Laporkan Masalah

Praktik Manajemen Berbagi Fasilitas pada Kampus Terpadu Multilevel Yayasan Assalafiyyah Mlangi

Nabilah 'Ishmatunni'mah, Prof. Ir. Achmad Djunaedi, MURP., Ph.D.; Prof. Ir. Ikaputra, M.Eng., Ph.D.

2026 | Tesis | S2 MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN TINGGI

Keterbatasan lahan, tingginya biaya pembangunan dan pemeliharaan, serta meningkatnya kebutuhan pengguna mendorong lembaga pendidikan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya melalui praktik berbagi fasilitas. Praktik tersebut menjadi semakin kompleks pada kampus terpadu multilevel berbasis pesantren karena melibatkan berbagai jenjang pendidikan dengan kebutuhan, jadwal, karakteristik pengguna, dan intensitas penggunaan yang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan praktik manajemen berbagi fasilitas, mengidentifikasi tantangan, menganalisis mekanisme kelembagaan dan operasional yang mendukung maupun menghambat efektivitasnya, serta merumuskan prinsip perbaikan dan rekomendasi yang kontekstual di Yayasan Assalafiyyah Mlangi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap enam informan, observasi, dan telaah dokumen. Analisis data dilakukan melalui kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagi fasilitas dilakukan secara internal lintas jenjang dengan tujuh aspek utama, yaitu visi dan nilai, perencanaan, kebijakan, penjadwalan, mekanisme akses, pengelolaan, dan pemeliharaan. Praktik tersebut didukung oleh nilai-nilai kepesantrenan, hubungan kelembagaan yang kuat, sistem pengelolaan terpusat, serta koordinasi informal. Tantangan utama meliputi koordinasi antarunit, rendahnya rasa kepemilikan bersama, ego kelembagaan, heterogenitas pengguna, dan dinamika pendataan aset. Mekanisme informal memberikan fleksibilitas, tetapi menghadapi keterbatasan ketika penggunaan semakin kompleks, terjadi konflik kepentingan, koordinasi di luar jam kerja, atau terjadi pergantian pengelola. Penelitian merekomendasikan penguatan tata kelola dengan tetap mempertahankan nilai lembaga, terutama prioritas berdasarkan kebutuhan kegiatan, pemisahan pengguna berdasarkan jenis kelamin sesuai norma yang berlaku di pesanten, dan kesesuaian fasilitas dengan kegiatan.

Limited land, high construction and maintenance costs, and increasing user needs encourage educational institutions to optimize the use of resources through the practice of sharing facilities. This practice becomes increasingly complex in a multilevel integrated campus based on pesantren because it involves various levels of education with diverse needs, schedules, user characteristics, and intensity of use. This study aims to describe the practice of facility sharing management, identify challenges, analyze institutional and operational mechanisms that support or hinder its effectiveness, and formulate contextual principles of improvement and recommendations at the Yayasan Assalafiyyah Mlangi. The research uses a descriptive qualitative approach. Data was obtained through in-depth interviews with six informants, observation, and document review. Data analysis was carried out through data condensation, data presentation, and conclusion drawn. The results of the study show that facility sharing is carried out internally across levels with seven main aspects, namely vision and values, planning, policy, scheduling, access mechanisms, management, and maintenance. These practices are supported by institutional values, strong institutional relationships, centralized management systems, and informal coordination. The main challenges include coordination between units, a lack of a sense of ownership, institutional ego, user heterogeneity, and asset data collection dynamics. Informal mechanisms provide flexibility, but face limitations when use is increasingly complex, conflicts of interest occur, coordination outside working hours, or changes of managers. Research recommends strengthening governance while maintaining institutional values, especially priorities based on activity needs, separation of users by gender according to the norms applicable in the pesanten, and the suitability of facilities with activities.

Kata Kunci : berbagi fasilitas, manajemen fasilitas, manajemen fasilitas kampus, kampus terpadu multilevel

  1. S2-2026-508603-abstract.pdf  
  2. S2-2026-508603-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-508603-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-508603-title.pdf