Laporkan Masalah

Studi Fenomenologi Etika Penggunaan Aplikasi Pesan Instan untuk Komunikasi Medis Dokter dan Perawat di Rumah Sakit

Ahmad Haviz, dr. Agung Dewanto, Sp.OG., Subsp. F.E.R., PhD; Prof. Dra. R.A. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., PhD

2026 | Tesis | MAGISTER BIOETIKA

Penggunaan aplikasi pesan instan seperti WhatsApp untuk komunikasi medis di rumah sakit meningkat pesat, namun praktik ini berisiko terhadap kerahasiaan data pasien. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pola praktik dan dinamika penggunaan WhatsApp oleh tenaga medis, serta menganalisis persepsi mereka terkait risiko etis dan hukum. 
Penelitian kualitatif fenomenologi ini dilaksanakan di dua rumah sakit, yaitu Rumah Sakit Daerah Tipe B dan Rumah Sakit Pusat Tipe A. Subjek penelitian dipilih melalui purposive sampling, melibatkan sepuluh informan yang terdiri atas dokter spesialis, dokter residen, dokter umum, dan perawat. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan dianalisis secara tematik menggunakan aplikasi NVIVO. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi, member checking, dan peer debriefing. 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa WhatsApp telah menjadi infrastruktur komunikasi utama akibat keterbatasan sistem Rekam Medis Elektronik (RME). Praktik ini memicu dilema etis yang memunculkan tiga tipologi pandangan moral tenaga medis, yaitu reflektif-protektif, pragmatis-akademis, dan eksekutor-adaptif. Ketiadaan pedoman formal institusi menyebabkan terjadinya normalisasi penyimpangan. Disimpulkan bahwa penggunaan WhatsApp merupakan jalan pintas etis yang didorong oleh altruisme demi keselamatan nyawa pasien. Saat ini, perlindungan privasi data pasien sangat bergantung pada integritas moral tenaga kesehatan secara individu.

The use of instant messaging applications like WhatsApp for medical communication in hospitals has increased rapidly, yet this practice poses risks to patient data confidentiality. This study aims to explore the practice patterns and dynamics of WhatsApp usage by medical personnel, and to analyze their perceptions regarding ethical and legal risks. 
This qualitative phenomenological study was conducted in a Type-B Regional Hospital and a Type-A Central Hospital. Subjects were selected through purposive sampling, involving ten informants consisting of attending specialists, resident physicians, general practitioners, and nurses. Data were collected through semi-structured in-depth interviews and analyzed thematically using the NVIVO application. Data trustworthiness was maintained through triangulation, member checking, and peer debriefing. 
The results indicate that WhatsApp has become the primary communication infrastructure due to Electronic Medical Record (EMR) limitations. This practice triggers ethical dilemmas, revealing three typologies of medical personnel's moral views: reflective-protective, pragmatic-academic, and executor-adaptive. The absence of formal institutional guidelines leads to the normalization of deviance. In conclusion, using WhatsApp is an ethical workaround driven by altruism for patient safety. Currently, patient data privacy protection relies heavily on the individual moral integrity of healthcare professionals.

Kata Kunci : bioetika, WhatsApp, komunikasi medis, kerahasiaan data, normalisasi penyimpangan

  1. S2-2026-528892-abstract.pdf  
  2. S2-2026-528892-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-528892-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-528892-title.pdf