Analisis Pengelolaan Piutang Retribusi Penempatan Awal Sebagai Lain-Lain Pendatan Asli Daerah Yang Sah
Naufal Rahman Baihaqi, Mukhlis, S.E., M.Acc.
2026 | Tugas Akhir | D4 Akuntansi Sektor Publik
Penelitian
ini bertujuan menganalisis pengelolaan dan perlakuan piutang Retribusi
Penempatan Awal (RPA) sebagai bagian dari Lain-Lain Pendapatan Asli Daerah yang
Sah, mengidentifikasi kendala pengelolaannya, serta menganalisis dampak piutang
yang belum terselesaikan pada Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Kabupaten
Temanggung. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan
metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dengan
pengelola pasar, BPKPAD, dan pedagang, serta observasi dan dokumentasi. Data
dianalisis melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, sedangkan
kendala dipetakan menggunakan diagram fishbone. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa piutang RPA merupakan hak tagih historis yang telah direklasifikasi dari
kelompok retribusi ke Lain-Lain PAD yang Sah dan tetap dicatat sebagai aset
sampai diselesaikan atau dihapus sesuai ketentuan. Pengelolaannya mencakup penatausahaan,
penagihan melalui Surat Tagihan I–III, pembayaran menggunakan Surat Tanda
Setoran (STS), serta penyegelan pada objek tertentu. Saldo piutang RPA turun
dari Rp4.438.408.472 pada 2023 menjadi Rp3.699.208.472 per Februari 2026.
Piutang berusia lebih dari tiga tahun tergolong macet untuk tujuan penyisihan,
tetapi tidak otomatis dihapuskan. Pelaksanaan tahapan utama secara umum
mengikuti petunjuk teknis, meskipun sebagian kelengkapan dokumen dan tahapan
lanjutan belum dapat diverifikasi. Kendala pengelolaan meliputi kompetensi
petugas yang belum merata, usia piutang dan perubahan kebijakan, penatausahaan
yang belum terintegrasi, keterbatasan dukungan operasional penagihan, serta
kondisi ekonomi dan keberadaan penanggung utang. Piutang yang belum terselesaikan
berdampak pada penerimaan daerah yang belum terealisasi, berlanjutnya proses
administratif, konsekuensi penagihan hingga penyegelan, dan persepsi
ketidakadilan di antara pedagang, tetapi tidak ditemukan dampak langsung
terhadap operasional dan pemeliharaan pasar.
This
study analyzes the management and accounting treatment of Initial Placement
Levy (Retribusi Penempatan Awal, RPA) receivables as Other Legitimate Locally
Generated Revenue, identifies management constraints, and examines the impacts
of outstanding receivables at the Department of Cooperatives, Small and Medium
Enterprises, and Trade of Temanggung Regency. A descriptive qualitative
case-study approach was used. Data were obtained through semi-structured
interviews with market administrators, regional financial officials, and
traders, together with observation and document review. Data were reduced,
displayed, and interpreted, while constraints were mapped using a fishbone
diagram. Findings show that RPA receivables are historical claims reclassified
from levy revenue to Other Legitimate Locally Generated Revenue and remain
assets until settled or written off under applicable regulations. Management
includes recordkeeping, three successive collection notices, payments using
Deposit Slips (Surat Tanda Setoran, STS), and sealing of selected market units.
The outstanding balance declined from IDR 4,438,408,472 in 2023 to IDR
3,699,208,472 in February 2026. Receivables older than three years are
classified as non-performing for allowance purposes but are not automatically
written off. Main procedures generally follow the technical guidelines,
although some documentation and subsequent stages remain unverified.
Constraints include uneven staff competence, aged receivables and policy
changes, non-integrated recordkeeping, limited collection resources, and
debtors' financial circumstances and availability. Outstanding receivables lead
to unrealized local revenue, continuing administrative work, warnings and
sealing affecting traders, and perceived unfairness, but no direct effects on
market operations and maintenance were identified.
Kata Kunci : Retribusi Penempatan Awal, Lain-Lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah, Pengelolaan Piutang, Diagram Fishbone, Pasar Daerah.