Pengaruh Tingkat Kelelahan terhadap Niat Melanjutkan Kerja pada Pengemudi Ojek Online di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Framing Insentif Kerja sebagai Variabel Moderator
Maria Yolanda Elisabeth Turnip, Ir. Budhi Sholeh Wibowo, S.T., M.T., PDEng., IPM., ASEAN.Eng.
2026 | Skripsi | TEKNIK INDUSTRI
Pertumbuhan gig economy pada ekosistem ride-hailing memberikan kebebasan jam kerja bagi pengemudi ojek online, namun di sisi lain mendorong durasi kerja panjang yang berisiko menyebabkan kelelahan fisik dan kognitif. Di saat yang sama, platform digital menerapkan algorithmic management melalui notifikasi insentif dengan pembingkaian (framing) informasi (reward vs. punishment) untuk mempertahankan ketersediaan tenaga kerja harian. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh tingkat kelelahan terhadap niat melanjutkan kerja pengemudi ojek online di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), serta menganalisis peran framing insentif kerja sebagai variabel moderator.
Penelitian kuantitatif ini menerapkan Experimental Vignette Methodology (EVM) dengan desain faktorial 2x3 within-subject. Data diperoleh melalui kuesioner eksperimen berbasis skenario dan disaring menggunakan prosedur manipulation check. Dari 105 responden awal, sebanyak 29 responden dinyatakan valid (memenuhi kriteria kelolosan minimal 4 dari 6 skenario), menghasilkan 174 unit observasi. Data dianalisis menggunakan Moderated Regression Analysis (MRA) dengan mengontrol karakteristik individual responden.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kelelahan berpengaruh negatif signifikan terhadap niat melanjutkan kerja (B = -1,466; p < 0>Reward Framing secara independen meningkatkan niat melanjutkan kerja (B = 0,690; p = 0,022), sedangkan Punishment Framing terbukti tidak signifikan (p = 0,301). Namun, interaksi keduanya terbukti tidak signifikan (p > 0,005), menandakan Framing Insentif Kerja tidak memoderasi hubungan antara Kelelahan dan Niat Melanjutkan Kerja.
Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis berupa bukti empiris mengenai pengaruh tingkat kelelahan terhadap niat melanjutkan kerja pada pengemudi ojek online di DIY dengan reward framing yang terbukti berperan langsung, bukan sebagai variabel moderator. Implikasi praktis penelitian ini merekomendasikan platform untuk menghentikan insentif yang berbentuk skema bonus (reward) dan mengoptimalkan tanpa pemberian insentif ataupun insentif yang bersifat ancaman (punishment) guna meredam niat melanjutkan kerja pengemudi.
The growth of the gig economy in the ride-hailing ecosystem provides flexible working hour for online motorcycle taxi drivers, but on the other hand, encourages long working hours that risk causing physical and cognitive fatigue. At the same time, digital platforms apply algorithmic management through incentive notifications with information framing (reward vs. punishment) to maintain daily workforce availability. This study aims to examine the impact of fatigue levels on the intention to continue working among online motorcycle taxi drivers in the Special Region of Yogyakarta (DIY), as well as to analyze the role of work incentive framing as a moderator variable.
This quantitative research applies the Experimental Vignette Methodology (EVM) with a 2x3 within-subject factorial design. Data were obtained through a scenario-based experimental questionnaire and filtered using a manipulation check procedure. Out of 105 initial respondents, 29 respondents were declared valid (meeting the passing criteria of a minimum of 4 out of 6 scenarios), yielding 174 units of observation. The data were analyzed using Moderated Regression Analysis (MRA) by controlling for respondents' individual characteristics.
The results indicate that fatigue levels have a significant negative effect on the intention to continue working (? = -1,466; p < 0 xss=removed xss=removed xss=removed> 0.005), indicating that "Work Incentive Framing" does not moderate the relationship between fatigue and the intention to continue working.
This research provides a theoretical contribution by offering empirical evidence on the influence of fatigue levels on the intention to continue working among online motorcycle taxi drivers in DIY, with reward framing acting as direct factor rather than a moderating variable. The practical implications of this research recommend platforms to stop using bonus-based incentives (reward), instead optimize without incentives or using threat-based incentives (punishment) to effectively dampen the drivers' intention to continue working.
Kata Kunci : Kelelahan Kerja, Framing Effect, Algorithmic Management, Niat Melanjutkan Kerja, Gig Economy, Moderated Regression Analysis