Analisis Percepatan Pekerjaan Bore Pile Berdasarkan Data Produktivitas Lapangan (Studi Kasus Proyek Steel Structure Dome Coal)
Nur Hikmah Nur, Ir. Tantri Nastiti Handayani, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM.
2026 | Skripsi | TEKNIK SIPIL
Pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional menuntut penyelesaian pekerjaan sesuai jadwal agar kendalan sistem kelistrikan nasional dapat tetap terjaga. Salah satu proyek yang termasuk dalam kategori tersebut adalah Proyek Steel Structure Dome Coal, yang merupakan fasilitas pendukung operasional PLTU Suralaya sebagai salah satu pembangkit listrik terbesar pada sistem interkoneksi Jawa-Madura-Bali. Pekerjaan bore pile sebagai tahap pondasi proyek tersebut mengalami keterlambatan yang dignifikan, yaitu diselesaikan dalam 134 hari kerja atau 19 minggu, sedangkan jadwal rencana menetapkan penyelesaian pada minggu ke-12 dengan deviasi kumulatif mulai bernilai negatif pada minggu ke-8. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis produktivitas aktual pekerjaan bore pile, merancang skenario percepatan berdasarkan data produktivitas lapangan, serta menghitung durasi dan biaya yang dihasilkan setiap skenario.
Dalam penelitian ini, produktivitas dihitung sebagai volume terpasang dibagi orang-jam untuk pekerjaan pembesian dan dibagi alat-jam untuk pekerjaan pengeboran dan pengecoran. Data diuji normalitasnya dengan metode kemencengan dan keruncingan, kemudian produktivitas standar dihitung dari persentil ke-25, ke-50, dan ke-75 distribusi t untuk mewakili kondisi pesimis, medium, dan optimis. Dua skenario percepatan disimulasikan melalui iterasi penambahan sumber daya, yaitu Skenario 1 sejak Minggu 1 dan Skenario 2 mulai Minggu 8, lalu dihitung biaya percepatan masing-masing skenario tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan nilai produktivitas aktual dari pekerjaan pengeboran, pembesian, dan pengeboran berturut-turut adalah 0,78 m/AJ, 4,47 kg/OJ, dan 0,96 m3/jam. Kemudian dengan menggunakan software IBM SPSS diketahui data produktivitas aktual berdistribusi normal dan bisa digunakan untuk simulasi skenario percepatan. Hasil simulasi kedua skenario berhasil mencapai durasi kontrak dengan penambahan 12 OH tenaga kerja dan 1 unit alat bor, dengan durasi 11,94 minggu dan biaya percepatan sebesar Rp618.109.340,41 atau 12,02% terhadap biaya normal untuk Skenario 1. Dan penambahan 11 OH tenaga kerja dan 2 unit alat bor, dengan durasi 11,98 minggu dan biaya percepatan sebesar Rp403.872.506,92 atau 7,85% lebih besar dari biaya normal untuk Skenario 2 .Dengan durasi yang hampir setara, Skenario 2 lebih unggul daripada Skenario 1 karena menuntut tambahan biaya Rp214.236.833,49 lebih rendah dengan risiko jadwal yang lebih terkendali.