Relasi Sosial Anak Asuh dan Proses Pembentukan Identitas Sosial di Rumah Pengasuhan Anak Wiloso Projo Kota Yogyakarta
Rosyida Sausan Hanan, Nurul Aini, S.Sos., M.Phil.
2026 | Skripsi | Sosiologi
Penelitian ini mengkaji bentuk dan dinamika relasi sosial anak asuh dengan pengasuh dan teman sebaya serta pemaknaan pengalaman tersebut dalam proses pembentukan identitas sosial di Rumah Pengasuhan Anak Wiloso Projo, Kota Yogyakarta. Penelitian ini berangkat dari pemahaman bahwa kehidupan anak dalam lembaga pengasuhan tidak hanya berkaitan dengan status sebagai anak asuh, tetapi juga dipengaruhi oleh pengalaman relasi sosial dan latar belakang kehidupan yang membentuk cara mereka memahami posisi dan keanggotaannya dalam lingkungan sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi transendental Moustakas. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Analisis menggunakan Relational Models Theory dari Fiske untuk memahami pola relasi sosial, perspektif interseksionalitas Kimberle Crenshaw untuk memahami perbedaan pengalaman berdasarkan persilangan posisi sosial, serta Social Identity Theory dari Tajfel dan Turner untuk menganalisis pembentukan identitas sosial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa relasi dengan teman sebaya mencakup kebersamaan, kepercayaan, dan saling membantu, tetapi juga diwarnai dominasi, konflik, dan batas kelompok. Relasi dengan pengasuh menghadirkan perhatian, pendampingan, dan pemenuhan kebutuhan, sekaligus aturan, pengarahan, pengawasan, dan kewenangan. Pengalaman tersebut dimaknai secara berbeda berdasarkan latar belakang keluarga, pengalaman sebelum memasuki RPA, usia, gender, lama tinggal, dan posisi anak dalam relasi sosial. RPA dapat dimaknai sebagai tempat yang memberikan rasa aman dan kedekatan, tetapi tidak serta-merta menggantikan arti keluarga asal. Identitas sosial sebagai anak asuh tidak terbentuk secara otomatis dari status di RPA, melainkan dimaknai dan dinegosiasikan melalui pengalaman diterima, ketidaknyamanan, serta hubungan dengan lingkungan sosial. Proses ini juga berkaitan dengan cara anak membayangkan kehidupan dan posisi sosial yang ingin dicapai pada masa depan, termasuk dalam hubungannya dengan keluarga asal. Dengan demikian, RPA merupakan ruang pengasuhan sekaligus ruang sosial tempat anak memaknai dan menegosiasikan identitas sosialnya melalui pengalaman saat ini dan gambaran kehidupan yang ingin diwujudkan pada masa depan.
This study examines the nature and dynamics of the social relationships between foster children and their caregivers and peers, as well as how these experiences are interpreted in the process of social identity formation at the Wiloso Projo Children’s Home in Yogyakarta. This study is based on the understanding that the lives of children in residential care facilities are not only related to their status as foster children, but are also influenced by their social relationships and life experiences, which shape the way they understand their position and sense of belonging within their social environment. This study employs a qualitative method using Moustakas’s transcendental phenomenological approach. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation. The analysis drew on Fiske’s Relational Models Theory to understand patterns of social relations, Kimberlé Crenshaw’s intersectionality framework to understand differences in experience based on the intersection of social positions, and Tajfel and Turner’s Social Identity Theory to analyze the formation of social identity.
The research findings indicate that relationships with peers involve camaraderie, trust, and mutual support, but are also characterized by dominance, conflict, and group boundaries. Relationships with caregivers involve attention, guidance, and the fulfillment of needs, as well as rules, direction, supervision, and authority. These experiences are interpreted differently based on family background, experiences prior to entering the RPA, age, gender, length of stay, and the child’s position within social relationships. The RPA can be seen as a place that provides a sense of security and closeness, but it does not automatically replace the significance of the child’s biological family. Social identity as a foster child is not automatically formed by one’s status at the RPA, but is interpreted and negotiated through experiences of acceptance, discomfort, and relationships with the social environment. This process is also related to how children envision the life and social position they wish to achieve in the future, including in relation to their birth families. Thus, RPA serves as both a space for upbringing and a social space where children make sense of and negotiate their social identities through their current experiences and their vision of the life they wish to lead in the future.
Kata Kunci : relasi sosial, identitas sosial, anak asuh, pengasuhan alternatif, interseksionalitas