Laporkan Masalah

Representasi Politik Dalam Manga : Analisis Diskursus Kritis Visual terhadap Konflik Identitas dalam Manga Attack on Titan Volume 21-34

Yazid Naufal Aqil, Prof. Dr. Amalinda Savirani, S.I.P., M.A

2026 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHAN

Penelitian ini menganalisis representasi konflik identitas dalam manga Attack on Titan, karya Hajime Isayama, dengan fokus pada arc Marley dan War for Paradis (Volume 23 - 24). Attack on Titan dipilih karena menawarkna representasi yang kompleks mengenai produksi, pemeliharaan, dan internalisasi sistem dominasi identitas melalui medium visual, suatu aspek yang masih jarang dieksplorasi dalam kajian budaya populer Jepang, khususnya di ranah akademis di Indonesia. Analisis menyoroti konstruksi hierarki sosial antara kelompok Eldian dan Marley yang tidak hanya dibangun melalui kekerasan eksplisit, tetapi juga melalui penandaan identitas, segregasi spasial, serta produksi wacana ancaman yang pada akhirnya diinternalisasi oleh kelompok yang paling dirugikan oleh sistem tersebut.

Penelitian ini menggunakan Teori Tiga Dimensi Kekuasaan Steven Lukes sebagai kerangka analitis utama. Kerangka ini memungkinkan analisis bergerak secara runtut dari tindakan institusional yang kasatmata menuju kekuasaan ideologis yang bekerja melalui pembentukan kesadaran subjek dari dalam. Teori identitas Stuart Hall digunakan secara komplementer untuk menjelaskan mekanisme representasional yang konkret, khususnya mengenai bagaimana artikulasi tanda, naturalisasi perbedaan, dan polarisasi identitas mengoperasionalkan setiap dimensi kekuasaan tersebut dalam teks visual. Secara metodologis, penelitian ini menggunakan pendekatan Critical Visual Discourse Analysis (CVDA) dengan tiga fungsi visual Kress dan van Leeuwen sebagai instrumen analisis: fungsi representasional untuk mengidentifikasi bagaimana aktor sosial diposisikan dalam panel, fungsi interpersonal untuk menganalisis bagaimana relasi pembaca dengan karakter dibangun melalui sudut pandang dan jarak pengambilan gambar, dan fungsi komposisional untuk membaca bagaimana penataan ruang panel memproduksi makna tentang hierarki sosial.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa dominasi identitas dalam Attack on Titan dibangun melalui arsitektur kekuasaan berlapis. Pada dimensi pertama, dominasi diwujudkan melalui instrumen institusional yang nyata, seperti segregasi spasial di Liberio Internment Zone, penandaan fisik dengan armband, dan program prajurit yang membungkus paksaan dalam bahasa kehormatan. Pada dimensi kedua, kekuasaan dijalankan melalui pengendalian agenda visibilitas, di mana narasi tandingan Eldian hanya beredar di ruang bawah tanah, sedangkan narasi resmi Marley mendominasi ruang publik tanpa perlu pembenaran. Pada dimensi ketiga, kekuasaan bekerja melalui pembentukan kesadaran subjek yang dikuasai dari dalam, sebagaimana tercermin pada Gabi Braun yang meyakini sistem yang menindas dirinya, Reiner Braun yang kehilangan kemampuan membedakan identitasnya, dan Zeke Yeager yang merancang rencana eutanasia Eldian dengan logika yang serupa dengan sistem yang ia lawan. Temuan ini menegaskan bahwa Attack on Titan merepresentasikan secara sistematis bagaimana dominasi mereproduksi dirinya hingga ke lapisan terdalam subjektivitas individu, serta menunjukkan bahwa medium manga memiliki kapasitas analitis yang signifikan sebagai objek kajian sosial-politik.


This research analyzes the representation of identity conflict in the manga Attack on Titan by Hajime Isayama, focusing on the Marley and War for Paradis arcs (Volumes 23–34). Attack on Titan was chosen because it offers a complex portrayal of the production, maintenance, and internalization of identity domination systems through visual media,an aspect that remains underexplored in popular Japanese cultural studies, particularly within academic discourse in Indonesia. The analysis highlights the construction of social hierarchy between the Eldian and Marley groups, which is built not only through explicit violence but also through identity marking, spatial segregation, and the production of threat discourses that are ultimately internalized by those most disadvantaged by the system.

This research employs Steven Lukes’s Three Dimensions of Power Theory as the primary analytical framework. This framework enables the analysis to move systematically from visible institutional actions toward ideological power operating through the internal formation of the subject’s consciousness. Stuart Hall’s identity theory is utilized as a complementary framework to explain concrete representational mechanisms, specifically regarding how the articulation of signs, the naturalization of differences, and the polarization of identities operationalize each dimension of power within the visual text. Methodologically, this study adopts a Critical Visual Discourse Analysis (CVDA) approach utilizing Kress and van Leeuwen’s three visual functions as analytical instruments: the representational function to identify how social actors are positioned within panels, the interpersonal function to analyze how reader-character relationships are constructed through perspectives and shot distances, and the compositional function to interpret how layout and panel arrangements produce meanings about social hierarchy.

The findings indicate that identity domination in Attack on Titan is constructed through a multi-layered architecture of power. In the first dimension, domination is realized through tangible institutional instruments, such as spatial segregation in the Liberio Internment Zone, physical marking with armbands, and the warrior program that disguises coercion in the language of honor. In the second dimension, power operates through control of the visibility agenda, whereby counter-narratives from the Eldians circulate only in underground spaces, while Marleyan official narratives dominate public space without requiring justification. In the third dimension, power functions through the internal formation of the subject’s consciousness, as reflected in Gabi Braun, who believes in the system that oppresses her; Reiner Braun, who loses the ability to distinguish his own identity; and Zeke Yeager, who devises the Eldian euthanasia plan using logic similar to the very system he opposes. These findings assert that Attack on Titan systematically represents how domination reproduces itself down to the deepest layers of individual subjectivity and demonstrate that manga, as a medium, possesses significant analytical capacity as an object of socio-political inquiry.

Kata Kunci : manga, konflik identitas dan kekuasaan, kajian politik dan budaya, critical visual discourse analysis / manga, identity and power conflicts, political and cultural studies, political representation

  1. S1-2026-492987-abstract.pdf  
  2. S1-2026-492987-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-492987-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-492987-title.pdf