Memaknai Diri melalui Proses Refleksi: Studi mengenai Praktik Ber-Makeup Laki-Laki Muda di Era Modernitas Lanjut
Nusa Kinasih, Oki Rahadianto Sutopo, Ph.D
2026 | Skripsi | Sosiologi
Penelitian ini mengkaji fenomena praktik ber-makeup pada laki-laki muda di Yogyakarta, sebuah ruang urban tempat bercampurnya berbagai kebudayaan, pelestarian tradisi, juga pengembangan budaya modern yang sama kuatnya. Di satu sisi, praktik ini kerap distigmatisasi oleh masyarakat sebagai bentuk kelabilan masa transisi pemuda atau kepatuhan pasif terhadap tren. Oleh karena itu, persoalan utama penelitian ini berfokus untuk membedah bagaimana laki-laki muda merefleksikan pengalaman ketubuhannya dan memaknai makeup dalam membentuk narasi identitas diri mereka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan narasi biografi untuk mengeksplorasi pengalaman hidup empat informan secara mendalam. Kerangka analisis dibangun menggunakan teori globalisasi, konsep the reflexive project of the self dan critical momen, juga perspektif sosiologi kepemudaan.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa praktik ber-makeup bukanlah wujud konsumsi pasif, melainkan instrumen aktif dari agensi para informan. Melalui refleksivitas, wajah diposisikan sebagai proyek diri yang otonom. Pemaknaan yang dihasilkan pun beragam, mulai dari wujud kedewasaan profesional, deklarasi otoritas tubuh di ruang publik, medium pencapaian autentisitas diri yang utuh, hingga sarana negosiasi kepuasan estetika. Keberanian dan kemapuan mereka dalam menghadapi risiko sosial secara tegas membantah pandangan masyarakat yang memosisikan pemuda sebatas pada fase becoming. Sebaliknya, mereka membuktikan eksistensinya sebagai subjek being yang berdaya. Meski demikian, penelitian ini juga menemukan adanya paradoks. Di satu sisi, laki-laki muda ber-makeup berhasil mengambil alih otoritas tubuhnya di hadapan norma gender lokal yang kaku, namun di sisi lain, perlahan terperangkap dalam ekspektasi standar maskulinitas global.
This study examines the phenomenon of makeup use among young men in Yogyakarta, an urban space where diverse cultures intermingle, traditions are preserved, and modern culture develops with equal vigor. On the one hand, this practice is often stigmatized by society as a form of youthful instability during a transitional phase or as passive conformity to trends. Therefore, the main focus of this study is to examine how young men reflect on their bodily experiences and interpret makeup in shaping their narratives of self-identity. This study employs a qualitative method using a biographical narrative approach to explore the life experiences of four informants in depth. The analytical framework is built using globalization theory, the concepts of the “reflexive project of the self” and “critical moments,” as well as a sociological perspective on youth.
The research findings indicate that the practice of wearing makeup is not a form of passive consumption, but rather an active instrument of the informants’ agency. Through reflexivity, the face is positioned as an autonomous project of the self. The resulting interpretations are diverse, ranging from a manifestation of professional maturity, a declaration of bodily authority in public spaces, a medium for achieving complete self-authenticity, to a means of negotiating aesthetic satisfaction. Their courage and ability to confront social risks decisively refute the societal view that positions young men merely as being in a phase of “becoming.” Instead, they prove their existence as empowered subjects of “being.” Nevertheless, this study also uncovers a paradox. On the one hand, young men who wear makeup successfully reclaim authority over their bodies in the face of rigid local gender norms; on the other hand, they are gradually becoming trapped by the expectations of global standards of masculinity.
Kata Kunci : identitas diri, refleksivitas, makeup, maskulinitas, modernitas lanjut