Martabat Pasien Psikiatri dalam Pelayanan Rumah Sakit: Studi Bioetika dan Etika Organisasi di Suatu Rumah Sakit Jiwa Daerah
Maria Devi Arianti, Prof. Dr. dr. Mubasysyr Hasanbasri, M.A; Dr. Dra. Retna Siwi Padmawati, M.A
2026 | Tesis | MAGISTER BIOETIKA
Pasien psikiatri merupakan kelompok
rentan yang sering kali menghadapi ancaman terhadap hak-hak dasarnya selama
menjalani perawatan di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk: (1)
Mengidentifikasi pemaknaan konsep dan komponen martabat pasien psikiatri serta
keluarganya oleh lintas profesi tenaga kesehatan dan manajemen; (2)
Mengeksplorasi secara mendalam manifestasi lima bentuk perendahan martabat
pasien dalam praktik pelayanan sehari-hari; dan (3) Membedah pengaruh kondisi
etika organisasi terhadap risiko ancaman martabat pasien di RSKD Jiwa. Studi
kualitatif dengan desain studi kasus ini melibatkan 16 informan kunci yang
merepresentasikan unsur dokter spesialis jiwa, perawat terdepan, apoteker,
manajer pelayanan pasien (case manager), kepala ruang, serta jajaran komite
klinis (medik, mutu, etik) dan manajemen rumah sakit. Data dihimpun melalui
wawancara mendalam serta diskusi berbasis 7 kasus vignette, kemudian dianalisis
secara tematik menggunakan pendekatan induktif dan deduktif.Hasil penelitian
mengungkap adanya disintegrasi pemaknaan konsep martabat; manajemen memandang
martabat secara utilitarianadministratif, sedangkan petugas terdepan
memaknainya secara relasional-praktis, sementara pemenuhan martabat keluarga
pasien masih dikesampingkan. Lebih lanjut, perendahan martabat pasien terbukti
termanifestasi nyata ke dalam lima bentuk tindakan operasional sehari-hari:
kekerasan fisik dan verbal, fiksasi mekanis berkepanjangan akibat ketiadaan
obat penenang, bias diagnostic overshadowing (pengabaian klinis fisik),
kelangkaan obat psikotropika esensial secara kronis, serta pola komunikasi satu
arah yang tidak transparan kepada keluarga. Kondisi etika organisasi yang
patologis terbukti melanggengkan risiko ancaman ini melalui lumpuhnya
implementasi SOP keselamatan, bertahannya budaya menyalahkan (blame culture)
yang menghambat pembelajaran sistemik, tingginya distres moral petugas terdepan
akibat keterbatasan logistik obat, serta peran case manager yang terdistorsi
secara reaktif-korektif pasca-insiden, alih-alih bertindah preventif sejak fase
admisi awal pasien.
Psychiatric patients represent a
vulnerable group that frequently faces threats to their fundamental rights
during hospital care. This study aims to: (1) Identify the conceptualization
and components of dignity for psychiatric patients and their families as
perceived by cross-professional healthcare workers and management; (2) Deeply
explore the manifestations of five forms of patient dignity degradation in
daily care practices; and (3) Dissect the influence of organizational ethics
conditions on the risk of threats to patient dignity at RSKD Jiwa. This
qualitative study employed a case study design involving 16 key informants,
representing psychiatrists, frontline nurses, pharmacists, case managers, ward
heads, clinical committees (medical, quality, ethics), and hospital management.
Data were gathered through in-depth interviews and discussions based on 7
vignette cases, and subsequently analyzed thematically using inductive and
deductive approaches. The results reveal a disintegration in the conceptualization
of dignity; management views dignity through a utilitarian-administrative lens,
whereas frontline staff perceive it relationally and practically, while the
fulfillment of the patient's family's dignity remains marginalized.
Furthermore, the degradation of patient dignity is visibly manifested in five
forms of daily operational actions: physical and verbal abuse, prolonged
mechanical restraint due to the absence of sedatives, diagnostic overshadowing
bias (neglect of physical clinical care), chronic shortages of essential
psychotropic medications, and a one-way, non-transparent communication pattern
with families. Pathological organizational ethics conditions are proven to
perpetuate these threat risks through the paralysis of safety SOP
implementations, the persistence of a blame culture that hinders systemic
learning, high moral distress among frontline staff due to logistical
medication shortages, and the distorted role of case managers who act
reactively-correctively postincident rather than preventively from the initial admission
phase.
Kata Kunci : Martabat Pasien, Bioetika, Etika Organisasi, Rumah Sakit Jiwa, Diagnostic Overshadowing, Blaem Culture/ Patient Dignity, Bioethics, Organizational Ethics, Mental Hospital, Diagnostic Overshadowing, Blame Culture