 | Tesis | PPDS I Anestesiologi dan ReanimasiLatar Belakang : Jaringan tubuh memiliki kebutuhan yang berbeda terhadap glukosa. Otak memiliki kebutuhan yang paling besar terhadap glukosa. Otak sangat rentan terhadap iskemia yang menunjukkan bahwa otak memiliki laju metabolik yang tinggi. Mekanisme injury iskemia adalah perubahan biokimia dan perubahan fisiologis yang terjadi karena ganguan sirkulasi. Perubahan-perubahan tersebut seperti : (1) Hilangnya phospat energi tinggi, (2) Asidosis karena proses anaerob yang menghasilkan laktat dan (3) No Reflow karena oedem otak. Penggunaan kadar laktat sebagai indikator iskemia jaringan, telah banyak dilakukan dalam berbagai penelitian. Hasil-hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kadar laktat dapat digunakan sebagai penanda awal untuk memprediksi resiko komplikasi, mortalitas post operatif dan kejadian MOF (Multiple Organ Failure). Belakangan banyak dibicarakan mengenai hubungan perubahan SID dengan outcome klinis yang buruk. Gangguan asam basa yang terjadi pada iskemia otak terjadi karena perubahan SID. Penelitian-penelitian terbaru menunjukkan SID sebagai prediktor kuat terhadap outcome pasien pada trauma pembuluh darah besar dan mortalitas pada malaria berat. Tujuan : Untuk mengetahui hubungan antara perubahan kadar laktat, kadar glukosa dan nilai SID (Strong Ion Difference) terhadap outcome pasien pasca kraniotomi. Metode : Tiga puluh tiga pasien yang mengalami cedera kepala (Traumatic Brain Injury), baik EDH, SDH maupun ICH. Umur minimal 15 tahun dengan GCS antara 8 – 12. Status fisik ASA I, II, III yang akan menjalani operasi kraniotomi baik elektif maupun emergensi. Seluruh pasien dilakukan pemasangan kateter vena (Venocath) pada vena jugularis interna untuk pengambilan sample darah. Sampel darah awal diambil sebelum operasi sebagai data dasar (darah rutin, elektrolit, GDS, Bun, Creatinin, AGD, Laktat). Untuk operasi semua pasien diberikan fentanyl 2 μg /KgBB i.v, induksi dengan thiopental 5 mg/KgBB i.v dan fasilitas intubasi memakai rokuronium 0,6 mg/KgBB, pemeliharaan dengan O2, Isofluran dan fentanyl intermiten 1 μg/KgBB i.v. Penganbilan sampel darah berikutnya dilakukan post operatif (hari ke-0), hari ke-1,2 dan 3. Diamati kecendrungan perubahan nilainya. Skor APS dihitung setiap hari.
Background : Each body tissues have different needs of glucose. The brain has highest dependency of glucose. This makes its very susceptible to ischemia that shows it has high metabolic rate. Mechanism of injury lay on biochemist and physiologic changes because of circulatory derangement. The changes are : (1) Lost of high energy phosphate, (2) Acidosis occur by anaerobic metabolism that produce lactate, and (3) No Reflow, because cerebral edema. The use of blood lactate level as the indicator of tissue ischemia, has been done in many research. The results of those research shows that lactate level as the early sign to predict complication risk, post operative mortality and incident of multiple organ failure (MOF). Recently many research rummage around for relation between strong ion difference (SID) and poor clinical outcome. Acid base derangement in ischemic brain injury occur with changes in SID. The result of some study shows SID as a strong predictor for patient outcome in major vessel trauma and mortality in severe malaria. Objective : The objective is to know the relation between the changes of lactate level, glucose and SID towards outcome of post craniotomy patients. Methods : Thirty three traumatic brain injury patients as well as EDH, SDH, ICH, minimum age 15 years old, GCS 8 to 12 with physical status ASA I, II, III undergoing elective or emergency craniotomy will be observe. We put the jugular internal vein catheter, to collect the blood sample. First blood sample was collect before surgery as the baseline data (Hb, L, E, Hct, Plt, electrolyte, BSR, BUN, Cr, BGA, Lactate). Craniotomy is perform with administer fentanyl 2 μg/KgBW i.v, induction by way of thiopental 5 mg/KgBB i.v and rocuronium 0,6 mg/KgBW i.v. Maintenance by O2, isoflurane and intermittent fentanyl 1 μg /KgBW. Furthermore blood sample is collecting post operative (as zero day), first, second and third days. We observe the trend. APS (Acute Physiologic Score) is record everyday.
Kata Kunci : Kraniotomi,Kadar Laktat dan Glukosa,SID, Lactate, Glucose, SID, Post Craniotomy Outcome