Ketinggian Wilayah dan Lingkungan Rumah sebagai Faktor Risiko terhadap Stunting pada Anak di Kulon Progo, Yogyakarta: Studi Mixed Method Explanatory Sequential
DINA FITRIANA ROSYADA, Dr. Toto Sudargo, SKM, M.Kes; Prof. dr. Indah Kartika Murni, M.Kes,Sp.A (K), Ph.D
2026 | Disertasi | S3 Kedokteran Umum
Latar Belakang: Stunting merupakan
manifestasi kegagalan pertumbuhan linear yang bersifat multidimensi. Kabupaten
Kulon Progo memiliki karakteristik geografis yang beragam, namun angka kejadian
stunting masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan.
Tujuan: Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor determinan yang berpengaruh
signifikan terhadap kejadian stunting melalui pendekatan metode campuran (mixed
methods).
Metode: Penelitian menggunakan
desain explanatory sequential mixed methods. Data kuantitatif diperoleh
dari 114 responden balita dan dianalisis menggunakan regresi logistik melalui
SPSS. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap 20
informan untuk mengeksplorasi mekanisme kausalitas yang ditemukan pada tahap
kuantitatif.
Hasil: Hasil penelitian kuantitatif
menunjukkan prevalensi stunting dalam sampel sebesar 33,3%. Analisis regresi
menunjukkan ada dua faktor risiko utama yang signifikan secara statistik: Berat
Badan Lahir Rendah (BBLR) (p = 0,016; OR = 4,800) dan riwayat Infeksi Saluran
Pernapasan Akut (ISPA) (p = 0,040; OR = 4,562). Variabel ketinggian wilayah,
sarana sanitasi, dan riwayat kesehatan ibu saat hamil tidak menunjukkan
pengaruh signifikan secara statistik (p > 0,05). Temuan kualitatif mengungkap
bahwa BBLR berakar pada defisit nutrisi kronis ibu sejak masa remaja dan beban
kerja fisik yang berat. Risiko ISPA dipicu oleh paparan polusi domestik
termasuk asap rokok dan asap industri rumahan gula jawa. Anak dengan kondisi
BBLR dan ISPA tidak selalu berakhir stunting apabila orang tua mampu mengejar
pertumbuhan gizi anak dan menghindarkan atau menghilangkan paparan asap
domestik.
Kesimpulan: Stunting di lokasi penelitian terjadi melalui sinergi antara kerentanan biologis pasca-lahir dan akselerasi morbiditas akibat infeksi pernapasan. Intervensi kebijakan harus difokuskan pada penguatan kesehatan prakonsepsi ibu untuk menekan angka BBLR dan perbaikan kualitas udara dalam ruangan untuk mengurangi beban penyakit infeksi pada balita.
Background: Stunting is a multidimensional manifestation of linear growth
failure resulting from chronic undernutrition. Although Kulon Progo Regency
possesses diverse geographic characteristics, stunting prevalence remains a
significant and persistent public health challenge in the region.
Objective: This study aims to analyze the determinant factors significantly
influencing stunting in Kulon Progo through a mixed-methods approach.
Methods: The research employed an explanatory sequential mixed-methods
design. Quantitative data were collected from 114 toddler respondents and
analyzed using logistic regression. Subsequently, qualitative data were
gathered through in-depth interviews to explore the causal mechanisms behind
the quantitative findings.
Results: Quantitative results revealed a stunting prevalence of 33.3% within
the sample. Logistic regression identified two primary statistically
significant risk factors: Low Birth Weight (LBW)
(p = 0,016; OR = 4,800) and a history of Acute Respiratory Infection
(ARI) (p
= 0,040; OR = 4,562$). Conversely, altitude,
sanitation facilities, and maternal health history during pregnancy did not
exhibit statistically significant influences (p<0>). Qualitative findings
clarified that LBW is rooted in chronic maternal nutritional deficits since
adolescence and heavy physical labor during pregnancy. Furthermore, the high
risk of ARI is driven by persistent domestic air pollution, including cigarette
smoke and emissions from home-based palm sugar production. Children with low
birth weight (LBW) and acute respiratory infections do not always end up
stunted if parents are able to monitor their child's nutritional growth and
avoid or eliminate exposure to domestic smoke.
Conclusion: Stunting in the study area occurs through a synergy between post-birth biological vulnerability (LBW) and accelerated morbidity due to chronic respiratory infections (ARI). Policy interventions should prioritize strengthening maternal preconception health to reduce LBW rates and improving indoor air quality to mitigate the infectious disease burden on toddlers.
Kata Kunci : Ketinggian wilayah, Stunting, BBLR, ISPA, Mixed Methods, Kulon Progo.